Bukan Sekedar Lafazh Lillahi Ta’ala

​Ketika seseorang terbentur dengan sesuatu yang terpelik dalam hidupnya, maka ia akan mempertanyakan untuk apa dan siapakah semuanya? Untuk apa dan siapa hidupnya?

Manusia akan menjumpai satu titik di mana jiwanya terasa sesak terhimpit seolah tak ada oksigen yang berikannya ruang untuk bernafas. Dan titik itulah yang membuat banyak jiwa melayang, karena tak sanggup dengan kepenatan hidup. Namun hal itu tak dijumpai pada orang yang masih mempunyai iman dalam hatinya. Setidaknya mereka masih mempunyai nafas untuk menghidupi jiwanya, walau sangat sedikit. Ia masih mempunyai jiwa, namun dalam keadaan kering dan tandus.

Banyak manusia yang tak memahami untuk apa dan siapa hidupnya. Padahal Allah bukan dengan tidak sengaja menghidupkan semuanya dengan percuma, pasti mempunyai maksud. Ruh yang telah bersarang dalam jasad kita bukanlah hadiah cuma-cuma. Tak sepatutnya kita seperti orang kafir yang memperlakukan hidup ini layaknya senda gurau dan permainan.

 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka itulah alasan Allah menghidupkan kita, hanya untuk beribadah kepada-Nya. 

Ibadah adalah sebutan/istilah untuk segala sesuatu yang mengharapkan ridha-Nya (Segala sesuatu yang dilakukan karena-Nya).

“Untuk beribadah kepada-Nya..”

“Karena-Nya…”

Dua Lafazh yang sering kita dengar dan didengungkan di mana-mana, di ceramah-ceramah, di lagu-lagu, bahkan tak jarang Lafazh ini digunakan untuk merayu seseorang yang jelas bukan mahramnya. “Aku mencintaimu karena Allah…”

Padahal maknanya teramat sangat dalam… tak segamblang yang diucapkan mulut dan di dengar telinga…

Coba kita simak Sabda Rasulullah yang artinya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, 

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Kamu berperang agar namamu disebut-sebut sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” 

“Selanjutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu belajar agar kamu disebut-sebut sebagai orang alim dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut-sebut sebagai seorang qari’, dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Kemudian seorang yang diberi keleluasaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dikaruniai beragam harta benda, lantas ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau buka melainkan pasti saya berinfak padanya karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataan kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (Ensiklopedi Islam Kaffah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, hal; 261)

Dari cerita tersebut dapat kita cermati sebagai berikut:

Mereka bukanlah orang kafir yang tak tahu apa tujuan hidupnya.Bahkan mereka adalah orang alim selama di dunia Dan kemungkinan besar mereka sangat memahami untuk apa ia dihidupkan di dunia, tergambar arti Lafazh yang diucapkan: ”Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau berikan, saya lakukan semuanya karena-Mu”

Masih masuk neraka…?

Maka “LILLAHI TA’ALA” tidak segamblang yang terucap di bibir. Ketiga orang tersebut memahami untuk apa hidupnya. Tapi Allah lebih mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Bahkan niat yang salah dapat fatal akibatnya, dan termasuk menyekutukan Allah. Adalah hal yang sangat penting bahwa kita harus memahami untuk apa Allah ciptakan kita. Setelah memahaminya maka fokus dan melatih diri untuk Ikhlaslah yang lebih utama, karena faktanya tidak semudah Lafazhnya.

Maka, saat jiwa manusia terasa sesak dan terhimpit, mungkin hal itu terjadi karena ia terlalu lelah dan penat dengan aktivitas dunia yang menyesakkan. Jiwanya telah sempit karena aktivitas duniawi dan tak ada ruang untuk Tuhan. Maka ia menjadi tandus. Dan iman dalam keadaan yang paling lemah. Maka perlulah kita untuk selalu menghidupkan dan menyuburkan iman ini.

FITRAH setiap manusia = IMAN.

 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. At-Taubah: 172)

Maka saat fitrah itu tumbuh, jangan tumbangkan ia. Karna nafsu syahwat yang akan ambil alih untuk mengendalikan diri.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/01/23/78584/78584/#ixzz4UC8u2TVm 

Daripada Menuntut Terus Persamaan Gender

Daripada setiap wanita menuntut terus persamaan gender, mending setiap wanita muslimah berusaha menjadi wanita dan istri terbaik. 

Bagaimana caranya? 

Pertama, betah tinggal di rumah 

Allah Ta’ala berfirman,

 وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى “

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33). 

Kedua, hiasi diri dengan sifat malu 

Dari ‘Imron bin Hushain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ 

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37) 

Ketiga, taat dan menyenangkan hati suami 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

 قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ 

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?”

Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) 

Keempat, menjaga kehormatan diri 

Allah Ta’ala berfirman,

 فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ 

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34). 

Ath Thobari berkata dalam kitab tafsirnya (6: 692), “Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu.” 

Kelima, bersyukur dengan pemberian suami 

Dalam hadits muttafaqun ‘alaihi disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ 

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” 

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, wahai Rasulullah?” 

Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” 

Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). 

Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). 

Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami yang diperbuat sekali. Padahal banyak kebaikan yang telah diberi. Ibaratnya, hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari. 

Keenam, berhias diri spesial untuk suami

Sebagian istri saat ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari. Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita. 

Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah sebelumnya mengenai wanita terbaik adalah, الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ “Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya.” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251, hasan shahih) 

Jangan terus menuntut persamaan gender namun melalaikan kewajiban sebagai istri dan lupa akan kodratnya sebagai wanita muslimah. Semoga Allah memberi hidayah pada setiap wanita muslimah. 

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal 
Sumber : Artikel Rumaysho.Com

Sudah siap kah kita mati?

Bila tiba-tiba esok hari kita meninggal, sudahkah kita sudi menyambut kedatangan para utusan Allah itu untuk mencabut nyawa kita? Sudahkan kita siap merasakan dahsyat dan sakitnya sakaratul maut? Sudahkah kita siap menempati dunia baru? Bersama gelap, sunyi, sendiri, binatang tanah dan penantian tak pasti? Saudaraku bila esok hari kita meninggal sudah siapkah kita meninggalkan kesenangan dunia? Keluarga dan kerabat, anak-anak bahkan harta benda yang telah kita kumpulkan hari-hari untuk mengamini nafsu duniawi kita selama ini? Sudahkah kita siapkan sedikit bekal yang paling tidak, dapat menyelamatkan kita dari cambukan dan pukulan para malaikat di alam barzakh nanti?

Bila esok hari tiba-tiba meninggal, apa yang terjadi?

Demi memproyeksikan hakekat pertanyaan di atas, ada baiknya kita mulai khusyu’ mentafakurinya dari sekarang. Hutang, urusan muamalat atau pertikaian sesama yang belum di tuntaskan. Renungkan seolah-olah esok hari kita meninggal dan tak lagi ada kesempatan waktu untuk meminta maaf, memohon ampun, beribadah atau menyiapkan apa-apa lagi.

Tiap-tiap jiwa yang hidup hakikatnya akan mati karena jiwa-jiwa ini memiliki sang empunya dan bila tiba saatnya pasti akan kembali. Hal ini telah Allah dzikirkan sendiri dalam firman-firmanNya.

“Tidaklah suatu jiwa mati kecuali sudah ada kitab ajalnya.” (QS. Ali Imron : 145). Kalam ini telah menjelaskan betapa tiap manusia yang hidup telah ditentukan masa kematiannya oleh Allah dan apabila tiba saatnya maka tidak ada yang dapat berdalih sekalipun kita berlindung di balik benteng kokoh yang tak satupun makhluk dapat menembusnya. Namun ingatlah wejangan-wejangan yang haq itu bahwa di manapun dan kapanpun bila sudah ditetapkan masanya maka dengan mudahnya kematian itu dapat menyeret kita. “Di manapun kalian berada pasti kematian merenggut kalian walaupun dalam benteng yang kokoh.” (QS. An Nisa : 78).

Kematian tidak pernah memandang status sosial, tidak pernah memandang umur, tidak akan memandang ras atau apapun. Kematian hakikatnya dapat mengenai siapa saja yang telah Allah tetapkan, bagi yang kaya raya atau yang jelata, pengemis hingga orang-orang terhormat, laki-laki maupun perempuan semua jiwa pasti dekat dengan kematian. Allah telah memberi masing-masing dari kita jatah waktu untuk mengumpulkan perbekalan, sedangkan jatah umur itu tiap hari terus-menerus berkurang, lalu apa saja yang telah kita lakukan selama ini? Sudahkah kita lakukan sesuatu yang berguna, yang paling tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri?

Kematian itu misteri, kita bahkan tidak akan pernah tau bagaimana cara kita meninggal dan dalam keadaan bagaimanakah diri kita ketika meninggal, bahkan di saat sehat bugar sekalipun kematian itu masih saja dengan sekonyong-konyong dapat menjemput kita. Berkaca dari hal tersebut maka alangkah baiknya kita renungkan dalam-dalam sudah cukupkah perbekalan kita bilamana tiba-tiba kita meninggal? Sudah cukupkah amal ibadah kita sebagai teman satu-satunya nanti kala kita meninggal? Sudah pantaskah diri kita yang sekarang ini memperoleh nikmat kubur? atau bahkan dengan segala dosa yang kita perbuat selama ini kita malah memperoleh siksa kubur? Bila kita memperoleh siksa kubur kepada siapa kita akan memohon pertolongan? Adakah Allah memberikan kita kesempatan kedua untuk kembali ke dunia dan beramal sebanyak-banyaknya? Tidak. Bilamana ada itupun sangat sedikit dan hanya menimpa orang-orang beruntung yang Allah kehendaki saja. Atau bisa saja itu hanyalah cara Allah memberikan hidayah kepada hambaNya yang beruntung itu. Maka hendaknya kita mulai menyiapkan perbekalannya dari sekarang. Bila belum terbiasa paling tidak kita laksanakan kewajiban-kewajiban dahulu, tinggalkan segala hal yang mudharat dan membuang waktu. Memohon ampun pada sang empunya jiwa kita dan mintalah supaya kita meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Selesaikan segala pertikaian antar sesama, tuntaskan urusan muamalat karena sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa kecuali doa manusia terhadap sesamanya. Mari kita mulai untuk melawan permainan dunia ini, jangan mau diperbudak oleh keindahan-keindahan sesaat yang melenakan mata lagi. Raqib Atid tidak pernah tidur dan tak akan lengah mencatat amal perbuatan kita sehari-hari, sementara siksa neraka itu benar adanya telah Allah persiapkan untuk manusia yang ringan timbangan amal baiknya. Kematian datang secara tiba-tiba untuk mengantarkan kita pada pintu gerbang pembalasan sementara kita sendiri tidak tau di manakah kiranya nanti Allah tempatkan kita untuk menerima pembalasan itu? Surga atau neraka?

Sebagai penutup ada baiknya kita kenang lamat-lamat syahdu wejangannya berabad silam ini, “Umatku yang paling cerdas adalah umatku yang paling banyak ingat mati, lalu mempersiapkan dirinya hidup setelah mati.” (HR Ath Thabrani).

Tulisan bersumber dari: http://www.dakwatuna.com/2016/06/15/80942/bila-esok-meninggal/

Kisah hati yang tergugah

Kisah ini saya ambil dari situs http://www.postmetro.co/2016/12/tobatnya-sang-pendukung-ahok-arsitek.html

Terlepas dari apa latar belakangnya, yang pasti kisah ini mampu menimbulkan gejolak hati saya untuk bermuhasabah terhadap kadar ke-Islaman saya. Berikut adalah kisahnya. 

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan. Bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yang dipunya dan sedikit jalan-jalan menikmati dunia.

Saya anggap orang yang maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatik akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool. Janganlah sesekali dan ikut-ikutan jadi orang norak. Ikut kelompok celana cingkrang, jenggot panjang dan entah apalah itu namanya.

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu, kalian jangan usil. Jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal. Saya bantu orang-orang, bantu saudara2 saya juga, jangan kalian tanya-tanya soal peran saya ke lingkungan. Kalian lihat orang-orang respek pada saya, temanpun aku banyak. Tiap kotak sumbangan aku isi.

Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar, tapi hatinya baik kok. Saya hargai apa yang sudah dia buat bagi Jakarta.Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada. Saya tak mau terbawa-bawa arus seperti teman-teman kantor yang tiba-tiba juga mau ikut aksi. Saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari-cari sensasi. Paling juga mau selfie-selfie.

Sampai satu saat….

Sore itu 1 Desember 2016, dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki. Saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih-putih, rompi hitam dan hanya beralas sendal. Muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah-wajah itu. Mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yang mau melintas. Tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh-aneh atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal-ugalan. Ini aneh, biasanya kalau sudah bertemu orang ramai-ramai di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif.

Sore itu, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah-wajah dan baju putih mereka yang basah terkena gerimis.

Papasan berlalu, aku setel radio lain. Ada berita: rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota-kota lain sudah memasuki kota. Ada nama jalan yang mereka lalui.Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu!

Aku tertegun.

Lama aku diam. Otakku serasa terkunci. Analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yang sesuai dengan pemikiranku. Apa yang membuat mereka rela melakukan itu semua? Apa kira-kira?

Aku makin sibuk berfikir. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka-muka ikhlas itu. Apa mereka ada tujuan-tujuan politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu.Apakah orang-orang dengan tujuan politik yang gerakkan mereka itu?

Aku hitung-hitung, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi karena nilainya sangatah besar.

Aku berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga. Terlihat di pinggir-pinggir jalan anak-anak sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue warung ke mereka. Sepertinya itu dari uang jajan mereka yang tak seberapa.

Aku terdiam makin dalam. Ya Allah….kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini? Kenapa hanya hal-hal jelek yang mau aku lihat tentang agamaku? Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku?

Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar. Aku lihat sendal-sandal jepit lusuh banyak sekali berbaris.

Aku ambil wudhu…

Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer, muka mereka lelah sekali. Mereka duduk, ada yang minum, ada yang rebahan, dan lebih banyak yang lagi baca Quran. Hmmm………….

Aku sholat sendiri. Tak lama punggungku dicolek dari belakang, tanda minta aku jadi imam. Aku cium aroma tubuh-tubuh dan baju basah dari belakang.

Aku takbir sujud, ada lagi yang mencolek. Nahh kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa hatiku bergetar sekali. Aku sujud cukup lama, mereka juga diam.Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku.

Ya Allah,… Aku tak pantas jadi imam mereka.Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka. Bagiku agama hanya hal-hal manis. Tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style…bla bla bla.

Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka.Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah? Kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku?

Hanya 3 rakaat aku imami mereka, hatiku luluh ya Allah. Mataku merah menahan haru.

Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu, tapi tetap senyum. Agak malu-malu aku peluk dia. Dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali.Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yang telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh, dia demam sedikit aku panik. Aku nangis dalam hati, di baju putihnya ada tulisan nama sekolah:… SMP Ciamis… Kota kecil yang ratusan kilo dari sini. Nampak kakinya bengkak karena berjalan sejak dari rumah.

Lalu anak itu bercerita bapaknya tak bisa ikut karena sakit dan hanya hidup dari membecak. Bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yang capek, tapi dia larang.

Ya Allah, aku dipermalukan berulang kali oleh mereka di masjid ini. Aku sudah tak kuat ya Allah.

Mereka bangkit, ambil tas-tas dan kresek putih dari sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid. Rasa-rasanya melihat punggung-punggung putih itu hilang dari pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yang menuju syurga.

Dan kali ini aku yang norak. Aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat. Air mataku keluar lagi. Kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian.

Sudah jam 5an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini. Meeting dengan klien sepertinya batal. Aku mikir lagi soal ke-Islamanku, soal komitmenku ke Allah. Allah yang telah ciptakan aku, yang memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini. Di mana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini? Ada di mana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yang telah lepas dalam benakku selama ini. Ada satu kata sederhana sekali tanpa bumbu-bumbu: ikhlas dalam bela agama itu memang nyata ada!

Aku mampir di minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional! Ini kebanggaanku yang pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali!

Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalan-Mu yang lurus, yang lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati….

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara-saudaraku yang sebenarnya. Orang-orang yang sangat ikhlas membela-Mu. Di sana tak ada jarak mereka dengan-Mu ya Allah.Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yang basah kuyup hari ini. Tak ada penghargaan dari manusia yang kuharap. Hanya ingin Kau terima sujudku. Mohon Kau terima dengan sangat. 

Kisah diambil dari: http://www.postmetro.co/2016/12/tobatnya-sang-pendukung-ahok-arsitek.html

Contoh Letter of Motivation dalam Bahasa Inggris

Salah satu persyaratan teknis bagi calon mahasiswa/i yang berkeinginan untuk melanjutkan studi di luar negeri dengan melalui jalur beasiswa LPDP adalah menyertakan Letter of Motivation dalam bahasa Inggris.

Banyak contoh-contoh yang dapat ditemukan di internet. Pada prinsipnya sebuah letter of motivation harus lah mampu menceritakan alasan dan motivasi dari calon mahasiswa/i kenapa dia layak dipertimbangkan mendapatkan beasiswa dan berkuliah di universitas luar negeri yang dia inginkan.

Hal-hal seperti pengalaman belajar, pengalaman kerja serta harapan-harapan setelah dia menuntaskan studi-nya di luar negeri haruslah dapat tertuang dalam satu surat yang tidak boleh melebihi 3 (tiga) halaman itu. Sehingga, surat tersebut harus tetap ringkas namun padat. Baca lebih lanjut