Sweetness of words

@Padang, Sumatera Barat (01.29AM)

Hari ini sebenarnya cukup melelahkan, tapi aku sudah meniatkan diri untuk menulis blog yang sudah cukup lama tak kusentuh ini.

Pagi tadi berawal dari waktu subuh dimana aku bersyukur masih diijinkan untuk kembali mengawali hari dengan beribadah kepada-Nya, mensyukuri segala nikmat-Nya sekaligus meminta ampunan-Nya atas segala kesalahan, kelalaian baik yang kulakukan dengan kesadaran maupun yang tanpa sadar kuperbuat.

Pagi tadi aku adalah tamu pertama yang memasuki ruangan restoran di Hotel Bunda, Bukittinggi. Selain petugas hotel yang sedang sibuk menyiapkan sajian sarapan pagi, belum kutemui tamu lain yang ada di ruangan itu. Kulihat jam tanganku dan waktu menunjukkan pukul 06.15.

Menu nasi goreng + telur mata sapi dan kerupuk serta secangkir kopi hitam pahit menjadi pilihan sarapanku pagi tadi.

Dan aku pun beranjak meninggalkan ruangan restoran menuju lobby untuk menyalakan dji sam soe ku yang selalu setia menemaniku. Sedikit berbasa-basi dengan seorang laki-laki yang juga merokok di situ, yang ternyata adalah Sales Hotel dari perusahaan yang sama namun beda lokasi, dia dari Hotel Bunda Padang, di Bukittinggi untuk keperluan kantornya.

Tepat pukul 08.00 aku sudah menyerahkan kunciku ke front office dan beranjak memasuki Toyota Hi Ace yang sudah 4 hari mengantarkan aku dan tim berkeliling mengunjungi titik-titik lokasi yang berpotensi kami angkat dalam kegiatan Kementerian Pariwisata dimana aku adalah salah satu tenaga ahlinya.

Di dalam mobil kulihat sudah berkumpul lengkap semua personil timku, ada Pak Tito di kursi depan, ada Pak TAB, ada Mas Amor, Mas Ricky, Mbak Susi, Mbak Ima, Bu Dewi dan tentunya Pak Zul di bangku kemudi.

Kami pun meninggalkan hotel menuju Sawahlunto dengan singgah ke beberapa spot yang kami rasakan cukup menarik untuk sekedar mengambil dokumentasi ataupun rehat sejenak untuk minum kopi.

Selanjutnya adalah bekerja… bekerja… dan bekerja.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, kami baru saja tiba di lobby Hotel Grand Zuri, Padang. Aku tidak langsung masuk kamar, karena Pak TAB dan aku hendak makan malam terlebih dahulu di restoran hotel di lantai 2. Selain karena aku juga membuat janji temu dengan kawanku Uda Feri, seorang dosen muda di Universitas Negeri Padang yang juga berwirausaha keripik khas Padang.

Sekitar pukul 23.00, Uda Feri pun menelpon dari bawah dan aku mohon ijin Pak TAB untuk menemui kawanku itu, yang ternyata Pak TAB pun ingin langsung beristirahat.

Bersilaturahmi itu memperpanjang umur, aku senang Uda Feri berkenan datang khusus ke hotel malam ini. Dia membawa satu tas berisikan keripik khas Padang buatannya yang memang harus kuakui bercita rasa spesial.

Hingga pukul 01.00 kami bercengkerama, sedikit berbagi kisah tentang pekerjaan masing-masing, lalu harapan-harapan masa depan. Ku ketahui pula bahwa akhir bulan ini dia akan berangkat ke Malaysia untuk meneruskan studinya, sementara aku belum tentu kapan akan melanjutkan studiku lagi ke jenjang berikutnya dengan segala tetek bengek yang masih harus kuselesaikan di sini.

Seharian ini begitu banyak kata-kata, kalimat-kalimat yang kukatakan juga kudengarkan. Semua begitu manis, semua begitu baik. Aku selayaknya harus mensyukuri semua ini, di saat di belahan bumi yang lain dan di lokasi yang berbeda sedang berlangsung peristiwa-peristiwa yang bertolak belakang dengan apa yang kujalani seharian ini.

Ada orang yang sakit hati mendengar kata-kata yang kurang ajar, ada orang tua yang tersinggung dengan kata-kata anaknya, ada polisi yang kena makian pengguna jalan yang melanggar aturan, ada bawahan yang dibentak atasannya, ada pengemis yang dihardik oleh pengendara mobil, dan lain sebagainya.

Intinya kata-kata itu bisa memberikan kedamaian, ketengangan, kenyamanan…
Namun sekaligus juga bisa meninggalkan kesan menyakitkan, menyedihkan, memilukan.
Semua tergantung kita sebagai pihak yang berkata-kata.

Maka tidak salah bila Rasulullah saw berujar, “berkata-katalah yang baik, atau diam”.

Terima kasih untuk semua orang yang berkata-kata baik padaku.

Wass.