Kupeluk hatimu

Ke manakah ‘ku ‘kan melangkah?
Jalan kita tak tentu arah
Hidup yang pernah kupahami
Terjaga di sampingmu

Andaikan waktu memihakku
Jangan cepat semua berlalu
Apa yang pernah kita lalui
Mulai terurai sepi

Menepilah sejenak, kekasihku
Berikan ruang untuk rindu
Sehingga reda deru ragumu
‘Kan kupeluk hatimu

Tak pernah terbayang ‘kan tiba
Lelah membuat kita lupa
Apa yang pernah kita jaga
Tak berarti akhirnya

Menepilah sejenak, kekasihku
Berikan ruang untuk rindu
Sehingga reda deru ragumu
‘Kan kupeluk hatimu

Menepilah sejenak, kekasihku
Berikan ruang untuk rindu
Sehingga reda deru ragumu
‘Kan kupeluk hatimu

Kembalilah ke masa itu
Ketika pertama bertemu
Di mana cinta hentikan waktu
Dan kau peluk hatiku

Ketika cinta hentikan waktu
Dan kau peluk hatiku

Song : David
Lyrics : Ariel, David, Rian D’MASIV, Noe LETTO, Marchella FP, Aan Mansyur
Album : Keterkaitan Keterikatan

Advertisements

To be, or not to be

To be, or not to be” atau “Menjadi, atau tidak menjadi” adalah ungkapan pembuka dari sebuah monolog yang diucapkan oleh Pangeran Hamlet dalam “adegan biara” dari drama William Shakespeare Hamlet, Babak 3, Adegan 1. Dalam pidato tersebut, Hamlet merenungkan tentang kematian dan bunuh diri, mengeluhkan rasa sakit dan ketidakadilan hidup tetapi mengakui bahwa alternatifnya mungkin lebih buruk. Ungkapan ini adalah salah satu baris yang paling dikenal dan dikutip dalam bahasa Inggris modern, dan solilokuinya telah dirujuk dalam karya teater, sastra, dan musik yang tak terhitung banyaknya.

Hamlet banyak berbicara — tentang bunuh diri, tetapi yang benar-benar dia pedulikan sebenarnya adalah kefanaan, dan fakta bahwa dunia kita dibangun dari kematian dan kebusukan. Dari konfrontasi awal Hamlet dengan hantu orang mati hingga pertumpahan darah terakhir, pertanyaan besarnya adalah: jika kita semua mati pada akhirnya, apakah benar-benar penting siapa yang membunuh kita — dan kapan?

Membicarakan kematian, tepat pada tanggal 4 Juni 2019 saya divonis oleh tim medis RS Unair bahwa ada masalah pada pencernaan saya yang mengharuskan tindakan operasi perut secara laparatomi (prosedur yang membuat irisan vertikal besar pada dinding perut ke dalam rongga perut). Prosedur ini memungkinkan dokter melihat dan mengobservasi secara langsung organ dalam dan membuat diagnosis apa yang salah. Ditambah lagi dokter berujar, jika operasi tidak dilakukan – maka resiko amat fatal dan mengakibatkan kematian.

Ini sebuah hal besar, setidaknya bagi saya. Namun mengingat rasa sakit yang tidak terkira, ditambah lagi dengan resiko kematian yang semakin besar jika prosedur operasi tidak diambil, maka saya mengikhlaskan diri ini untuk menjalankan tindakan ini. Toh “innalillahi wa innailaihi rojiun” prinsipku saat itu, kita ini bukan milik kita. Jika pun saat itu adalah waktuku “kembali”, maka itu lah waktu terbaikku untuk kembali ke Sang Pemilik Waktu.

I’m not in the mood to write actually…
Alunan lagu You and Me-nya Lifehouse melatarbelakangi suasana di sini.

Cause it’s you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to lose
And it’s you and me and all of the people
And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you
All of the things that I want to say just aren’t coming out right
I’m tripping on words
You’ve got my head spinning
I don’t know where to go from here

Mungkin tulisan ini akan kulanjutkan lain waktu.
Atau tidak sama sekali.

……

Ternyata, menjadi manusia yang baik itu tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Menjadi manusia yang bermanfaat itu tidak mudah. Menjadi manusia yang berkualitas itu tidak mudah. Semakin kupelajari, semakin kusadari bahwa peran diri kita di dalam sebuah kemanfaatan, peningkatan kualitas, amat lah kecil. Terlalu banyak faktor eksternal yang mempengaruhi bagaimana seseorang menjalankan hidupnya.

Apapun itu, aku mensyukuri apapun yang ku jalani dan ku alami. Tidak sedetikpun hidup ini patut disesali. Semuanya berjalan begitu indah dalam perspektif-Nya. Tinggal bagaimana kita mengadjust cara pandang kita dalam mengamati ini semua.

Much love and God bless!

The most important things in life

Life is brief, and the most precious things can quickly become lost.
Sometimes, outside circumstances cause that loss. Occasionally, we induce ourselves to lose the things that mean the most to us.

Whether a life-changing circumstance happens or you momentarily do something out of nature that leads to irretrievable damage, you often only realize what you had once it’s gone.

That’s why you need to guard some fundamental aspects of your life with an emotion that can’t be tamed.

Our lives and priorities are all complexes. However, there are precious things in life that are pretty much common.

I would say that the most essential thing in your life is you. A healthy, loved, happy, spiritually rich, fearless, determined you. Have that version of yourself as your life’s vision, and never stop chasing it.

Family
Our relationships are the most essential things in the world. They’re the most crucial factor for happiness and, in combination with your calling, tend to be our reasons to live. For most, the family is at the top of the list in terms of values and priorities.

Sometimes, it’s easy to disregard just how much family signifies to us. They’re the people we typically live with, and it’s hard to live with another person – no matter how much we like them. Love gives way to frustration and sometimes…we feel like we hate the other person.

However, your family is irreplaceable and precious, so you have to devote your time and energy to nurture those valuable relationships, not just for the sake of your relatives, but also for your own.

Friends
Good friends are hard to come by, so when you find one, you need to do everything you can to nurture that relationship.

A great friend can become like family. You forge an inseparable bond with someone whom you know, you can always count on — no matter how dark things get. A good friend is a confidant, a shoulder to lean on, and sometimes the voice of reason for us.

Always remember how lucky you are to have found someone you can genuinely call a good friend.

Love
Love includes friends and family, your calling, and intimate relationships. But it also provides everything else you love and all your encounters with others. It consists of those things you enjoy doing, the stories you grew up with, and the kind interactions with strangers that remind you of the love that exists in the world.

These can seem like separate, unrelated things, but they are opportunities to experience love in its varying forms. Experiencing love can give our life a sense of meaning and purpose, like something else…

Your sense of meaning
It’s your passion, your muse. Your calling gives your life purpose and furnishes you with a feeling of vitality that makes everything more relaxed and more enjoyable. This is also how you make a difference.

Your calling is your life’s work. It’s your legacy. To find what you have a passion for, and to pursue that passion, is to find the vehicle you’ll use to contribute your greatness to the world.

Health
This is one of those “you don’t know how much it means until it’s gone” type things. Many people will skip over this point, not giving it a second thought.

However, once you have even a single small health complication, you’ll know precisely just how important this is. At the first sign of difficulties, you realize that everything is jeopardized by bad health.

With good health, you can spend more time with friends and family, enjoy the love in your life, and follow your passion to your heart’s content. With bad health…you eventually, lose it all. So, take care of your health, so you have more time to enjoy the other most important things in your life.

In theory, that’s the most essential things in our lives. However, the problem will become more complicated when there is a conflict between one crucial thing and another. How about when a person in our family has a problem with our friends in another place. Or what if when nurturing family, we actually lose love, or ourselves?

Here is why life is so exciting. Because many exciting things in life actually are things that we have not known before. Because it is the mystery in life that actually becomes an “effectual recipe” for an extraordinary experience.

Selamat ulang tahun mama

Tepat 65 tahun silam, tanggal 21 Juni 1954 ibuku dilahirkan di dunia ini. Seorang perempuan yang kemudian tumbuh dan besar menjadi seorang wanita multi talenta yang melahirkan dan membesarkanku serta memberikan makna cinta untuk pertama kalinya padaku.

Tidak pernah sedetikpun aku meragukan ketulusan cinta darinya untukku. Tidak kala ku masih dalam timangan, tidak pula saat ini. Saat dimana aku hanya terbujur di tempat tidur rumah sakit yang keras ini dengan selang-selang yang menempel pada tubuhku.

Dari dia lah aku mengenal tentang kepribadian seorang wanita. Tangguh, mandiri, bertanggung jawab, supportive. Yang mana ternyata merupakan hal yang langka ditemukan pada wanita-wanita jaman now. Atau mungkin saja karena aku yang ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita-wanita yang berbeda karakter dengan ibuku.

Yang pasti, di hari ulang tahunnya ini tidak ada tiupan lilin, tidak pula ada pemotongan kue, selametan potong tumpeng, pengajian dan kemudian membagi nasi berkat, dan lain sebagainya. Hanya ada aku dan dia, berdua menghabiskan waktu bersama. Aku di ranjang pasien, dan dia meringkuk di lantai beralaskan selimut tipis dengan niatan menemani anak lelaki satu-satunya yang divonis wajib rawat inap untuk kedua kalinya dalam bulan Juni ini saja.

Ya, total ini sudah malam ke 12 kuhabiskan bermalam di rumah sakit. Lebih banyak waktu kuhabiskan tidur di rumah sakit ketimbang di rumah untuk bulan ini.

Tidak banyak yang bisa ku ucapkan untuk mu mama, selain aku benar-benar mencintaimu, dan bersyukur kepada Allah ditakdirkan menjadi anakmu yang mengalami semua proses kehidupan ini dari awal hingga saat ini bersamamu. Semoga Allah memberimu surga-Nya untuk keluasan hatimu yang seluas samudera. Untuk kesabaranmu yang tak bertepi.

Sesat pikir?

Komunikasi itu sebuah topik yang kompleks. Tidak percaya? Di bangku kuliah saja dibuatkan satu fakultas yang khusus mempelajari ilmu ini, mulai dari S1 sampai S3 bahkan hingga post doctoral.

Ironisnya banyak yang menganggap komunikasi adalah hal yang sederhana dan hanya melihat dari sisi pragmatisnya saja. Kalau tidak “konek” ya udah. Lebih parah lagi, langsung menyalahkan pihak lain sebagai pihak yang tidak mampu berkomunikasi. Tidak berusaha mempelajari apa hal yang membuat tidak “konek”nya dan mengupayakan agar koneksi atau transmisi yang tidak baik itu berjalan ke arah yang lebih baik.

Padahal sudah jelas Bernard Barelson & Garry A. Steiner dalam bukunya Human Behaviour (1964:527) mendefinisikan bahwa ”Communication: the transmission of information, ideas, emotions, skills, etc. by the uses of symbol…” (komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi).

Karena luasnya cakupan pembahasan komunikasi, kali ini aku hanya akan mengulas tentang salah satu penyebab mengapa suatu komunikasi bisa berlangsung buruk. Dan salah satu penyebabnya menurutku adalah kesesatan berpikir atau yang istilah kerennya disebut dengan logical fallacy. Menurutku komunikasi yang ideal haruslah memenuhi prasyarat tertentu, dan hal ini berangkat dari apa yang ada di dalam pikiran kita. (emangnya ada aktivitas kita yang tidak berangkat dari pikiran?)

Logical fallacy atau kesalahan logika adalah suatu pemikiran yang tidak sesuai dengan logika dan termasuk dalam kategori sesat berpikir. Orang yang menyampaikan pernyataan yang mengandung logical fallacy dapat disebut sebagai orang yang pemikirannya tersesat atau ia sedang menyesatkan orang lain untuk tujuan tertentu.

Berdasarkan referensi yang aku baca, banyak pendapat tentang macam-macam kesesatan berpikir. Kali ini aku hanya akan menuliskan beberapa saja yang menurutku cukup relevan dengan kondisi yang sering kita temukan di sekitar kita.

Ad hominem (yang berarti “tertuju pada pribadi atau karakter seseorang”), sebenarnya merupakan singkatan dari argumentum ad hominem, ini adalah upaya untuk menyerang kebenaran suatu klaim dengan menunjuk sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut.

Jadi alih-alih, menyampaikan argumentasi atas gagasan sebuah pendapat, orang menyerang pribadi atau personal lawan bicaranya. Tentu dengan tindakan ad hominem ini si penyerang berharap orang tersebut kehilangan kredibilitas. Ini ibarat mengajak orang untuk tidak membaca sebuah novel yang berkualitas, karena si penulisnya adalah pecandu narkoba misalnya.

Anecdotal; yaitu fallacy yang menggunakan pengalaman pribadi atau suatu kasus khusus bukannya menggunakan argumen atau bukti yang teruji secara ilmiah. Fallacy ini biasanya digunakan untuk membantah data statistik. Contoh: Kalau kamu tidak mau pacarmu hamil, suruh pacarmu minum jus nanas! Teman-temanku yang minum jus nanas semuanya gak hamil! Dalam realitanya, tidak demikian.

Tu Quoque; yaitu fallacy yang argumennya menjawab kritikan dengan kritikan ketika seharusnya menjawab argumen lawan. Contoh: Tina memperingatkan Agus agar tidak lagi merokok karena sudah mengalami gejala kanker paru-paru. Agus menolak hal itu karena Tina juga seorang perokok. Agus dalam kasus ini sedang melakukan fallacy jenis ini.

False dichotomy, yaitu fallacy yang argumentasinya bersifat memberikan dua alternatif pilihan saja padahal sebenarnya ada pilihan lain. Contoh: Kalo kamu tidak mendukung Jokowi, kamu pasti pendukungnya Prabowo.
Padahal tidak mendukung Jokowi bisa jadi bukan karena mendukung Prabowo, tapi karena alasan yang lain.

Contoh lainnya: Kamu terlalu berteori, kamu pasti nggak bisa praktek. Padahal banyak berteori bukan berarti tidak bisa praktek. Banyak orang yang pandai berteori dan pandai dalam praktek, dan ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang membutuhkan keakuratan teori dan penguasaan praktek yang tinggi. Artinya teori dan praktek bukanlah hal yang berlawanan. Logical fallacy lah yang menjadikannya seakan-akan berlawanan.

Bulverism, yaitu fallacy yang argumennya berpola mempertanyakan niat lawan bicara.
Contoh: Kamu posting gambar itu di IG karena kamu ingin si dia (mantan) membacanya kan?

Ini merupakan pertanyaan dari seorang yang melakukan logical fallacy. Dalam menyikapi perbedaan pendapat, apakah kita bisa tahu secara pasti motif lawan bicara kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Sering kali mungkin kita sendiri yang berprasangka buruk. Siapa tahu itu hanyalah hasil egoisme kita yang tidak mau pendapat sendiri disalahkan.

Intinya, kita seyogianya menaruh prasangka baik pada lawan bicara kita. Biarkan bukti-bukti dan bukan prasangka kita yang menilai kebenaran pendapatnya. Soal niat apa yang tersembunyi dalam hati, biarkan itu jadi urusan pribadi masing-masing.

Fallacies of Relevance
Fallacies of relevance adalah tipe logical fallacy yang paling sering ditemui. Fallacy tipe ini memiliki pernyataan atau argumentasi yang tidak sesuai dengan konklusinya. Tipe fallacy ini seringkali digunakan orang yang senang “memaksakan” pernyataannya agar terlihat logis.

Ada tujuh fallacy tipe relevance ini, yaitu:

  1. The appeal to the populace
  2. The appeal to the emotion
  3. The red herring
  4. The straw man
  5. The attack on the person
  6. The appeal to force
  7. Missing the point (irrelevant conclusion).

1. The appeal to the populace (Argumentum ad Populum); adalah fallacy yang muncul karena konklusinya mengacu pada anggapan yang bersifat popular. Contoh: Semua perokok selalu diidentikan dengan pria yang jantan. Apabila ada seorang pria tidak merokok, menurut anggapan popular (umum), pria tersebut tidaklah jantan. Ini merupakan logical fallacy.

2. The appeal to the emotion (appeal to pity); adalah fallacy yang timbul dari argumentasi pemikiran yang bersifat mengasihani, bermurah hati, ketidaktegaan atau terkait dengan hati nurani. Cirinya adalah menggunakan manipulasi perasaan (emosi) seseorang dalam berargumen daripada membuat argumen yang logis. Contoh:
A : “Si Rani hamil di luar nikah dia MBA!”
B : “Tidak mungkin, Rani orang baik. Lihat saja dia sering mengaji dan bersedekah ke anak yatim.”
Dalam hal ini B melakukan logical fallacy dengan mengikutsertakan emosi dalam memberikan tanggapan atau argumentasinya.

3. The red herring; adalah fallacy yang mengalihkan perbincangan dari permasalahan utama. Tujuannya adalah untuk membingungkan orang atau untuk mengalihkan fokus orang lain.
Perhatikan contoh percakapan berikut ini:

Jenny: “Anak perempuan lebih pintar dari pada laki-laki.“
Bento : “Oooh yaaa… Bagaimana kamu tahu?“
Jenny: “Karena memang demikian adanya.“
Bento: “Tapi bagaimana kamu tahu?“
Jenny: “Ada banyak anak perempuan yang melakukan banyak hal. Tetanggaku, si Ratna juara 1 di kelasnya; Joan of Arc menyelamatkan Perancis dari Inggris; dan Madamme Curie adalah penemu.”
Bento: “Bagaimana kamu tahu bahwa mereka lebih pintar dari laki-laki?”
Jenny: “Karena ada banyak perempuan yang ber-IQ tinggi. Karena itu mereka pintar.”
Bento: “Kamu masih belum menjawab pertanyaan saya. Mengapa perempuan lebih pintar dari laki-laki?“
Jenny: “Yaaaa.. aku pintar dan kamu dungu. Itu buktinya!“

Jelas bahwa Jenny tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Dia mengatakan hal-hal yang kedengarannya menjawab pertanyaan tetapi sebenarnya tidak sama sekali. Dia mencoba membuktikan bahwa perempuan lebih pintar daripada laki-laki. Namun akhirnya dia hanya menunjukkan bahwa beberapa perempuan memang pintar dan tidak menujukkan sama sekali berapa pintar laki-laki.

Ini tidak berarti Jenny mengatakan hal-hal yang tidak benar. Tetapi dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan “mengapa perempuan lebih pintar dari pada laki-laki?“ Kalau andaikata dia menjawab pertanyaan yang diajukan, dia dapat saja mengatakan:

Jenny: “Perempuan lebih pintar dari pada laki-laki karena terbukti bahwa IQ rata-rata perempuan lebih tinggi dari pada IQ rata-rata laki-laki.“

Saat berargumen sulit sekali untuk tidak merubah arah pembicaraan yaitu menjawab pertanyaan saat kita mengemukakan argumen. Sangat mudah mengintrodusir sesuatu yang tidak relevan dengan pembicaraan dalam argumen kita.

4. The straw man; adalah fallacy yang argumentasinya selalu menempatkan posisi “lawan” sebagai posisi yang ekstrim, mengancam, atau tidak masuk akal daripada kenyataan atau fakta yang sebenarnya terjadi. Cirinya adalah membuat interpretasi yang salah dari argumen orang lain agar lebih mudah diserang.

Contoh:
Silvi: “Gung, sudah dulu main hapenya. Akhir-akhir ini kamu terlalu sering main hape.”
Agung: “Jadi kamu ingin saya berhenti main komputer selamanya? Ingin saya terus-terusan belajar sampai stress gitu? Kamu jahat!”

Ucapan Agung merupakan logical fallacy dengan membuat interpretasi yang berbeda dengan makna pernyataan yang disampaikan oleh Silvi.

5. Argument against the person (Argumentum ad Hominem); adalah fallacy yang argumentasiya menyerang pihak (orang) tertentu yang sedang memegang peranan. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan citra pihak tertentu dengan argumentasi yang tidak didasari fakta yang jelas.

Contoh: Sarah berkata bahwa Jokowi harus jadi presiden Indonesia. Bob menjawab, “Apakah kita harus percaya dengan perkataan wanita yang sering gonta-ganti pacar, memiliki gaya rambut aneh, dan sering bangun kesiangan?”

Pertanyaan Bob di atas merupakan logical fallacy dengan berargumen yang mengaitkan pendapat Sarah dengan kepribadiannya.

6. The Appeal to Force (Argumentum ad Baculum); adalah fallacy yang argumentasinya dibekali oleh kepentingan tertentu. Kepentingan tersebut bisa berasal dari pihak-pihak yang memiliki kekuatan untuk “memaksa”.

Contoh pada pernyataan berikut.
Masyarakat memilih tokoh X karena tokoh X adalah sosok yang sempurna untuk dipilih dan beliau lah satu-satunya yang mampu membawa perubahan pada kota ini.

Argumen bahwa tokoh X merupakan sosok yang sempurna untuk dipilih dan merupakan satu-satunya yang mampu membawa perubahan pada kota ini, merupakan suatu pendapat yang dipaksakan untuk diterima atau untuk menggiring opini publik, bukan merupakan suatu alasan yang menjadi sebab yang sebenarnya. Karena itu argumen tersebut merupakan logical fallacy.

7. Missing the Point (Ignoratio Elenchi); adalah fallacy yang argumentasinya tidak terkonstruksi kuat, sehingga ketika ada bantahan dari argumentasi lain maka argumentasi awal menjadi lemah dan malah mendukung konklusi yang berbeda daripada mendukung argumentasi itu sendiri. Atau dengan kata lain premis-premis awal terbantahkan sehingga menghasilkan konklusi yang mengikuti alur argumentasi si pembantah.

Contoh: Sering terjadi ketika sidang skripsi atau tesis mahasiswa. Di mana banyak argumentasi-argumentasi dari mahasiswa yang berhasil dibelokkan oleh penguji dan akhirnya semua konklusi menjadi tidak ada esensinya.

Jika fenomena seperti ini terjadi, baik sang dosen mendebatnya secara benar ataupun secara fallacy juga, maka argumentasi dari mahasiswa tersebut mengandung kelemahan yang tidak dapat ia pertahankan sehingga akhirnya mahasiswa tersebut melakukan dalam logical fallacy dengan menerima kelemahan argumennya.