Quality over Quantity

@Sariwangi – Bandung Barat (00.38)

Waktu lewat tengah malam, aku baru saja tiba sekitar 1 jam yang lalu usai perjalanan penuh drama dan kemacetan dari Cengkareng. Bagaimana tidak, perjalanan yang normalnya hanya membutuhkan waktu maksimal 4 jam, harus kutempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam. Sangat tidak praktis dan sangat tidak efisien. Namun semua itu tetap harus ku syukuri.

Kembali menatapi inquiries dan pertanyaan-pertanyaan dari beberapa potential clients yang harus kubalas. Ada yang ingin melakukan perjalanannya dari Jogja menuju Bali, ada yang ingin memulai dari Malang dan berakhir di Surabaya dengan destinasi utama ke Bromo, serta ada permintaan perjalanan ke Lombok dan outing perusahaan ke Jawa Timur.

Industri pariwisata sudah lama berubah dan jujur aku harus mengakui bahwa aku terlambat untuk berubah. Terlalu banyak faktor, namun satu hal yang pasti. Keterlambatan untuk berubah itu dikarenakan kelalaianku sendiri.

Seharusnya sudah sedari 6 tahun yang lalu aku bertransformasi. Mulai merubah haluan dengan pemanfaatan teknologi jaman now, mulai membidik ceruk pasar yang spesifik dan jelas, serta membatasi permintaan dengan penerapan standar kualitas pelayanan yang “exceeding client’s expectations”.

Tapi orang bijak pernah berkata, “tidak ada kata terlambat”…
Aku pun beranjak sudah bertransformasi, selayaknya dari produsen Toyota menjadi produsen Ferrari atau Rolls Royce. Quality over quantity.

Sumber daya terampil di industri ini menjadi sebuah keharusan yang mutlak, tidak usah pedulikan deretan kertas sertifikat kompetensi, karena industri ini menuntut lebih dari hanya sekedar pengakuan di atas kertas. Jangan pula bermimpi untuk menjadi perusahaan raksasa di saat sumber daya modal sudah semakin langka. Menjadi kecil yang tangguh lebih baik daripada menjadi besar namun dambin.

Di saat semua orang mencibir, di saat harapan akan masa depan terlihat tidak masuk akal, percayalah bahwa Allah sudah menjamin rizki kita jauh sebelum kita lahir ke muka bumi. Kewajiban kita hanyalah berusaha, berusaha dan berusaha semaksimal mungkin.

Aku tak mau terlalu berusaha mencari distinctive advantage atau competitive advantage. Tidak pula mau terlalu terbebani oleh angka-angka target pencapaian yang kutetapkan sendiri. Masa itu sudah lewat. Toh tidak banyak hal yang tersisa dari masa itu.

Sudah saatnya transformasi ini adalah transformasi yang menyeluruh. Transformasi yang datangnya dari dalam diri. Transformasi yang meliputi rohani dan jasmani. Bekerja dan berbisnis bukan dalam rangka pencarian status, bukan sekedar karena butuh mengaktualisasikan diri, namun karena bekerja dan berbisnis adalah sarana yang dapat kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, sarana untuk lebih mengenal keberasan-Nya dan sarana untuk mampu mensyukuri segala nikmat-nikmat-Nya.

Seseorang pernah berkata kepadaku, jangan kamu sibukkan dirimu dengan menuntut, meminta, dan protes akan apa yang terjadi di luar dirimu. Namun sibukkan dirimu untuk membenahi apa yang ada di dalam dirimu, niscaya lingkungan luarmu akan terpengaruh dengan positif.

Teringat satu ayat dalam Qur’an yang redaksinya berbunyi demikian,

“Wahai kaumku! berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (diantara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang yang dzalim itu tidak akan mendapat keberuntungan” (QS Al An’am : 135)

(01.10)