Bukan Sekedar Lafazh Lillahi Ta’ala

​Ketika seseorang terbentur dengan sesuatu yang terpelik dalam hidupnya, maka ia akan mempertanyakan untuk apa dan siapakah semuanya? Untuk apa dan siapa hidupnya?

Manusia akan menjumpai satu titik di mana jiwanya terasa sesak terhimpit seolah tak ada oksigen yang berikannya ruang untuk bernafas. Dan titik itulah yang membuat banyak jiwa melayang, karena tak sanggup dengan kepenatan hidup. Namun hal itu tak dijumpai pada orang yang masih mempunyai iman dalam hatinya. Setidaknya mereka masih mempunyai nafas untuk menghidupi jiwanya, walau sangat sedikit. Ia masih mempunyai jiwa, namun dalam keadaan kering dan tandus.

Banyak manusia yang tak memahami untuk apa dan siapa hidupnya. Padahal Allah bukan dengan tidak sengaja menghidupkan semuanya dengan percuma, pasti mempunyai maksud. Ruh yang telah bersarang dalam jasad kita bukanlah hadiah cuma-cuma. Tak sepatutnya kita seperti orang kafir yang memperlakukan hidup ini layaknya senda gurau dan permainan.

 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka itulah alasan Allah menghidupkan kita, hanya untuk beribadah kepada-Nya. 

Ibadah adalah sebutan/istilah untuk segala sesuatu yang mengharapkan ridha-Nya (Segala sesuatu yang dilakukan karena-Nya).

“Untuk beribadah kepada-Nya..”

“Karena-Nya…”

Dua Lafazh yang sering kita dengar dan didengungkan di mana-mana, di ceramah-ceramah, di lagu-lagu, bahkan tak jarang Lafazh ini digunakan untuk merayu seseorang yang jelas bukan mahramnya. “Aku mencintaimu karena Allah…”

Padahal maknanya teramat sangat dalam… tak segamblang yang diucapkan mulut dan di dengar telinga…

Coba kita simak Sabda Rasulullah yang artinya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, 

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Kamu berperang agar namamu disebut-sebut sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” 

“Selanjutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu belajar agar kamu disebut-sebut sebagai orang alim dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut-sebut sebagai seorang qari’, dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Kemudian seorang yang diberi keleluasaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dikaruniai beragam harta benda, lantas ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau buka melainkan pasti saya berinfak padanya karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataan kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (Ensiklopedi Islam Kaffah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, hal; 261)

Dari cerita tersebut dapat kita cermati sebagai berikut:

Mereka bukanlah orang kafir yang tak tahu apa tujuan hidupnya.Bahkan mereka adalah orang alim selama di dunia Dan kemungkinan besar mereka sangat memahami untuk apa ia dihidupkan di dunia, tergambar arti Lafazh yang diucapkan: ”Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau berikan, saya lakukan semuanya karena-Mu”

Masih masuk neraka…?

Maka “LILLAHI TA’ALA” tidak segamblang yang terucap di bibir. Ketiga orang tersebut memahami untuk apa hidupnya. Tapi Allah lebih mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi.

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Bahkan niat yang salah dapat fatal akibatnya, dan termasuk menyekutukan Allah. Adalah hal yang sangat penting bahwa kita harus memahami untuk apa Allah ciptakan kita. Setelah memahaminya maka fokus dan melatih diri untuk Ikhlaslah yang lebih utama, karena faktanya tidak semudah Lafazhnya.

Maka, saat jiwa manusia terasa sesak dan terhimpit, mungkin hal itu terjadi karena ia terlalu lelah dan penat dengan aktivitas dunia yang menyesakkan. Jiwanya telah sempit karena aktivitas duniawi dan tak ada ruang untuk Tuhan. Maka ia menjadi tandus. Dan iman dalam keadaan yang paling lemah. Maka perlulah kita untuk selalu menghidupkan dan menyuburkan iman ini.

FITRAH setiap manusia = IMAN.

 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. At-Taubah: 172)

Maka saat fitrah itu tumbuh, jangan tumbangkan ia. Karna nafsu syahwat yang akan ambil alih untuk mengendalikan diri.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/01/23/78584/78584/#ixzz4UC8u2TVm 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s