Egois

w644

Saya selalu berpikiran bahwa orang yang melakukan sesuatu untuk kemanfaatan dirinya sendiri adalah orang yang egois. Saya tidak menampikkan keegoisan ini terkadang juga saya lakukan.

Apa yang saya katakan tadi selaras dengan definisi egois “caring only about what you want or need without any thought for the needs or wishes of other people” (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/selfish#translations)

Sebagai makhluk dinamis, tentunya bisa diterima bila keegoisan ini terkadang kita lakukan. Namun demikian, adalah menjadi suatu ketidakwajaran bila setelah kita mengetahui keegoisan ini, maka tetap kita lakukan terlepas itu akan membawa keburukan bagi orang lain, dan tidak ada manfaat apapun bagi kita sendiri.

Berbagai alasan pasti dengan mudah akan kita temukan, untuk melegitimasikan perilaku kita. Hanya orang-orang yang berani mengakui kesalahannya lah yang akan berprogress melangkah ke arah yang lebih baik. Segera lah meninggalkan perilaku ini, dan mulai melakukan sesuatu yang akan membawa manfaat bagi orang lain.


I always think that people who do something for their own benefit are selfish people. I do not deny this selfishness sometimes I do. What I said was in line with the definition of selfishness “caring only about what you want or need without any thought for the needs or wishes of other people” (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/selfish#translations)

Like a life that has a dynamic nature, of course, we can accept this selfishness sometimes. However, it is an infringement if after we comprehend this selfishness, then we do it regardless it will bring harm to others, and there is no advantage for ourselves.

We will find several reasons for sure, to legitimize our behavior. Only people who brave enough to acknowledge their mistakes will be the ones who will move towards a better course. Quickly leave this behavior, and start doing something benefitting others.

Sepenggal kalimat seorang istri

resolve“Saya memintanya dengan sangat agar jangan pergi ke mana-mana, tetapi apabila ia memutuskan untuk pergi juga agar membawa serta aku, karena jiwaku adalah miliknya. Di saat-saat yang berat ini saya ingin berguna baginya’.

‘Bila ditinjau kembali,’ lanjutnya, ‘seharusnya saya melakukan apa yang semula ingin saya lakukan yakni memakai setelan celana saat pergi ke Halim, juga karena saya pergi naik jip. Tetapi karena saya tahu bahwa Bapak tidak menyukainya, saya mengenakan gaun. Dia berterima kasih atas loyalitas dan dedikasi saya, tetapi sambil melihat pakaianku ia berkata bahwa saya sebagai wanita tidak bisa ikut. Pada saat itu saya merasa sebagai seorang istri samurai yang harus menerima kenyataan bahwa ia hidup di dunia laki-laki. Saya menyadari bahwa saya akan menyukarkan dia bila saya bersikeras untuk ikut’.

Segera setelah pertemuan itu Bung Karno memasuki mobil. Dewi bertanya pada diri sendiri apakah ia masih akan bertemu atau melihatnya lagi. (Oltmans, W. 2001. Bung Karno Sahabatku. p214-215)