Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people

Ada kejadian anak kecil manjat tiang bendera viral di internet, kita heboh, ada skandal artis viral di socmed, kita heboh, ada obyek wisata baru dan viral di IG, kita heboh, ada perdebatan politik ramai di TV nasional, kita heboh.

Tanpa sadar kita sudah terbiasa menjadi masyarakat yang selalu heboh dengan berita-berita yang muncul. Sedikit-sedikit heboh, ngomongin kejadian, ngomongin orang, ngomongin peristiwa.

Elanor Roosevelt pernah berkata: “Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.” Seolah tidak ingin percaya, namun begitu lah fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Apakah ini berarti bahwa masyarakat kita dipenuhi dengan orang-orang yang berpemikiran sempit dan “biasa”?

Pemikiran dan gagasan menjadi hal yang langka, di saat mahasiswa sudah dengan mudahnya meng-copy-paste tulisan skripsi dari artikel-artikel yang mereka temukan di internet, saat orang-orang sibuk mengklaim “penemuan” yang sebenarnya mereka temukan dari dunia maya.

Semakin langka orang yang tampil otentik, menampilkan jati dirinya sendiri, menyuarakan gagasan orisinil yang muncul dan tumbuh dari pemahaman dalam pemikiran dan perasaan mereka yang sejati.

Tapi mungkin memang harus demikian, kita harus legowo dengan menjadi masyarakat yang berpemikiran sempit dan average. Kita harus berpuas diri untuk membenarkan anggapan Alfred Sauvy orang Perancis yang pertama kali menyebut kita sebagai bangsa kelas tiga (third world countries). Karena memang asumsi dia tentang kita adalah benar adanya.

Yang pasti seberapa menyakitkannya kenyataan itu, selama kita masih senantiasa heboh dengan segala keviralan di dunia maya, selama kita masih sibuk membahas gosip, kehidupan personal artis, dan berita-berita gak penting lainnya, jangan berharap akan muncul sesuatu yang bermanfaat di sana.

Qur’an sendiri menyatakan hal penggunaan akal ini dengan amat jelas, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati, dan Dia sebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh, merupakan tanda-tanda bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya.” (QS Al Baqarah, 164)