Kawanku

Seiring berjalannya waktu, kita tidak lagi mempersoalkan banyak atau sedikitnya kawan. Tapi semakin besar kebutuhan kita akan kualitas perkawanan.

Kawan dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri, tanpa harus memainkan peran tertentu. Kawan dimana kita bisa tampil otentik dan casual. Mengeluhkan sesuatu apa adanya, bercerita panjang lebar, membahas suatu persoalan dan saling memancing gagasan dan ide yang ada di dalam relung benak pikiran.

Aku pernah memiliki seorang kawan, tapi jarang dalam waktu yang bersamaan. Dulu dia hadir pada periode 2002-2010 dan berpulang pada 2011. Kawanku itu ayahku. Delapan tahun yang begitu penuh kualitas pertemanan, durasi tak jadi soal. Justru pada akhir karirnya aku bisa berkawan dengannya. Darinya aku mendapatkan sikap, perilaku dan konsekuensi dari kenyataan.

Mundur lagi ke belakang, ternyata kawan masa kecilku adalah kakekku. Darinya aku mendapatkan pondasi nilai-nilai kehidupan.

Dan kini semenjak 2015 aku berkawan dengannya. Aku begitu menyayanginya seolah dia adalah bagian hidupku yg lama hilang dan kembali datang. Berbagai kisah kehidupan yang diulang2nya kudengarkan dengan seksama, bukan karena untuk tujuan tertentu. Melainkan hanya menyimak. Karena kutahu dia senang menceritakan berbagai pergulatan hidupnya.

Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita secara persis. Namun saat kita menemukan seorang kawan, bersyukurlah. Karena kawan yang baik adalah berlian dalam kehidupan. Bukan nilai materialnya, melainkan value perkawanan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s