Orang baik dan orang jahat (part 1)

295303_542567619128511_1360670348_n_zps0146899fKita sering mendengar kisah dari kawan-kawan yang menceritakan bahwa si A itu baik, si B itu jahat. Kita juga sering membaca, menonton dan menyaksikan tentang kisah-kisah kebaikan seseorang ataupun kejahatan seseorang. Pertanyaannya adalah apakah benar, bahwa yang dikatakan baik itu adalah baik dan yang jahat itu adalah jahat? Terlihat seperti sebuah pernyataan yang ambigu, bukan? Oleh karenanya, ada baiknya kita mencoba melihat beberapa kriteria dari setiap individu yang berbeda. Pertama adalah tentang ciri-ciri dari orang baik, dan dilanjutkan dengan postingan saya selanjutnya yang memberikan penjelasan tentang ciri-ciri orang jahat.

Orang baik itu selalu tersenyum

Mungkin sulit menemukan studi empiris yang mendukung asumsi ini. Bahwa mereka yang gemar tersenyum adalah mereka yang lebih baik daripada mereka yang selalu bermuka masam. Lebih jauh, untuk dapat tersenyum apalagi kepada mereka yang tidak sama sekali kita kenal dibutuhkan lebih dari tarikan otot di muka, tapi juga keberaninan dan niat untuk bersikap ramah.

Sebuah studi menemukan jawaban bahwa orang yang tersenyum akan memberikan manfaat positif seperti memperbaiki mood, mampu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, menciptakan hubungan yang lebih baik, memperkuat fungsi imunitas tubuh, mengurangi rasa sakit dan ujung-ujungnya adalah konon mampu memperpanjang usia.

Satu hal yang pasti, bahwa dengan senyuman yang tulus maka kita juga menuruti perilaku yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. (H.R. Muslim no 2626).

Jadi jangan pasang muka masam ya, belajar untuk terus berlatih memberikan senyumanmu.

Berpikiran Positif

Susah-susah gampang lho buat selalu senantiasa ber-husnuzon (berbaik sangka/positive thinking) itu. Mari kita perhatikan ke sekeliling kita. Pasti akan selalu ada beberapa orang yang gemar sekali berkomentar negatif, atau memikirkan hal negatif yang sama sekali di luar nalar kalian. Mereka yang dengan senang hati mengumbar aura negatif itu biasanya memang akan dihantui dengan bayangan-bayangannya. Kok bisa ya memelihara hal yang merugikan diri mereka sendiri? Apa mereka tidak lelah?

Artinya, mereka yang punya aura dan pikiran positif adalah sebaliknya? Mereka berkomentar positif, memberikan ide-ide dan gagasan positif yang membangkitkan semangat, dan terlepas bagaimanapun situasi yang mereka hadapi, mereka tidak putus asa dan tetap optimis, apalagi sampai meninggalkan suatu masalah yang ujung-ujungnya justru menciptakan masalah baru – itu sih sudah tidak bertanggungjawab namanya. Dalam hal ini Viera Biffer memberikan definisi Positive Thinking dengan: “mengambil manfaat dengan menggunakan akal kesadaran dengan penuh kerelaan dalam bentuk yang positif“. (Said, 2010: 18).

Padahal Allah sendiri sudah memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir positif. Kita harus yakin bahwa segala ketentuan Allah SWT adalah yang terbaik. Sebab, boleh jadi apa yang menurut kita baik, sebenarnya tidak baik bagi kita. Sebaliknya, boleh jadi apa yang menurut kita tidak baik, sebenarnya baik bagi kita:

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Rendah hati dan tidak sombong

Menjadi tidak sombong adalah salah satu hal paling sulit di dunia ini. Maka kita menaruh hormat yang paling dalam kepada mereka yang jauh dari sifat sombong.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S Luqman: 18)

Meminta Maaf, Tolong, dan Berterimakasih

Tiga ungkapan itu sudah mulai jarang terdengar di masyarakat kita. Mereka yang terbiasa dengan sopan mengungkapkan tiga kata itu saya rasa adalah mereka yang punya integritas dan menaruh hormat kepada lawan bicaranya. Tentunya pernyataan ini jika berangkat dari hati yang tulus, bukan ungkapan yang didasari niatan kemunafikan.

Rasulullah dalam hal meminta maaf bersabda : “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra)

Meminta maaf, tolong, dan berterimakasih sepintas terdengar ringan. Tetapi jika tidak dibiasakan maka akan sulit dilakukan. Ketiga hal ini bukan saja menimbulkan aura positif dan kindness dari mereka yang melakukannya, tapi juga melahirkan rasa kepercayaan dari orang lain.

Baginda Rasulullah khusus dalam hal berterima kasih ini mensabdakan sebagai berikut, “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah, siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia“. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud; shahih)

Mem-posting hal yang bermanfaat

Dunia maya seringkali menjadi alter ego bagi mereka yang tidak nyaman dengan dunia nyata. Terlepas dari jutaan manfaatnya, dunia maya melalui situs-situs populer di dalamnya hadir menjadi wakil diri kita dalam tatanan dunia lapis kedua itu.

Penyebaran berita dan informasi di internet akan dengan segera dapat diakses oleh siapa saja. Artinya, saat kamu memutuskan untuk memposting sesuatu ke dunia maya, apapun itu, saat itu juga kepemilikan kamu atas hal tersebut akan hilang. Untuk itu dibutuhkan lebih dari sekadar kesadaran moral dan tanggungjawab dalam mengakses internet.

Dan mereka yang secara apik menyaring postingan mereka di dunia maya termasuk orang-orang yang baik. Karena mereka peduli.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Mampu mengendalikan emosi

Secara alami, kita diciptakan memang komplit dengan emosi. Sebuah anugerah yang punya dua sisi. Baik dan buruk, Tergantung bagaimana kita mengelolanya. Karena pada dasarnya emosi itu bisa dikendalikan, dengan akal. Kemampuan mengendalikan emosi ini butuh latihan, itu kenapa jika kita perhatikan anak-anak akan dengan mudahnya menangis di tempat umum, merengek-rengek untuk minta dibelikan sesuatu, dan sebagainya. Ini wajar, karena perangkat akal yang dimiliki oleh anak belum utuh. Namun, bila perilaku emosi yang tidak terkendali dilakukan oleh orang yang sudah dewasa, tentu memunculkan tanda tanya.

Pada dasarnya pengendalian emosi ini adalah bahasa “sok keren” dari kesabaran. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini.” – Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Allah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az-Zumar : 10).

Entah emosi yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Saat kita bisa dengan matang mengendalikan luapan emosi, saat itu kita akan merasa sebuah kemerdekaan dan kelegaan batin. Merasa memiliki diri sendiri seutuhnya dan menuju kebaikan yang lebih besar.

Tidak salah jika Umar bin Khattab berkata, “Aku tidak peduli diberi kesusahan atau kesenangan karena aku tidak tahu mana yang lebih baik dari keduanya agar aku dapat lebih bertakwa kepada Allah”. – Umar bin Khattab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s