Tempat para pemberani (atau konyol)

Pagi ini saya kembali ke sini.

Bukan, bukan karena saya ingin menikah lagi. Juga bukan karena saya ingin bercerai. Bukan tentang itu semua.

Namun yang pasti pagi ini saya memprioritaskan ke sini ketimbang memenuhi undangan dari kampus, yang artinya bila ditinjau dari skala prioritas maka otomatis kedatangan saya ke sini lebih penting daripada menghadiri rapat di kampus.

Dengan suasana hati yang berbeda saya datang kemari, tidak seperti terakhir kalinya saya kemari (beberapa bulan yang lalu) untuk pengurusan administrasi yang gak penting itu.

Tapi yang pasti, saat ini saya mengantuk. Bagaimana tidak, baru saja pukul 04.30 tadi saya mampu memejamkan mata dan pukul 07.00 sudah bangun untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sini.

Walau amat ngantuk, saya masih sempat mengamati suasana pagi ini di sini. Kebanyakan orang-orang yang datang kemari mengeluarkan ekspresi yang tidak menyenangkan. Semua memendam permasalahan dalam diri. Ada yang mampu mengendalikannya dengan baik, dan sebagian besar tidak mampu menyembunyikannya.

Terdengar beberapa anak kecil yang menangis, mungkin mereka hanya bisa mengekspresikan dirinya dengan ekspresi itu di saat orang tuanya yang sedang bermasalah memilih untuk mengajak mereka kemari. Bisa juga mereka tidak memiliki opsi untuk menitipkan anak mereka, atau kehadiran anak adalah requirement dari pengadilan. Entahlah.

Ramai, seperti pasar tetapi pasar yang penuh dengan emosi negatif. Itu lah gambaran yang lebih baik dari suasana di sini.

Terlihat beberapa raut sok sibuk para pengacara dengan padanan kemeja dan dasi yang gak matching, para penggugat ataupun tergugat yang menunggu dengan tegang, yang cuek, dan yang santai. Semua bercampur aduk dalam satu area yang bernama Pengadilan Agama Kota Surabaya.

Tapi mereka semua adalah para pemberani, atau konyol. Pemberani karena mereka berani mengambil sikap atas hidup mereka, atau konyol karena mungkin ini semua tidak perlu terjadi jika komunikasi bisa dilakukan dengan baik di rumah tangga mereka.

Saya pun kembali merenung, mencoba berempati dan tidak mau terlalu jauh berasumsi dengan segala hiruk pikuk di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s