Saya suka kopi

Surabaya (22.36)
Saya suka kopi, saya suka berbagai jenis kopi terutama yang disajikan apa adanya tanpa tambahan gula atau pemanis lainnya. Saya suka rasa biji kopi Aceh Gayo, atau biji kopi Honduras dan Ekuador, tapi saya juga suka aroma kopi Toraja maupun Puntang. Bahkan dalam kondisi tertentu saya pun bisa menikmati Kopi Kapal Api, atau pun sesachet nescafe, yang tentunya tanpa gula.

Bagi saya gula itu hadir merusak kenikmatan rasa kopi, mungkin seperti benalu yang menempel di pohon mangga. Dia hadir untuk menjadi parasit bagi mangga, sepertinya begitulah saya memandang gula bagi eksistensi kopi.

Kopi cukup diseduh dengan air panas. That’s it!
Mau diproses dengan media V60, French press, aeropress, atau hanya diseduh dari ceret saja I don’t care. Rasanya tidak akan berpengaruh jauh. Beti kalo kata orang jaman now. Beda-beda tipis.

Nikmatnya menyeruput kopi panas sembari menghirup aroma kesegaran kopi itu seperti mencium aroma hujan pertama kali. Seperti mengecup bibir kekasih kita untuk pertama kalinya. Begitu nyaman, damai dan menenangkan. Itu kenapa saya suka kopi.

Bagi saya, pasangan ideal kopi adalah sebatang Dji Sam Soe. Benar, itu tidak salah. Pasangan ideal kopi bukan lah rokok sembarangan. Bukan Sampoerna Mild, Djarum Super, Garpit apalagi Marlboro. Jangan, jangan mereka. Pasangan kopi yang ideal haruslah sebatang Dji Sam Soe. Kenikmatan kretek sejati asli cita rasa Indonesia.

Pas semuanya akan terasa pas, dimana saking pas-nya sensasi ini maka momen ini membutuhkan privasi tersendiri. Saya tidak suka diganggu saat sedang menikmati kopi dan menarik sedotan Dji Sam Soe. Gangguan saat aktivitas sakral ini berlangsung ibarat polisi tidur di dalam kompleks yang sepi, Gak Penting!

Oleh karenanya saya biasanya akan menyendiri saat sedang menikmati kopi. Saya suka kopi. Mungkin orang akan berpikir, “kamu lebay banget”. Apapun anggapan orang, saya tidak terlalu peduli. Karena toh saya tidak sedang mengusik mereka. Sebaliknya justru mereka lah yang sedang mengusik kenikmatan ku di dalam menikmati kopi.

Belakangan ini, kawan-kawanku sudah mulai memahami makna kopi bagiku. Sebagian dari mereka sering mengoleh-olehkan berbagai jenis kopi saat mereka sedang bepergian ke luar kota atau luar negeri. Semua jenis kopi yang berbeda ini aku simpan di dalam lemari kaca di rumah ku. Berbeda-beda namun tetap satu juga. Falsafah kopi yang terdengar seperti semboyan bangsa Indonesia. Namun hakikatnya memang demikian.

Dia datang dari berbagai belahan bumi yang berbeda, namun toh tetap sama. Dia adalah kopi. Dia hadir untuk diseduh. Dia hadir untuk diseruput. Dan dia hadir untuk dinikmati.

Tidak ada protes, tidak ada kata-kata yang menyakitkan, tidak juga ada drama. Kopi ya kopi. Itu kenapa saya suka kopi. Dia hadir begitu otentik. Tanpa tedeng aling-aling.

Dan sekarang saya mau ke dapur… untuk mengambil kopi saya yang ketinggalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s