Singa tetaplah singa, hiu tetaplah hiu

Hari ini sudah pas 25 hari kamu jauh dari Papap. Tidak terasa mungkin jika diakumulasikan 1/4 waktu hidupmu jauh dari Papap. Itu lah nasibmu Nak. Bukan mau Papapmu yang pasti. Mungkin kamu belum mengerti, mungkin juga kamu sudah mengerti.

Tapi memang di dunia ini akan selalu ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginanmu. Bersabarlah, karena semua itu akan berganti. Sebagaimana angin barat berganti dengan angin timur, sebagaimana matahari akan selalu menggantikan bulan. Nikmati saja segala nikmat yang ada, sampai saatnya nanti kamu bisa memilih. Maka pilihlah yang kamu yakini akan membawamu ke tempat yang lebih tinggi.

Jangan mudah terpengaruh dengan bisikan kemalasan yang justru akan meninabobokanmu dari kenyataan hidup. Berdirilah dengan tegak, berancang-ancanglah, dan melompatlah setinggi mungkin. Terbang jika kamu bisa. Gapai apa harus kamu gapai, raihlah kemenanganmu dengan cara yang Dia sukai. Cintailah Dia setulusnya.

Kamu hidup di lingkungan yang tidak menunjangmu untuk berkembang, terima saja demikian. Tapi jangan lupa, dalam darahmu mengalir darahku, darah pejuang – walau tidak dapat dipungkiri ada pula benih-benih yang berbeda. Tapi yakinlah, kamu bukan seperti yang kamu bayangkan. Kamu lebih hebat daripada itu. Seekor hiu akan tetap menjadi hiu, walaupun ditengah-tengah kerumunan teri. Biarkan teri-teri itu mengelilingimu, karena kamu hiu kecilku.

Sebagaimana seekor bayi singa di tengah-tengah ternak kambing, sapi dan ayam. Biarlah mereka mentertawakanmu karena lucunya dirimu, lembutnya bulumu, hingga suatu saat nanti – bila sudah cukup masa-nya. Kau mengaum dan memakan semua ternak itu, sampai habis tak tersisa, untuk mengenyangkan rasa laparmu yang kau pendam sekian lama. Karena kamu seekor singa.

Sabar ya Nak, Papapmu senantiasa mendoakanmu. Agar dirimu selalu dalam perlindungan-Nya. Dari Papapmu yang mencintaimu. Peluk cium selalu.