Kawan

Cikutra (22.56)

Sebenarnya ini tulisan lama, tepatnya bulan Agustus 2016, tersimpan begitu saja di draft wordpress tanpa sempat kuposting. 

Kawan, satu kata yang memiliki banyak interpretasi.

Namun, umumnya kita mengartikan kawan serupa dengan definisi yang tertulis di dalam KBBI “orang yang sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu (dalam bermain, belajar, bekerja, dan sebagainya); teman; sahabat; sekutu”

Tetapi, apakah hal tersebut berlaku sama untuk semua orang?

Lalu bagaimana dengan orang yang dekat secara emosional namun jarang berhubungan dikarenakan satu dan dua kondisi? (jarak/waktu) atau orang yang relatif baru dikenal namun kita merasa “click” dan seolah sudah mengenalnya sedari lama?

Bagi sebagian orang, jumlah kawan adalah hal yang penting. Bagi orang lain, level pendidikan dari kawan itu lah yang penting. Dan bagi yang lain, status sosial dan kekayaan dari kawan itu lah yang penting. Hal itu seolah menguatkan status sosial orang tersebut. Mendompleng popularitas dari kawan. Bangga bila memiliki kawan dari golongan artis, pejabat, berpangkat, professor, “orang penting”, apapun itu.

Bagiku, definisi kawan lebih sepaham dengan kutipan dari Sayyidina Ali ini “Seorang teman tidak bisa dianggap teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: di saat engkau membutuhkannya, di belakangmu, dan setelah kematianmu”.

Doa memohon perlindungan, rizki dan hidayah

Sebagai bagian dari Jamaah Maiyah, saya hanya ingin membagikan sedikit informasi yang saya dapatkan dari CN, yang siapa tahu bermanfaat bagi orang lain.

Berikut di bawah ini adalah Doa memohon perlindungan, rizki dan hidayah.

– Shalawat 3x
– Al-Fatihah
– Surah An-Nas
– Surah Al-Falaq
– Surah Al-Ikhlas
– Al-Fatihah
– Allahummahfadhna ya Hafiidh
– Allahummarzuqna ya Rozzaq
– Allahummahdina ya Haadi.

Selanjutnya kembali ke awal (dibaca 3 set)

Keadilan itu adalah ketepatan dan kepresisian

Cikutra (21.11)

Segala problematika yang terjadi entah dalam skala global, nasional, regional, lokal maupun keluarga adalah karena adanya ketidakadilan.

Hukum itu adalah alat, obyek, sementara subyeknya adalah keadilan.

Malam ini tepat semua barang-barang dari rumah Sariwangi berpindah ke Cikutra, rumah mertua. Bukan dalam arti menetap di Cikutra, melainkan sebagai persinggahan sementara sebelum berpindah ke lokasi yang sebenarnya.

Kepindahan ini adalah kepindahan yang tertunda, setidaknya itu menurut pendapatku. Seharusnya kepindahan ini sudah berlangsung pada bulan Juli, tahun 2016 yang lalu. Namun karena berbagai drama dan lain sebagainya hingga harus tertunda hingga tahun 2017, yang ternyata kembali tertunda hingga saat ini.

Bila kepindahan ini ibarat makanan, dari nasi ini sudah menjadi bubur dan dari bubur mungkin sudah menjadi kerupuk beras (karak atau gendar).

Semua bisa terjadi dikarenakan adanya unsur ketidakadilan. Ada sepihak yang diuntungkan dan pihak lain yang dirugikan. Ada pihak yang ingin menetap, dan ada pihak lain yang harus berkorban untuk menerima segala konsekuensi logis dari semakin lamanya kepindahan ini tertunda.

Bagaimana tidak, mulai dari biaya kontrak rumah, biaya transportasi mondar mandir kota A ke kota B, biaya hidup dan lain-lainnya menjadi konsekuensi dari tertundanya kepindahan ini.

Namun demikian, bayaran dari ini semua adalah sebuah harapan. Membeli harapan untuk diri sendiri, anak dan keluarga dengan cara yang harus menumbalkan yang lain.

Langkah ini bukanlah langkah yang ideal, namun terkadang dalam satu kondisi harus dilakukan. Untuk kepentingan yang lebih besar konon.

Sekarang momen yang dulu ada sudah berubah, tidak ada lagi antusiasme menempati rumah di kota B. Terlalu banyak kekecewaan yang berulangkali terjadi mungkin. Mungkin juga karena hal ini sudah basi.

Tetap saja aku fokus dengan hal-hal yang produktif yang bisa aku lakukan. Biarkan saja semua kenegatifan itu ada, yang penting adalah aku tetap positif, produktif dan menyimpan harapan untuk masa depan yang lebih baik.