Anak

Sekitar Gubeng, Surabaya (01.00)

Bicara tentang anak semua orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi manusia yang pintar, santun dan sholeh.

Ada yang membanggakan kecerdasan anaknya, ada yang membanggakan keahlian olahraganya ada juga yang membanggakan hafalan Qur’an anaknya.

Sebenarnya dalam Qur’an tentang anak ini disinggung dari beberapa perspektif, diantaranya:

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 14)

Dimana ayat tersebut bicara tentang anak-anak sebagai bagian dari kesenangan hidup di dunia.

Dalam ayat lain Qur’an bercerita tentang:

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)

Di sini firman Allah swt menyatakan bahwa anak adalah bagian dari cobaan hidup.

“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 6)

Pada ayat ini Allah berfirman tentang anak-anak sebagai bantuan yang diberikan oleh-Nya.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 46)

Sementara pada Al-Kahf ini dikisahkan bahwa anak adalah perhiasan kehidupan dunia.

Terdapat banyak perspektif tentang anak yang dapat kita kaji dari Qur’an namun tidak ada satu pun yang mengisahkan bahwa anak adalah segalanya.

Bukankah juga dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim yang mandul bahkan harus mengurbankan anaknya?

Dalam konteks yang berbeda saya cenderung sependapat dengan pemikiran dari pujangga oriental Kahlil Gibran, dalam Sang Nabi dia menulis satu chapter tentang anak yang amat indah.

Bicaralah pada kami tentang anak keturunan.
Maka jawabnya:
Anakmu bukan milikmu;
Mereka putera-puteri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri;
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau;
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan paksakan bentuk pikiranmu;
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri;
Patut kauberikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.
Kau boleh menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, pun tidak tenggelam di masa lampau.

Kau lah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya.
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan Sang Pemanah.
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat.
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s