Pindahan

@Sariwangi Bandung (22.30)
Makna hijrah adalah berpindah menuju kehidupan lebih baik, bermakna, dan indah. Bukan berpindah justru untuk kehancuran.
Maka itu, siapa pun yang ingin mewarisi semangat hijrah harus mempunyai gairah untuk terus mencari hal yang baru, baik, dinamis, dan progresif dalam kehidupan yang kaya warna dan nuansa.

Allah berfirman yang amat tegas terkait manfaat hijrah ini:
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” [An-Nisaa/4 : 100]

Sejak 2013, saya sudah beberapa kali berhijrah fisik. Mulai dari Surabaya ke Bandung (Gegerkalong), dari Gegerkalong ke Sukahaji, dari Sukahaji ke Sariwangi dan kali ini harus berhijrah lagi ke Surabaya (Siwalankerto).

Terlapas apakah pemaknaan saya dalam berhijrah ini sesuai atau tidak secara syar’i tetap saja niat saya ya pasti untuk terus mencari hal yang baru, baik, dinamis, dan progresif tadi. Kalau niat apakah karena Allah atau bukan? Saya kembali bertanya, adakah yang bukan karena Allah?

Intinya adalah kepindahan dari satu tempat ke tempat lain dengan harapan di tempat yang lain itu akan lebih baik dari tempat sebelumnya.

Buat saya mungkin perpindahan sudah menjadi hal yang biasa. Bagaimana tidak, bila dihitung-hitung mungkin sudah puluhan kali saya berpindah tempat dan domisili sejak dari saya lahir hingga saat ini. Maklum sebagai anak seorang perwira ABRI (masa itu masih disebut ABRI) kepindahan adalah sebuah keniscayaan. Setahun pindah, dua tahun menetap pindah, dan seterusnya.

Setiap pindahan umumnya kardus adalah benda yang amat dicari. Biasanya kardus rokok adalah kardus yang menjadi favorit, bahannya keras dan ukurannya besar.

Saya senang berpindah-pindah tempat, selalu terbayang akan kehidupan yang lebih baik di tempat baru. Terbayang kawan-kawan baru, tetangga baru dan semangat baru.

Saya pun masih menyimpan harapan, bahwa kepindahan kali ini bukan lah kepindahan terakhir kalinya. Karena masih banyak impian dan harapan yang masih harus saya wujudkan. Setidaknya untuk saya realisasikan dalam fase kehidupan saya kali ini.

Jadi memang, untuk orang yang tidak menyukai berpindah-pindah tempat tinggal mungkin akan menganggap minat saya ini nyeleneh. Sebaliknya bagi yang memiliki sedikit jiwa petualang, akan amat menikmati setiap perpindahan yang dilakukan.

Saat ini hanya tersisa beberapa kardus siap angkut di rumah saya. Estimasi saya, hanya tinggal 2 kali angkut dengan mobil pribadi dan 1 kali angkut dengan pick up sewaan.

Selanjutnya, saya dan keluarga akan kembali merasakan menjadi warga Kota Surabaya (untuk sementara).

Was-was itu bisikan setan

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Sang Pencipta manusia. Rajanya manusia. Sesembahan manusia, dari kejelekan was-was al-khannas.” (An-Nas: 1-4)

Kekhawatiran atau keragu-raguan (was-was) itu datangnya dari Setan. Sebagaimana Allah berfirman:
“..dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (QS. Al-Israa: 64-65)

Jadi setiap saat kita merasa was-was akan sesuatu hal, kita merasa khawatir akan sesuatu hal dan ragu-ragu maka yakinlah itu adalah bisikan setan yang mengganggu kita.

Bersegeralah meminta perlindungan dari Allah, fokus pada segala kenikmatan yang Allah berikan kepada kita dan memantapkan hati kita dengan berikhtiar di jalan yang diridhoi-Nya.

Bersabarlah, lalu bahagialah

@Bandung (04.35)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Sudah jelas kan?

Bahwa kita pasti diuji, segala kenegatifan yang kita alami dan rasakan setidaknya dapat kita lihat sebagai ujian yang merupakan salah satu bentuk dari janji-Nya.

Namun demikian, janji-Nya juga meliputi bahwa orang yang sabar akan berbahagia, gembira.

Maka bersabarlah, karena sabar itu bukan hanya sebuah aktivitas pasif melainkan juga upaya ikhtiar terus menerus, konsisten dalam melakukan apa yang harus kita lakukan.

Tidak perlu rungsing bila suatu saat kita diuji dengan hal-hal yang tidak mengenakkan, nikmati saja prosesnya. Tanpa ujian bagaimana kita bisa mengukur kualitas diri kita?

Kita mau dicap orang kuat, bagaimana mungkin orang menjadi kuat tanpa latihan beban?

Bagaimana kita menjadi orang yang sabar tanpa adanya tekanan hidup yang menghimpit?

Just enjoy the process.

Benar input, baik output

@38,000 kaki di atas Laut Jawa menuju Jakarta (20.45)

Seringkali dalam suatu masa kita akan sampai pada kondisi di mana kita harus memilih antara melakukan apa yang kita inginkan, atau melakukan apa yang harus kita lakukan.

Setelah sempat berdiskusi ringan dengan beberapa orang, ternyata tidak banyak orang yang memiliki kemampuan untuk membedakan apa yang mereka inginkan dan mana yang harus dilakukan.

Ini bisa saja dikarenakan banyak faktor, namun salah satu diantaranya yang cukup dominan adalah karena tidak ada bimbingan sedari awal, yang melatih agar kita selalu mampu menetapkan pilihan yang benar.

Yang baik belum tentu benar, yang benar belum tentu baik. Kebaikan itu sifatnya amat subjective, sementara kebenaran itu lebih presisi dan objective.

Hanya saja kebenaran pun memiliki skala. Memiliki jenjang. Ada kebenaran versi diri kita, ada kebenaran versi yang diyakini orang banyak dan ada kebenaran yang benar-benar sejati.

Kita hanya mampu memperdebatkan kebenaran sebatas versi pribadi dan orang banyak. Terlepas apakah kebenaran yang sedang kita perdebatkan itu benar atau salah sejatinya, kita tidak tahu.

Namun yang salah adalah bahwa apabila kita melupakan unsur itu. Kita lupakan bahwa ada Sang Maha Benar yang paling mengerti sejatinya kebenaran sesuatu hal. Bukan kita pihak yang paling mengetahui kebenaran tersebut.

Selama ini kita hanya mampu menduga-duga, menebak-nebak dan bersepakat kolektif untuk pengabsahan suatu kebenaran.

Tidak ada yang mengetahui kebenaran jumlah semut di muka bumi, jangankan semut, pendataan sensus penduduk Indonesia saja masih memiliki error rate.

Apakah obat yang kita konsumsi saat kita sakit adalah zat yang paling tepat untuk menyembuhkan sesuatu? Selama belum ada pembuktian yang menyanggah maka hal itu dianggap dan diyakini sebagai kebenaran.

Bukan kah belum lewat dari 1 abad saat orang yang sakit epilepsi diyakini sebagai orang kesurupan? Bukankah dahulu saat migrain terapi pengobatannya adalah dengan membolongi sedikit tempurung kepala kita?

Sudah lah…

Sudahi merasa kita lah yang paling tahu akan segala sesuatu. Kita ini lemah dan terbatas. Tidak mungkin kita mampu menyerap samudra pengetahuan yang sebegitu luasnya di muka bumi ini.

Yang pasti adalah, pengupayaan kebenaran haruslah dengan kebaikan. Kebenaran yang disampaikan tidak dengan kebaikan, akan menyakiti.

Ketidakbenaran, bagaimanapun baik kemasannya maka itu tidak akan membawa kebaikan. Benar itu harus disajikan dalam sajian kebaikan.

Benar itu input, prosesnya di dalam akal dan rasa kita, outputnya wajib berupa kebaikan.

Wass.