Kecewa

“Aku kecewa sama kamu” . . .

“Kamu terus menyudutkan saya, males jadinya. . . ”

“Aku Ilfil sama kamu!”

Kalimat-kalimat di atas adalah sedikit dari contoh kalimat-kalimat yang mengisyaratkan kekecewaan. Tidak terhitung lagi contoh-contoh kalimat kekecewaan lainnya yang bisa disebutkan. Entah itu berkaitan dengan urusan pribadi, urusan pekerjaan, urusan keluarga atau segala urusan lainnya.

Intinya, semua manusia dalam satu kondisi pasti pernah merasakan kekecewaan dalam dirinya.

Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang “kecewa”, alangkah lebih baiknya apabila kita mencoba memahami dulu, apakah sebenarnya kecewa itu. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata kecewa sebagai

kecewa/ke·ce·wa/ /kecéwa/ a 1 kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya); tidak senang

Di sini kita dapat melihat beberapa kata kunci yang berkaitan dengan kecewa, yaitu: kecil hati, tidak puas, keinginan, harapan dan tidak senang.

Dalam referensi yang lain, let’s say kita lihat makna kecewa (disappointed) dalam Bahasa Inggris (Oxford Dictionary):

1Sad or displeased because someone or something has failed to fulfil one’s hopes or expectations.

Di sini kita melihat beberapa kata kunci yang terkait, yaitu: Sad (sedih), displeased (tidak suka), hopes (harapan), expectations (harapan).

Dari sini saja kita bisa mencoba melihat kesamaan bahwa kecewa itu adalah suatu perasaan yang mengandung unsur, kesedihan, ketidaksukaan karena harapan atau keinginan seseorang tidak tercapai/terpenuhi. 

Karena manusia ini kodratnya adalah mahluk yang memiliki perasaan dan berkeinginan, maka sudah barang tentu setiap manusia juga tidak lepas dari kekecewaan.

Setiap saat keinginannya tidak terpenuhi, maka ia pun kecewa. Ia pun sedih dan atau tidak suka.

Lalu? ? ? Dimanakah kesalahannya?

Kalau memang kekecewaan itu adalah satu hal kodrati yang tidak lepas dari manusia, bukankah sudah seharusnya kita belajar mengatasinya?

Atau kita lebih memilih untuk mencari kambing hitam akan rasa kecewa yang kita alami dengan mencarinya di luar diri kita?

Yang kedua mungkin yang lebih populer, karena mata kita lebih mudah untuk melihat ke luar daripada kita gunakan untuk melihat ke dalam diri kita.

Namun, Sang Pencipta (Allah swt) tentunya adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Dimana Dia sebagai pencipta manusia, telah menurunkan Blue print tentang mahluk ciptaanNya dan bagaimana kita sebagai mahlukNya harus dan dapat mengatasi kekecewaan itu dalam KitabNya yang diturunkan kurang lebih 1400 tahun silam melalui perantara Nabi Muhammad Saw.

Diantaranya hal ini tertulis dalam:

وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ  ؕ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: Ayat 216)

Jadi? ? Artinya bisa jadi kekecewaan yang kita rasakan ini baik untuk kita sendiri?

Bisa ya, dan bisa tidak tentunya. Tergantung bagaimana kita melihatnya.

Kekecewaan akan menjadi hal yang baik bagi kita saat kita melihat kekecewaan itu sebagai suatu takdir yang datang dari Allah, sebuah ujian kehidupan yang dengan sendirinya akan membuat kita berinterospeksi terhadap kekurangan yang ada dalam diri kita, dimana menunjukkan betapa lemahnya diri kita sebagai mahlukNya, dimana dengan introspeksi itu maka kita manusia akan dapat mengevaluasi kekurangan dan meningkatkan kualitas diri di masa yang akan datang.

Dan kekecewaan akan menjadi hal yang buruk disaat kita menjadikan kekecewaan tersebut sebagai satu sifat pengingkaran terhadap kekuasaan Allah swt terhadap lemahnya diri kita, dimana kita akan melihat kekecewaan dari perspektif kita sebagai korban, apalagi dengan mengabaikan realita yang ada. Yang bisa jadi, pada dasarnya kekecewaan itu bersumber dari salahnya harapan atau keinginan kita sendiri. Membuat kita semakin terpuruk, berburuk sangka, dan merendahkan diri kita sendiri.

Namun, dari ayat di atas setidaknya Allah swt sudah mengisyaratkan bahwa alih-alih kita kecewa dengan apa-apa yang terjadi, lebih mulia bagi kita untuk mensyukuri apapun hal yang terjadi dalam diri kita. Karena tidak ada satu hal pun yang terjadi dalam diri kita yang lepas dari kekuasaanNya.

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.””(QS. Ibrahim: Ayat 7)

Tapi yah, namanya juga manusia.

Kadang positif, kadang negatif. Kadang ingat, kadang lupa. Lupa untuk senantiasa positive thinking, lupa untuk senantiasa bersyukur dan tentunya lupa bahwa diri kita hanyalah butiran debu diantara pasir lautan yang tak terhingga.

Yang pasti semua hal yang kita alami dalam kehidupan ini pada hakikatnya adalah sebuah rangkaian ujian kehidupan. Dimana tujuan akhirnya adalah agar kita sebagai mahlukNya dapat pulang kembali ke rumahNya berkumpul di dalam surga abadi.

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”(QS. Ali ‘Imran: Ayat 142)

Oleh karena itu, mari kita berjuang, berjihad untuk selalu mengupayakan berpikir positif dalam setiap keadaan dan masalah yang menimpa diri kita, mari kita selalu mengutamakan bersyukur instead of mengedepankan rasa kecewa, dan menjalani setiap persoalan hidup ini dengan sabar. Insyaallah janji Allah itu benar adanya.

Karena kekecewaan terbesar kita seyogianya adalah bila kita menjadi mahluk yang kufur (ingkar) padaNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s