IQ skor vs Multiple Intelligence?

#Latepost Somewhere di Surabaya

Sebenarnya hal yang logis dan dapat dimaklumi bila setiap orang tua mendambakan jika anaknya itu bakal jadi anak yang pinter, cerdas dan berbudi pekerti luhur. Oleh karena itu, sudah lazim bagi setiap orang tua mendengar istilah IQ (Intelligence Quotient) atau nilai kecerdasan seseorang. IQ ini adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ.

Nyambung dengan IQ ini, saya sampai saat ini masih terkagum-kagum dengan hasil test IQ kakak saya dulu. Karena skor hasil tesnya yang menurut saya saat SMP waktu itu emang cukup fenomenal, sampai-sampai saya masih ingat persis ketiga digit hasilnya, yaitu 1-4-9. Emang dahsyat si Kakakku yang satu itu. Ngapalin apapun cepet, ngitung-ngitung jago, analisanya dalam dan lain sebagainya, giliran lulus SMA diterima di dua kampus papan atas Indonesia (UI dan UGM) tanpa perlu ikutan tes-tes-an (dia akhirnya memilih opsi yang pertama).

Tapi… saya sendiri heran, kok dengan IQ yang setinggi itu dia lulus kuliahnya pas-pas-an dan ada hal-hal lain yang menurut saya seharusnya bisa diatasi dengan mudah, ternyata ya gak gitu-gitu amat. Dibandingkan dengan otak saya yang pas-pas-an (130-an), seharusnya dia akan jauh lebih mudah berkompetisi dalam hal apapun. Ternyata tidak selamanya demikian.

Jadi kendalanya dimana? Apakah validitas IQ yang sudah tidak relevan? Sehingga perlu adanya test EQ (Emotional Intelligence), SQ (Spiritual Intelligence), atau AQ (Adversity Intelligence)?

Kalau buat saya, sebenarnya lebih cenderung sepakat sama pemikiran mister Howard Gardner tentang Multiple Intelligence.

Teori tentang Kecerdasan Majemuk ini bergema sangat kuat di kalangan pendidik karena menawarkan model untuk bertindak sesuai dengan keyakinan bahwa semua anak memiliki kelebihan.

Gardner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: Teori Multiple Intelegences tahun 1983 mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah suatu menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya. Pada mulanya Gardner menyatakan ada tujuh jenis kecerdasan.

Kecerdasan Bahasa atau linguistik: terdiri dari kemampuan untuk berfikir dalam kata-kata, dan meggunakan bahasa untuk mengungkapkan dan mengapresiasi makna yang komplek. Pekerjaan yang sesuai bidang ini: penulis, penyair, jurnalis, pembicara, penyiar warta berita dll.
Kecerdasan Logika matematika: kemampuan untuk menghitung, mengukur, mempertimbangkan dalil atau rumus, hipotesis dan menyelesaikan operasi matematik yang kompleks. Ilmuan, ahli matematika, akuntan, ahli mesin dan programmer computer, semua menunjukkan kecerdasan matematik yang kuat.
Kecerdasan Intrapersonal: merujuk pada kemampuan untuk membangun anggapan yang tepat pada seseorang dan untuk menggunakan sejenis pengetahuan dalam merencanakan dan mengarahkan hidup seseorang. Beberapa orang yang menunjukkan kecerdasan ini adalah teolog, psikolog, filsuf.
Kecerdasan interpersonal: kemampuan untuk memahami orang dan membina hubungan yang efektif dengan orang lain. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh guru, para pekerja sosial, actor, atau politisi.
Kecerdasan Musik atau musikal: kepekaan terhadap titinada, melodi, irama dan nada. Orang yang menunjukan kecerdasan ini adalah komposer, dirigen, musisi, krtikus, pengarang musik, bahkan pendengar musik.
Kecerdasan Visual dan Kecerdasan Spasial: kemampuan untuk mengindera dunia secara akurat dan menciptakan kembali atau mengubah aspek-aspek dunia tersebut. Kecerdasan ini seperti yang tampak pada keahlian pelaut, pilot, pemahat, pelukis dan arsitek.
Kecerdasan kinestetik: kemampuan untuk menggunakan tubuh dengan trampil dan memegang objek dengan cakap. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh para atlet, penari, ahli bedah, masyarakat pengrajin.

Kemudian sesuai dengan perkembangan penelitiannya, pada tahun 1990-an, Howard Gardner memasukkan kecerdasan yang ke delapan yaitu kecerdasan alamiah (naturalis).

Kecerdasan Alam atau Kecerdasan Naturalis: kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasi aneka spesies, tumbuhan atau flora dan hewan fauna, dalam lingkungan. Ahli Biologi, pecinta alam, penjelajah alam dll.

Menurut Gardner, semua orang unik dan semua orang memiliki caranya sendiri untuk memberikan kontribusinya bagi budaya dalam sebuah masyarakat. Dalam penelitiannya tentang kapasitas (kemampuan) manusia, ia menetapkan kriteria yang mengukur apakah bakat seseorang benar-benar merupakan kecerdasan. Setiap kecerdasan pastinya memliki ciri-ciri perkembangan, dapat diamati bahkan dalam kasus khusus seperti sebuah kejadian ajaib pada penderita idiot atau autis savant, mereka semua membuktikan adanya pemusatan pada otak dan menciptakan sebuah rangkaian simbol dan notasi.

Gardner menyatakan bahwa setiap orang memiliki semua komponen (spectrum) kecerdasan, memiliki sejumlah kecerdasan yang tergabung yang kemudian secara personal menggunakannya dalam cara yang khusus.

Dia telah memecahkan teori tradisional tentang kecerdasan yang telah melekat menjadi dua keyakinan dasar masyarakat, bahwa kemampuan seseorang adalah sebuah kesatuan dan bahwa semua individu cukup digambarkan dengan sebuah kecerdasan tunggal yang dapat diukur (contoh kasus skor pada IQ).

Gardner menilai teori ini berfokus secara berlebihan pada kecerdasan linguistik dan matematik sehingga menghambat pentingnya mengetahui tentang bentuk kecerdasan yang lain.

Banyak siswa yang gagal menunjukkan prestasi akademiknya dikategorikan dalam penghargaan yang rendah sehingga mereka menjadi low esteem dan kemampuan mereka yang sebenarnya menjadi tidak terlihat dan hilang dari pengamatan masyarakat secara luas.