Nilai

Seseorang berkata pada saya tadi pagi, bahwa di dalam perjalanan kehidupan seseorang pada akhirnya nilai dan ukuran adalah yang akan menjadi faktor pembeda dari seorang yang satu dan yang lainnya. Perbedaan itu tidak perlu ekstrim, selama terdapat sedikit perbedaan, namun signifikan, dan perbedaan itu kita pertahankan secara konsisten – itu lah yang akan menjadikan gambaran diri kita berbeda dari yang lain. Perbedaan ini bisa dipersepsikan secara positif, walau tidak menutup kemungkinan dipersepsikan sebaliknya.

Sebenarnya pembahasan tentang ini bukanlah hal yang baru. Sudah puluhan tahun topik ini seringkali terangkat dalam pembicaraan sehari-hari di rumah. Terkadang topik ini diangkat saat percakapan usai makan malam, terkadang sembari menikmati kopi pahit di sore hari. Intinya adalah, kita lah yang perlu menemukenali kekuatan dan kekurangan diri kita sendiri. Perbedaan ini lah yang menjadi ciri khas dari seseorang. Hal ini bukanlah seperti membalik tangan, tapi membutuhkan suatu proses yang sustain.

Untuk ukuran manusia, nilai kita ini diukur oleh orang lain secara vertikal, horisontal dan diagonal. Hanya orang naif saja lah yang tidak menyadari kenyataan ini. Selama kita hidup, maka tidak terelakkan bahwa diri kita akan senantiasa dinilai dan dipersepsikan oleh orang lain. Apakah dalam konteks diri kita sebagai seorang profesional, seorang orang tua, seorang anak, seorang murid, seorang guru, seorang atasan, bawahan, mitra kerja dan lain sebagainya. Pengukuran ini pun berjalan secara dinamis, mengikuti dinamika kehidupan. Dalam hal tertentu kita akan dipersepsikan negatif, dan hal lain positif. Dalam peran A, bisa jadi kita buruk – namun pada peran B, kita mendapatkan apresiasi.

Ujung-ujungnya, penilaian tertinggi tentu lah milik Allah. Perspesi Allah tentang kita lah yang mutlak harus dijadikan rujukan utama dalam bagaimana kita menempatkan nilai kita. Karena bagaimana nilai kita ini lah yang akan menjadikan dasar akan adab (perkataan dan perbuatan) kita ke pihak lain. Namun jangan lupa, pada saat membicarakan persepsi Allah, hal ini bukan lah hanya membicarakan ritual ibadah kita saja. Karena bukankah Allah berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An Nahl: 125).  Juga Allah berfirman, “Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakan salat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Sehingga, tidak lah bisa dilepaskan penilaian Allah ke kita dari penilaian orang ke sesama manusia. “Dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah:195).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s