Surat lolos butuh, perlu atau tidak?

Banjarmasin (16.03)

Semangkuk mie ayam + kopi ABC susu dihargakan Rp35,000 itu amatlah overprice. Mau dimanapun disajikannya, tetap saja terlalu mahal. Eh, mungkin kalau disajikan di Four Season masih bisa diterima ya?!

Tapi bukan itu masalahnya, standarisasi harga ini memang penting. Kalau mie ayam yang umumnya bisa kita beli seharga Rp10,000 maka toleransi kenaikan harganya tentu tidak boleh lebih dari Rp20,000 (mauku begitu). Saat pedagang tertentu mematok harga terlalu mahal, sakitnya tuh di sini… (persis Cita Citata).

Tapi sudahlah, kita sudahi saja polemik tukang mie ayam samping Bandar Udara Syamsudin Noor tadi pagi.

Singkat cerita, dengan drama taksi online yang tidak bisa dan tidak berani masuk ke area penjemputan di bandara, drama berjalan kaki hampir 2 km ke luar area bandara, dan drama taksi online yang data di aplikasi dengan kenyataannya berbeda (Toyota Innova vs Datsun Go) sampailah aku ke jantung kota Banjarmasin. Perjalanan memakan waktu hampir 1 jam dengan jarak tempuh sekitar 30 km dari bandara menuju hotel tempatku bermalam.

Banyak yang berubah dari wajah kota Banjarmasin. Tidak drastis, dan tidak dalam artian negatif. Kanan kiri jalan terlihat banyak bangunan-bangunan baru, ada beberapa hotel baru yang pada tahun 2016 belum terlihat kini sudah berdiri kokoh.

Pukul 12.50 WITA aku melangkahkan kakiku menuju institusi pendidikan tempat aku terdaftar sebagai seorang maha guru. Iya, NIDNku memang home base di Kopertis XI. Suasana kampus terlihat hampir sama seperti terakhir kali aku datang ke sana. Tapi sedikit lebih rapi, lebih bersih, walau tidak sebersih yang aku bayangkan dari sebuah institusi perhotelan dan pariwisata.

Disambut oleh beberapa orang dengan penuh senyuman (entah tulus entah terpaksa), dipersilakan masuk, dipersilakan duduk. Dijelaskan bahwa Pak Direktur belum bisa datang karena masih ada rapat dengan yayasan di gedung sebelah. It’s fine, I don’t have any other plan though.

Satu per satu orang mulai bermunculan, dan obrolan kita mengalir berkisar antara makanan khas Banjar, hingga kondisi kampus, dari Ketupat Kandangan hingga borang-borang akreditasi.

Sekitar 15 menit obrolan ringan tadi Pak Direktur pun masuk ke ruangan, wajahnya familier, masih seperti dulu hanya saja sedikit lebih berisi. Obrolan kembali berlanjut, hingga sampai pada momen krusial. Muncullah pertanyaan itu, “tapi bapak Yoga tidak mau mengurus lolos butuh kan?”

Surat lolos butuh adalah suatu istilah yang merupakan terjemahan dari bahasa Belanda misbaarheidsverklaring, yang berarti surat keterangan resmi lembaga yang menyatakan bahwa pegawai yang diberi surat itu diizinkan untuk pindah ke tempat kerjanya yang baru sehingga segala sesuatu yang berkenaan dengan administrasi perkantoran sudah dapat dipindahkan ke tempat kerjanya yang baru.

Pertanyaan itu kujawab dengan ringan, “tergantung… wani piro?” Sontak cairlah suasana ruangan yang semula sudah terasa sedikit tegang.

Di satu sisi adalah benar bahwa kedatanganku ke sini untuk mempertegas posisiku yang sudah 2 tahun terdaftar sebagai maha guru di institusi itu. Tapi di sisi lain aku juga punya tanggungjawab moral, aku bukan lah seorang kapitalis sejati yang segala sesuatunya diatur dan bergerak berdasarkan tuntutan materi semata. Ada idealisme di sana. Dan alasan pertama aku menerima pinangan mereka untuk join-in di Banjarmasin pun bukan semata-mata faktor materi itu.

Singkat cerita, semua diskusi berjalan lancar. Menjelang akhir, aku mengetahui bahwa orang-orang yang mengelilingiku adalah para pejabat struktural di institusi itu, ada Pak Direktur, ada Bu Wakil Ketua I, ada Wakil Ketua II dan ada Ketua Jurusan.

Saat ini aku sedang menunggu kedatangan mereka, konon mereka mau mengajakku sightseeing menikmati keramahtamahan Kota Banjarmasin. Tentunya aku tidak lupa men-charge hape agar bisa mendokumentasikan aktivitas ini.