Mind and Heart

01-The-Balance-Christian-Schloevery-Surreal-Paintings-Balance-of-Mind-and-Heart-www-designstack-co

Man lives from his heart. Humans live in their hearts. The heart is a long journey. Humans follow them, to their satisfaction, their welfare, their happiness, and their God.

Various creatures prevented him, sometimes he hindered it. The heart is the center of the will that makes people laugh and cry, sad and happy, content or desperate.

A man wanders in his heart, the mind helps him, the mind must work as hard as it can, the mind needs to revolutionize, the mind cannot sleep, the mind must be driven faster than the speed of light.

The heart does not always understand exactly what he wants. He can only be oriented to his God to get the clarity and accuracy of his will.

The mind helps to get that clarity and determination, but the mind cannot explain anything about its God.

The mind serves his heart, the heart always asks the Lord. Before God, the mind is darkness and ignorance.

If the mind wants to reach its Lord, it conforms to the law of the dimensions of its heart. If not, the mind will offer damage, entrapment, and boomerang.

If the mind is only able to offer things to its heart, then the heart will be exposed to a vacuum, and the mind itself widens the distance from its Lord.

The body will melt to the ground. The mind will dissolve in time and space. The heart will melt in God.

If the degree of the heart is lowered to the ground, if the level of mind is preoccupied with chunks of metal, then in the certainty of melting into God, they will only be ready to become piles of wood, which are burned not by God’s love, but by fire.

If the heart is only guided by the body, then it will only be scared by the age limit, by death, by poverty, by ignorance.

If the mind is only taking care of the body, if the mind does not know the end, it will change greed nature, will bloom with pride, then be shocked and disappointed by everything that is produced.

Jakarta – Agats (Papua)

Screenshot from 2018-10-12 14-35-52Agats is the capital of the Asmat Regency in Papua, home to the Asmat tribe who are famous for their unique tribal sculpture and traditional mummification practice. Located on the south side of the island of “paradise bird,” with an area of ​​nearly 30 thousand km2, with a population of 106,569 people, a density of only 3.59 people / km2. A very different figure compared to the capital city of Jakarta covering an area of ​​661.52 km2 with a density of 15,663 people / km2.

The journey to Agats is not easy, takes time and costs a lot. The trip from Jakarta alone takes at least more than 24 hours with several transits and changing planes. Precisely we leave right after midnight at 01:20 and will arrive in Timika (with transit routes in Makassar) at 09:30. In Timika there are no direct flights that can fly us on the same day, so we have to spend the night in Timika, to recommence the trip with small aircraft either with Aviastar or Trigana airlines which frequently use propeller type of small plane with a maximum capacity of 18 passengers the next day.

Travel costs as mentioned earlier are not small. At least spend IDR 4 million for a trip from Jakarta to Agats. If calculated in total, the travel costs incurred have reached IDR 8 million. Don’t forget that the number does not include the necessary transit expense in Timika due to the absence of connecting flights. Let’s compare the travel costs that must be incurred for the trip to Agats if the promo the same amount is equivalent to the price of a return ticket Jakarta – Dubai or Jakarta – Tokyo. Not a number that can be said to be small.

hipwee-www.panoramio.com_-750x422On arrival at Agats, we will see how the differences in nature, facilities, social and cultural environment are very different from what we commonly encounter in big cities in Indonesia. Quiet, quiet, limited facilities as if taking us to a dream. It’s just that this is a reality on Indonesian soil.

There is a unique feature of Agats. The condition of muddy soil and swamp makes this city must stand with road facilities in the form of boards, at a glance this road resembles a pier. The streets in Agats city resemble bridges made of ironwood. As time and technology develop, the upgraded version of these bridges took shape in stronger concrete. Until now, the development of Agats was carried out on this unique street. All buildings adjust to the form of the stage houses. The primary means of transportation in this swamp town are motorbikes, especially electric motorcycles.

This limited condition makes local governments and residents adapt to these conditions. The wooden bridge road that extends across Agats is not able to withstand heavy motorbike loads, let alone cars. Now, in addition to electric motors, Agats residents who are mostly migrants from outside Asmat rely on sea transportation in the form of motorboats or just walking if they are still inside the central residential area. Another limitation is the lack of clean water supply. The Agats have survived with rainwater collected in water storage. Swampland conditions make this land challenging to provide clean water.

937091369The next story about Agats will continue in later editions.


Agats adalah ibukota Kabupaten Asmat di Papua, rumah dari masyarakat suku Asmat yang terkenal dengan hasil seni patung tribal yang unik. Terletak di sisi selatan Pulau yang berbentuk burung cendrawasih ini dengan wilayah hampir seluas 30 ribu km2, namun dengan populasi sebesar 106.569 jiwa, dan dengan kepadatan penduduk yang hanya berjumlah 3,59 jiwa/km2. Sebuah angka yang amat kontras jika dibandingkan dengan Ibukota negara Jakarta yang seluas 661,52 km2 dengan kepadatan penduduk 15.663 jiwa/km2.

suku-asmat_20180209_135930Perjalanan menuju Agats ini tidak mudah, memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Perjalanan dari Jakarta saja setidaknya memakan waktu lebih dari 12 jam dengan beberapa kali transit dan penggantian pesawat. Tepatnya kita berangkat dengan penerbangan tengah malam (pukul 01.20) dan baru akan tiba di Timika (dengan rute transit di Makassar) pada pukul 09.30. Di Timika ini tidak ada penerbangan langsung yang bisa menerbangkan kita di hari yang sama, sehingga kita harus bermalam di Timika, untuk melanjutkan penerbangan dengan pesawat perintis entah dengan maskapai Aviastar entah Trigana yang umumnya menggunakan pesawat tipe baling-baling dengan kapasitas maksimal 18 penumpang keesokan harinya.

Biaya perjalanan pun sebagaimana telah disinggung sebelumnya tidak sedikit. Setidaknya luangkan dana Rp4 juta untuk sekali perjalanan dari Jakarta ke Agats. Bila pulang pergi, maka biaya perjalanan yang harus dikeluarkan sudah mencapai Rp8 juta. Jangan lupa angka itu belum termasuk biaya wajib transit di Timika dikarenakan tidak adanya connecting flight. Coba kita bandingkan biaya perjalanan yang harus dikeluarkan untuk perjalanan menuju Agats, dalam kondisi promo jumlah yang sama setara dengan ongkos tiket pulang pergi Jakarta – Dubai atau Jakarta – Tokyo. Sungguh bukan satu angka yang bisa dikatakan kecil.

21Setibanya di Agats, kita akan menyaksikan bagaimana perbedaan alam, fasilitas, lingkungan sosial dan budaya yang amat berbeda dengan apa yang biasa kita temui di kota-kota besar Indonesia. Sepi, sunyi, fasilitas yang terbatas seolah membawa kita berada pada ruang mimpi. Hanya saja ini adalah kenyataan di bumi Indonesia.

Terdapat keunikan tersendiri yang dimiliki oleh Agats. Kondisi tanah berlumpur dan rawa membuat kota ini harus berdiri dengan sarana jalan yang berupa papan, sekilas jalan ini menyerupai dermaga. Jalan-jalan di kota Agats menyerupai jembatan yang dibuat dari kayu besi. Seiring perkembangan jaman dan teknologi, jembatan-jembatan ini mulai diupgrade dalam beton yang lebih kuat. Hingga kini, pengembangan Agats dilakukan di atas jalanan yang unik ini. Semua bangunan menyesuaikan dengan bentuk rumah-rumah panggung. Bahkan, alat transportasi utama di dalam kota rawa-rawa ini adalah motor, khususnya motor yang menggunakan tenaga listrik.

Kondisi yang serba terbatas ini membuat pemerintah daerah dan penduduk menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Jalan jembatan kayu yang terbentang luas di seluruh Agats tidak mampu menahan beban motor mesin yang cukup berat, apalagi mobil. Kini, selain motor listrik, para penduduk Agats yang sebagian besar merupakan pendatang dari wilayah luar Asmat ini mengandalkan transportasi laut berupa perahu motor atau sekedar berjalan kaki bila masih berada di dalam wilayah pusat pemukiman. Keterbatasan lain adalah kurangnya pasokan air bersih. Masyarakat Agats hingga kini bertahan dengan air hujan yang ditampung di tabung-tabung air. Kondisi tanah rawa membuat tanah ini sulit menyediakan air bersih.

6.4 magnitude of Earthquake (Gempa) in Situbondo, East Java – Indonesia

DpK3GUnV4AASuzb

I just felt the earthquake recently, even though the epicenter is considerably far from where I live (+/- 200 km away). The chandelier in the living room wobbly, and I felt nausea up until now. It turns out that the magnitude is 6.4 Richter Scale, that’s the reason why I perceived the shaking quite strong.

I hope that everybody who lives nearby the epicenter is safe and no damage or whatsoever happened to you and your family.

May peace be with you.

Global tourism phenomenon

2018-06_world-01_1

Global tourism shows a comparatively stable increase from year to year. Economically, international tourism increase continues to show a rising trend of tourist arrivals in 2017. In fact, in 2017 the number of foreign tourists recorded the highest number in the period 2010-2017. Approximately 1,326 billion tourists traveled between countries in 2017; this phenomenon progressed 7% from 2016.

All of these foreign trips contribute globally to more than 1.34 trillion dollars. Although it must be admitted that Europe is still a leading tourist destination with a proportion of 51%, followed sequentially by the Asia Pacific (24%), America (16%), Africa (5%) and the Middle East (4%). However, if we glance at the proportion of foreign exchange receipts from tourism, the cut is slightly different. European tourism foreign exchange numbers were 39%, followed by the Asia Pacific by 29%, America 24%, Middle East 5% and Africa 3%.

From the above percentage, it can be regarded that tourist visits to America are the most expensive. Because of the 209 million tourist visits, America was able to produce a foreign exchange of 326 billion dollars. This reality means that foreign tourists traveling to America spend an average of US $ 1,560 per person. While the Asia Pacific only recorded foreign exchange revenues from foreign tourists on average of US $ 1,207, followed by the Middle East at the US $ 1,172, then Europe at the US $ 773, and Africa at the US $ 587.

If we view at the phenomenon of foreign tourists visiting the Asia Pacific, 24% contribution of international tourists, and 29% of this foreign exchange consists of 323 million tourists and foreign exchange receipt transactions of 390 billion dollars. This figure is undoubtedly the cumulative result of all 58 countries within the region, means that each country on average should receive revenues of 6.7 billion dollars from international tourism. (ay)


Pariwisata global menunjukkan peningkatan yang relatif stabil dari tahun ke tahun. Ditinjau secara ekonomi, perkembangan pariwisata internasional tetap menunjukkan tren peningkatan kunjungan wisatawan pada tahun 2018 ini. Bahkan, pada catatan tahun 2017 kunjungan wisatawan mancanegara mencatatkan angka tertinggi pada rentang periode 2010-2017. Kurang lebih 1,3 milyar wisatawan melakukan perjalanan antar negara pada tahun 2017, fenomena ini meningkat 7% dari perjalanan yang sama pada tahun 2016.

Keseluruhan perjalanan mancanegara ini memberikan kontribusi global sebesar lebih dari 1,3 triliun dollar. Walau harus diakui bahwa Eropa adalah masih menjadi destinasi wisata utama dengan proporsi sebesar 51%, yang diikuti berurutan oleh Asia Pasifik (24%), America (16%), Africa (5%) dan Timur Tengah (4%). Namun demikian, jika meninjau dari proporsi penerimaan devisa pariwisata maka persentasenya terdapat sedikit perbedaan. Angka devisa pariwisata Eropa tercatat 39%, disusul Asia Pasifik sebesar 29%, America 24%, Timur Tengah 5% dan Afrika 3%.

Dari persentase di atas terlihat bahwa kunjungan wisatawan ke America ini paling mahal. Karena dari 209 juta kunjungan wisatawan, maka America mampu menghasilkan devisa sebesar 326 milyar dollar. Artinya wisatawan mancanegara yang melakukan perjalanan ke America mengeluarkan dana rata-rata sebesar US$ 1,560 per orangnya. Sementara Asia Pasifik hanya mencatatkan pengeluaran wisatawan mancanegara rata-rata sebesar US$ 1,207, disusul dengan Timur Tengah sebesar US$ 1,172, lalu Eropa sebesar US$ 773, dan Afrika sebesar US$ 587.

Menilik fenomena kunjungan wisatawan mancanegara di Asia Pasifik. Kontribusi 24% jumlah wisatawan internasional, dan 29% devisa ini terdiri atas 323 juta wisatawan dan transaksi penerimaan devisa sebesar 390 milyar dollar. Angka ini tentunya merupakan hasil kumulatif dari keseluruhan 58 negara yang berada di dalam kawasan ini. Bila angka tersebut dipukul rata, maka akan ditemukan angka 6,7 milyar dollar penerimaan devisa dari pariwisata internasional. (ay)

Kawanku

Seiring berjalannya waktu, kita tidak lagi mempersoalkan banyak atau sedikitnya kawan. Tapi semakin besar kebutuhan kita akan kualitas perkawanan.

Kawan dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri, tanpa harus memainkan peran tertentu. Kawan dimana kita bisa tampil otentik dan casual. Mengeluhkan sesuatu apa adanya, bercerita panjang lebar, membahas suatu persoalan dan saling memancing gagasan dan ide yang ada di dalam relung benak pikiran.

Aku pernah memiliki seorang kawan, tapi jarang dalam waktu yang bersamaan. Dulu dia hadir pada periode 2002-2010 dan berpulang pada 2011. Kawanku itu ayahku. Delapan tahun yang begitu penuh kualitas pertemanan, durasi tak jadi soal. Justru pada akhir karirnya aku bisa berkawan dengannya. Darinya aku mendapatkan sikap, perilaku dan konsekuensi dari kenyataan.

Mundur lagi ke belakang, ternyata kawan masa kecilku adalah kakekku. Darinya aku mendapatkan pondasi nilai-nilai kehidupan.

Dan kini semenjak 2015 aku berkawan dengannya. Aku begitu menyayanginya seolah dia adalah bagian hidupku yg lama hilang dan kembali datang. Berbagai kisah kehidupan yang diulang2nya kudengarkan dengan seksama, bukan karena untuk tujuan tertentu. Melainkan hanya menyimak. Karena kutahu dia senang menceritakan berbagai pergulatan hidupnya.

Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita secara persis. Namun saat kita menemukan seorang kawan, bersyukurlah. Karena kawan yang baik adalah berlian dalam kehidupan. Bukan nilai materialnya, melainkan value perkawanan itu sendiri.