Singa tetaplah singa, hiu tetaplah hiu

Hari ini sudah pas 25 hari kamu jauh dari Papap. Tidak terasa mungkin jika diakumulasikan 1/4 waktu hidupmu jauh dari Papap. Itu lah nasibmu Nak. Bukan mau Papapmu yang pasti. Mungkin kamu belum mengerti, mungkin juga kamu sudah mengerti.

Tapi memang di dunia ini akan selalu ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Bersabarlah, karena semua itu akan berganti. Sebagaimana angin barat berganti dengan angin timur, sebagaimana matahari akan selalu menggantikan bulan. Nikmati saja segala nikmat yang ada, sampai saatnya nanti kamu bisa memilih. Maka pilihlah yang kamu yakini akan membawamu ke tempat yang lebih tinggi.

Jangan mudah terpengaruh dengan bisikan kemalasan yang justru akan meninabobokanmu dari kenyataan hidup. Berdirilah dengan tegak, berancang-ancanglah, dan melompatlah setinggi mungkin. Terbang jika kamu bisa. Gapai apa harus kamu gapai, raihlah kemenanganmu dengan cara yang Dia sukai. Cintailah Dia setulusnya.

Kamu hidup di lingkungan yang tidak menunjangmu untuk berkembang, terima saja demikian. Tapi jangan lupa, dalam darahmu mengalir darahku, darah pejuang – walau tidak dapat dipungkiri ada pula benih-benih yang berbeda. Tapi yakinlah, kamu bukan seperti yang kamu bayangkan. Kamu lebih hebat daripada itu. Seekor hiu akan tetap menjadi hiu, walaupun ditengah-tengah kerumunan teri. Biarkan teri-teri itu mengelilingimu, karena kamu hiu kecilku.

Sebagaimana seekor bayi singa di tengah-tengah ternak kambing, sapi dan ayam. Biarlah mereka mentertawakanmu karena lucunya dirimu, lembutnya bulumu, hingga suatu saat nanti – bila sudah cukup masa-nya. Kau mengaum dan memakan semua ternak itu, sampai habis tak tersisa, untuk mengenyangkan rasa laparmu yang kau pendam sekian lama. Karena kamu seekor singa.

Sabar ya Nak, Papapmu senantiasa mendoakanmu. Agar dirimu selalu dalam perlindungan-Nya. Dari Papapmu yang mencintaimu. Peluk cium selalu.

Bias konfirmasi dan Aphophenia

quote-apophenia-means-finding-pattern-or-meaning-where-others-don-t-feelings-of-revelation-peter-j-carroll-80-53-07Bias konfirmasi adalah suatu kecenderungan bagi orang-orang untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya. Kesalahan pemikiran ini menyebabkan penarikan kesimpulan yang salah dan merintangi pembelajaran yang efektif.

Bias konfirmasi terjadi ketika seseorang melakukan penarikan kesimpulan yang bersifat induktif, berdasarkan preferensi pribadi. Salah satu contoh bias konfirmasi dalam media adalah Groupthink dalam psikologi. Singkatnya ekspektasi seseorang dapat mempengaruhi persepsinya.

Bentuk lain dari bias konfirmasi adalah apophenia yaitu kecenderungan untuk memahami hubungan dan makna di antara hal-hal yang tidak terkait. Istilah tersebut pertama kali dikemukakan oleh Klaus Conrad pada tahun 1958 dalam monografinya yang berjudul Die beginnende Schizophrenie. Versuch einer Gestaltanalyze des Wahns (Sebuah permulaan dari skizofrenia. Usaha untuk menganalisis delusi). Dalam monografi tersebut, Conrad menggunakan kata “apophänie” untuk menjelaskan delusi sebagai tahap awal dalam psikosis. Etimologi dari kata tersebut merefleksikan bahwa pada awalnya penderita skizofrenia menganggap delusi atau khayalan sebagai kenyataan.

Apophenia bersifat sangat subjektif, dan terkadang juga paranoid. Segala stimuli yang diterima oleh subjek, disinggungkan oleh pikirannya dengan segala hal yang sebelumnya telah subjek alami, seperti ingatan tentang orang tua yang sakit, pengalamannya di alam bebas, ataupun sekedar kenangannya tentang kekasih. Kemudian, proses itu mentranslasikan stimuli tersebut menjadi sebuah perasaan bahwa apa yang dialaminya sekarang adalah sebuah konsekuensi dari apa yang telah ia alami sebelumnya, sekecil apapun kemungkinannya. Atau, apa yang dialaminya sekarang adalah sebuah tanda bahwa sedang terjadi sesuatu atau akan terjadi sesuatu di masa depan. Bahkan, ada yang beranggapan bahwa apophenia yang dialaminya adalah sebuah pesan dari Pencipta Semesta.

Dalam sebuah studi oleh DeYoung disimpulkan bahwa tingkat dopamin dapat meningkatkan apophenia, yang juga akan menghambat fungsi kognitif. Logika, kecerdasan, dan pemikiran analitis terkait dengan otak kiri, sedangkan otak belahan kanan berhubungan dengan kemampuan mengenali pola. Dengan demikian, apophenia dan kecerdasan tampaknya berbanding terbalik. Kurangnya dominasi otak kiri diketahui berhubungan dengan skizofrenia. Bahkan, individu dengan skizofrenia paranoid melihat pola yang tampaknya mengarah pada kejahatan, meskipun sebenarnya tidak.

Jadi begitu lah, yang dapat disintesakan dari informasi di atas pada dasarnya adalah bahwa seorang yang memiliki kecenderungan aphophenia, umumnya memiliki karakteristik: ber-dopamin rendah, kognitif terhambat, kecerdasan kurang, delusional, hidup dalam dunia khayalan, berpikiran induktif, kecenderungan skizofrenia paranoid, dan amat subyektif. Kasihan kan? Kalau saya sih mengerti orang seperti ini layak dikasihani, tapi seringkali yang bersangkutan sendiri tidak merasa dirinya demikian. Sebenarnya topik ini menarik untuk dipelajari lebih lanjut, dan coba dikaitkan dengan persepsi tentang citra sebuah destinasi, atau mungkin motivasi perjalanan seseorang ke sebuah destinasi wisata.