Hidupku dan Matiku hanya untuk Allah (benarkah?)

Bandung (23.56)

Memahami sebuah alasan dibalik argumentasi seseorang disaat sikap yang bersangkutan bertolakbelakang dengan argumentasi awalnya adalah tidak mudah.

Permisalannya begini, seseorang mengatakan dia menyukai donat, namun saat disuguhi donat maka dia mengernyitkan dahi dan tidak menyentuh donat itu.
Mana kah yang harus dianggap sebagai pendapat yang otentik?
Apakah perkataan bahwa dia menyukai donat?
Ataukah sikap dia yang tidak menyentuh donat itu saat disuguhi?

Loncat ke hal lain, ternyata memang manusia yang sedang dalam kondisi tertekan terkadang akan memunculkan reaksi yang tidak semestinya dia lakukan. Marah, menangis, depresi, makan berlebihan, tidur yang terlalu lama adalah beberapa contoh reaksi dari orang yang sedang ada dalam kondisi tertekan. Penyebabnya bisa berbagai macam, umumnya berawal dari situasi dan kondisi yang di luar kebiasaan dan menuntut manusia untuk bereaksi dalam periode waktu tertentu.

Selalu ada pemicu dalam setiap reaksi yang tidak semestinya itu, entah kata-kata yang menyakitkan hati, entah sikap yang tidak pas, entah tatapan/sorot mata, entah apa pun saja. Namun kadang yang memicu adalah kesalahpahaman.

Padahal sebagai manusia yang mengaku beriman, Allah sudah berjanji bahwa:

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan [5], sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” [6]. (Q.S Al-Insyirah ayat 5-6).

Tetap saja kita seringkali khilaf dan saling menyalahkan satu sama lainnya. Sibuk di dalam membahas masalahnya, lupa pada upaya mencari solusi. Walau seringkali saat perdebatan kusir terjadi, justru diam adalah hal yang paling efektif untuk mengakhiri itu semua.

Rasulullah sudah jelas terkait hal ini, beliau bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari & Muslim)

“Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”

Diam, berwudhu dan sholat sunnah. Seharusnya begitu lah tahapan yang harus dilakukan orang yang mengaku beriman saat stress sedang melanda.

Umumnya setelah tahapan-tahapan itu dilakukan, kita akan menyadari bahwa segala kekhawatiran kita tadi, segala yang kita pikir sebagai tekanan tadi hanyalah karena kita terlalu memfokuskan diri melihat pada dimensi dunia saja, berharap pada urusan-urusan dunia dan melupakan nikmat dari Allah yang begitu luar biasa. Lupa bersyukur akan nikmat-Nya, dan banyak berharap pada dunia. Itu lah dasar dari semua stress yang melanda diri kita.

Stress juga terjadi dikarenakan niat kita di dalam beraktivitas itu salah. Sebagai seorang yang mengaku beriman, selayaknya semua niat bersandar kepada Allah semata. Jika semua perbuatan kita niatkan dengan ikhlas demi mengharap ridha Allah, insya Allah apapun hasil yang diperoleh tidak akan membuat kita stress.

Coba kita ingat-ingat bacaan yang selalu kita baca minimal 5 kali sehari diawal sholat berikut ini.

“Allah maha besar lagi sempurna kebesarannya, segala puji hanya kepunyaan Allah, pujian yang banyak, dan maha suci Allah di waktu pagi dan petang.”
“Kuhadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan berserah diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin.” “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya, dan aku adalah golongan dari orang muslimin.” (Do’a Iftitah)

Bila kita telah dan selalu memperbarui niat hidup dan mati kita hanya untuk Allah semata, sehari minimal 5 kali, tentunya kita akan tidak terlalu tertekan dengan segala drama kehidupan dunia ini. Bila masih stress, mungkin saja karena kita tidak memahami apa yang kita baca saat sholat.

Perbanyaklah membaca Qur’an, selalu ada jawaban akan setiap kegelisahanmu di sana. Jadi tidak perlu lagi engkau bermuram diri. Terlepas apakah urusan keuanganmu berantakan, hutang yang membelitmu, mobil yang tidak laku-laku, urusan pindahan rumah yang penuh drama, biaya hidup keluarga yang kamu tidak tahu bagaimana mencukupinya, orang tua yang sakit, banyaknya persyaratan yang belum kamu penuhi untuk pemenuhan urusan beasiswa-mu, klien-klien di kantormu yang tak kunjung deal, pimpinan di kampus yang tidak mendukung perkembangan karirmu ataukah urusan istrimu yang terus menerus meminta cerai.

Percayalah bahwa “…sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan [5], sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” [6]. (Q.S Al-Insyirah ayat 5-6).

Semua ini harus dilalui, akan kita lalui dan pasti dapat kita lalui selama kita berpegang pada Sang Maha Perkasa, Tuhan Penguasa Alam Semesta dan segala isinya.