Rupiahku rupiahmu

Surabaya (16.20)

Ini sebenarnya bukan mau membahas tentang nilai tukar rupiah yang saat ini sudah merosot ke angka Rp 14,487 per 1 USD-nya. Bukan juga membahas cadangan devisa negara kita yang konon tergerus sebesar 3,1 miliar dollar.

Ini semata-mata ingin berbicara tentang nilai materi yang walau klise, tapi melandasi aktivitas kita berkehidupan. Tanpa fulus, jangan harap kamu bisa beraktivitas dan berinteraksi sosial.

Bagaimana tidak, hari begini kita mau makan ya harus beli, entah beli makanan siap saji, atau pun beli bahan makanan untuk kita proses dan masak di rumah. Tetap saja harus beli. Dan saat transaksi pembelian, maka rupiah ini dibutuhkan.

Mungkin ini juga yang melandasi pernyataan Rasulullah saat ditanya tentang pekerjaan yang paling utama. Beliau menjawab, “perniagaan yang baik dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dalam Al Mu’jam Kabir; shahih lighairihi)

Bukan berarti selain pekerjaan di sektor perdagangan atau yang dihasilkan dengan tangannya sendiri itu buruk, ini kan tentang pekerjaan yang paling utama.

Bagaimana tidak, seorang mahaguru (jika muridnya disebut mahasiswa, boleh dong pakai istilah mahaguru hahaha)  yang merupakan wasilah bagi peningkatan kualitas SDM di negara kita ini masih harus mengelus dada dengan “bayaran jasa” yang bahkan untuk menikmati kopi di Starbucks saja hanya cukup membeli satu cup frappuccino.

(20.21)

Pernyataan di atas bisa saja tidak mewakili keseluruhan profesi mahaguru di Indonesia. Banyak juga rekan yang sudah menikmati profesi ini dan total menyandarkan hidupnya berkarir sebagai seorang akademisi. Tapi saya coba mengangkat para mahaguru yang umumnya berkarir di PTS-PTS yang skala modalnya mungkin tidak lebih dari omset Indomaret per bulan.

Saya hanya sulit membayangkan bagaimana mereka bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari. Menafkahi keluarga, mengajak nonton, membeli BBM, membayar listrik, pulsa, hape baru, dan seterusnya.

Ah, saya sudah suudzon…

Bukan kah Allah sendiri yang telah berjanji untuk mencukupi rizki hamba-Nya “…… dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (Surah Hud, ayat 6).

Tapi memang bicara tentang keyakinan atau keimanan itu ibarat melihat dua sisi koin. Selalu akan ada argumentasi yang muncul dari kerdilnya otak manusia yang hanya seberat 2,7 kilogram ini.

Ironis memang, di saat era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) sudah bergelinding di tahun yang ke-3, ICT (Information Communication Technology) sudah masuk ke stage 4.0, tetapi untuk pemenuhan kebutuhan dasar saja seorang mahaguru masih harus mengupayakannya dari berbagai sumber yang lain. Jika kondisi ini berjalan terus menerus, bagaimana mutu kualitas SDM Indonesia di masa yang akan datang? Di saat para mahaguru tidak bisa fokus mencurahkan perhatiannya di dalam mencetak SDM yang berkualitas dikarenakan periuk nasi di rumahnya sudah kering.

Bersyukurlah sebagian mahaguru yang memiliki jaringan pergaulan yang baik, dia bisa berkarya di sektor-sektor lainnya. Entah sebagai konsultan, entah sebagai tenaga ahli, entah sembari berdagang atau apapun. Dengan itu pun mereka masih committed untuk terus membagikan ilmu dan pengalamannya kepada calon-calon pemimpin bangsa ini.

Mungkin ini lah keistimewaan mereka, keistimewaan 290,000 mahaguru yang tersebar di seluruh pelosok bumi nusantara. Sebagian adalah juga pengabdi negara, sebagian lain dinaungi oleh yayasan yang mumpuni, dan saya yakin sebagian besarnya justru adalah para mahaguru yang potret kecilnya saya tuliskan di atas.

Jangan berkecil hati, apa yang kalian lakukan senantiasa tercatat. Yakinlah ini adalah bekal yang akan kita bawa saat kontrak kita di dunia ini berakhir, dan memasuki kehidupan yang sebenar-benarnya… di akhirat kelak.

Wassalam