10 hari berlalu tanpamu

photo of head bust print artwork

Tidak terasa sudah 10 hari berlalu tanpamu, tanpa tulisanku di sini. Itu semua karena kata-kataku tertuang dalam bentuk yang berbeda.

Sabar ya, toh aku tak kemana-mana. Aku di sini, sedang mengerjakan sesuatu yang memang harus kukerjakan. Bukan karena keinginanku untuk meninggalkanmu, namun karena keharusanku.

Bisa kah kamu berempati kepadaku? Memaklumiku? Karena jari-jariku hanya sepuluh dan tak mampu aku membagi kesepuluh jari ini untuk menulis dua hal yang berbeda di saat yang bersamaan. Aku mungkin tidak secanggih Google. Aku mungkin memang tak secanggih Windows.

Tapi bukan berarti aku melalaikanmu, aku hanya harus berpaling untuk sementara. Aku memang harus menempa otak kiriku. Mungkin memang sudah saatnya untuk harus mengistirahatkan otak kananku, sejenak.

Pergilah kamu bermain-main ke relung mimpi, fantasi dan imajinasi. Aku bebaskan kamu untuk melepas segala hasratmu bahkan hingga ke titik ilusi terliarmu. Toh kamu tetap ada di situ, tak mungkin kamu keluar dari dalam penjara pikiranku. Disaat yang sama aku sedang memperbudak kesadaran, penalaran, logika, analisa dan emosiku.

Hingga saatnya tiba, kamu toh pasti akan kupanggil kembali, kutimang, kuhadirkan dalam wujud yang berbeda. Kubanggakan dirimu pada Sang Pencipta, sebagai bukti aku tidak menyia-nyiakan pemberian terindah-Nya.