Ngono yo ngono, ning mbok yo ojo ngono

Bandung, Cikutra (16.45)

“Never make a decision in anger and never make a promise in happiness.”
~ Sayyidina Ali bin Abu Thalib

Seringkali seseorang menyesali perbuatan dan perkataannya di saat dirinya sedang marah ataupun bahagia. Saat emosi marah atau bahagia meliputi seseorang, dia berada dalam fase yang beyond normal. Tubuhnya sedang ada di dalam fase tidak seimbang, tidak presisi dan tidak tepat. Seyogianya kita sebagai manusia selalu balance dan presisi. Bukankah kita selalu meminta untuk ditunjuki jalan yang lurus? (Al-Fatihah, 6)

Lalu bagaimana bila dalam suatu kondisi kita dalam keadaan marah dan harus memutuskan suatu perkara yang krusial? Atau sebaliknya, kita harus memberikan janji kepada seseorang di saat kita sedang dalam keadaan bahagia? Di sini lah permasalahan tersebut dimulai.

Pencarian ketepatan diri itu adalah sebuah proses yang berkelanjutan, tanpa henti. Karena di saat berinteraksi dengan manusia, selalu saja ada perbedaan nilai dari suatu keadilan. Adil menurutmu, belum tentu adil menurutnya. Adil menurutku, belum tentu adil menurutmu, dan begitu seterusnya.

Lalu, apakah keadilan adalah suatu hal yang tidak mungkin terwujud dalam skenario kehidupan manusia? Keadilan secara absolut memang tidak mungkin tercapai. Namun bukan berarti upaya untuk terus menerus berusaha mencapai keadilan tidak perlu dilakukan, sebaliknya justru ikhtiar di dalam mencapai ketepatan dan kepresisian hidup itu lah yang akan menjadi pembeda antara orang yang satu dengan yang lain.

Oleh karenanya jangan pula kita membatasi diri di dalam kebaikan. Jangan sampai ternyata kita sudah mengharamkan hal yang seharusnya adalah halal. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mengharamkan yang halal sama dengan orang yang menghalalkan yang haram.” (HR Thabrani).

Bersilaturahmi dalam batas kewajaran adalah halal, jangan sampai hal ini diharamkan. Sama halalnya dengan meminum jus alpukat. Ini halal bila diminum sewajarnya oleh orang yang sehat. Namun dia akan menjadi haram saat diminum oleh orang yang mengidap sakit diabetes, terlebih bila jus tersebut dicampur dengan susu kental manis.

Ketepatan di dalam bersikap ini lah yang seharusnya melandasi perilaku kita sehari-hari, sehingga apapun yang kita hasilkan tidak akan kebablasan jika ditilik dari dimensi kutub manapun.