Malam ini setahun yang lalu

Di saat orang-orang sibuk mencari kesalahan orang lain, kamu tetap tertawa riang.

Di saat orang-orang berdrama dan bermain peran menampilkan puluhan bahkan ratusan wajah yang berbeda, kamu tetap tersenyum.

Di saat semua meratapi nasib, menjadikan dirinya obyek penderitaan, kamu tetap gigih belajar berjalan walau ratusan kali jatuh dan bangun.

Di kala manusia-manusia mencari kebahagiaannya dengan mengejar dunia, kamu senantiasa berbahagia akan apa yang ada.

Di hari ini, setahun lalu kamu berjuang, berusaha untuk memenuhi panggilan takdirmu untuk hadir di muka bumi ini.

Kamu memberanikan diri untuk mengangkat tangan, bersukarela mengajukan dirimu untuk memenuhi panggilan agung surgawi, turun ke bumi menjalankan khithahmu sebagai mahluk dengan jasad dan keterbatasan.

Tak pernah kamu tahu seperti apakah sosok pengasuhmu kelak, tak punya kamu pilihan untuk memilih yang mana dan siapa yang akan mengurusmu nanti.

Kamu hadir, berani, tampil di langit, di saat mungkin masih ada miliaran atau triliunan jiwa lainnya terdiam dan bertanya-tanya, “haruskah aku menjalani kodratku sebagai mahluk di dunia”

Malam ini tepat setahun yang lalu kamu sudah tak sabar, untuk meneteskan air mata pertamamu, meneriakkan suaramu untuk pertama kalinya, tak sabar untuk mendengarkan lantunan suara adzan di telingamu, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…” dan hadir ke alam ini dengan menyandang nama Khaleefa Izarra Putri Asmoro.

Cumbuanku dengan-Nya

Kenikmatan bercumbu dengan Sang Semesta itu datang justru pada saat diri merasa tak memiliki apa dan siapa.

Saat kuucapkan “Allah Maha Besar“, saat itu pula diri menjadi sirna tak berarti, kecil dan tiada.

Saat kutundukkan diri dan berkata “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung dan dengan puji-Nya” disaat itu aku meratapi kehinaan aibku yang tak terhitung, jiwa yang penuh najis, pikiran yang seperti sampah, kotor dan negatif.

Saat kubangkit dari rukukku dan berkata “Allah sungguh mendengar para pemuji-Nya, Ya Allah Tuhan kami ! Bagi-Mu segala puji” dimomen itu aku meyakini diri ini telah lalai, karena terlalu sibuk berbicara dan ingin didengar tanpa mau mendengar.

Saat kukecup mesra bumi tempatku memijak dan berbisik lirih “Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Luhur dan dengan puji-Nya” disaat itulah aku meratapi betapa kotor dan rendahnya diri ini dengan segala dosa dan kelalaian, betapa tidak berartinya ego dan segala yang kita miliki. Betapa materialistiknya kita yang selalu memikirkan hal-hal duniawi dan melupakan keluhuran pekerti.

Dan kulanjutkan memohon kepada Yang Maha Mendengar “Ya Allah, Ampunilah aku, Belas kasihanilah aku, Cukupkanlah segala kekuranganku, Angkatlah derajatku, Berilah rezeki kepadaku, Berilah petunjuk kepadaku, Berilah kesehatan kepadaku, dan berilah ampunan kepadaku

Karena ku tahu, karena ku yakin, hanya Dia lah sejatinya tempat aku memohon, hanya Dia lah sejatinya tempat ku meminta perlindungan.