Jakarta – Agats (Papua)

Screenshot from 2018-10-12 14-35-52Agats is the capital of the Asmat Regency in Papua, home to the Asmat tribe who are famous for their unique tribal sculpture and traditional mummification practice. Located on the south side of the island of “paradise bird,” with an area of ​​nearly 30 thousand km2, with a population of 106,569 people, a density of only 3.59 people / km2. A very different figure compared to the capital city of Jakarta covering an area of ​​661.52 km2 with a density of 15,663 people / km2.

The journey to Agats is not easy, takes time and costs a lot. The trip from Jakarta alone takes at least more than 24 hours with several transits and changing planes. Precisely we leave right after midnight at 01:20 and will arrive in Timika (with transit routes in Makassar) at 09:30. In Timika there are no direct flights that can fly us on the same day, so we have to spend the night in Timika, to recommence the trip with small aircraft either with Aviastar or Trigana airlines which frequently use propeller type of small plane with a maximum capacity of 18 passengers the next day.

Travel costs as mentioned earlier are not small. At least spend IDR 4 million for a trip from Jakarta to Agats. If calculated in total, the travel costs incurred have reached IDR 8 million. Don’t forget that the number does not include the necessary transit expense in Timika due to the absence of connecting flights. Let’s compare the travel costs that must be incurred for the trip to Agats if the promo the same amount is equivalent to the price of a return ticket Jakarta – Dubai or Jakarta – Tokyo. Not a number that can be said to be small.

hipwee-www.panoramio.com_-750x422On arrival at Agats, we will see how the differences in nature, facilities, social and cultural environment are very different from what we commonly encounter in big cities in Indonesia. Quiet, quiet, limited facilities as if taking us to a dream. It’s just that this is a reality on Indonesian soil.

There is a unique feature of Agats. The condition of muddy soil and swamp makes this city must stand with road facilities in the form of boards, at a glance this road resembles a pier. The streets in Agats city resemble bridges made of ironwood. As time and technology develop, the upgraded version of these bridges took shape in stronger concrete. Until now, the development of Agats was carried out on this unique street. All buildings adjust to the form of the stage houses. The primary means of transportation in this swamp town are motorbikes, especially electric motorcycles.

This limited condition makes local governments and residents adapt to these conditions. The wooden bridge road that extends across Agats is not able to withstand heavy motorbike loads, let alone cars. Now, in addition to electric motors, Agats residents who are mostly migrants from outside Asmat rely on sea transportation in the form of motorboats or just walking if they are still inside the central residential area. Another limitation is the lack of clean water supply. The Agats have survived with rainwater collected in water storage. Swampland conditions make this land challenging to provide clean water.

937091369The next story about Agats will continue in later editions.


Agats adalah ibukota Kabupaten Asmat di Papua, rumah dari masyarakat suku Asmat yang terkenal dengan hasil seni patung tribal yang unik. Terletak di sisi selatan Pulau yang berbentuk burung cendrawasih ini dengan wilayah hampir seluas 30 ribu km2, namun dengan populasi sebesar 106.569 jiwa, dan dengan kepadatan penduduk yang hanya berjumlah 3,59 jiwa/km2. Sebuah angka yang amat kontras jika dibandingkan dengan Ibukota negara Jakarta yang seluas 661,52 km2 dengan kepadatan penduduk 15.663 jiwa/km2.

suku-asmat_20180209_135930Perjalanan menuju Agats ini tidak mudah, memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Perjalanan dari Jakarta saja setidaknya memakan waktu lebih dari 12 jam dengan beberapa kali transit dan penggantian pesawat. Tepatnya kita berangkat dengan penerbangan tengah malam (pukul 01.20) dan baru akan tiba di Timika (dengan rute transit di Makassar) pada pukul 09.30. Di Timika ini tidak ada penerbangan langsung yang bisa menerbangkan kita di hari yang sama, sehingga kita harus bermalam di Timika, untuk melanjutkan penerbangan dengan pesawat perintis entah dengan maskapai Aviastar entah Trigana yang umumnya menggunakan pesawat tipe baling-baling dengan kapasitas maksimal 18 penumpang keesokan harinya.

Biaya perjalanan pun sebagaimana telah disinggung sebelumnya tidak sedikit. Setidaknya luangkan dana Rp4 juta untuk sekali perjalanan dari Jakarta ke Agats. Bila pulang pergi, maka biaya perjalanan yang harus dikeluarkan sudah mencapai Rp8 juta. Jangan lupa angka itu belum termasuk biaya wajib transit di Timika dikarenakan tidak adanya connecting flight. Coba kita bandingkan biaya perjalanan yang harus dikeluarkan untuk perjalanan menuju Agats, dalam kondisi promo jumlah yang sama setara dengan ongkos tiket pulang pergi Jakarta – Dubai atau Jakarta – Tokyo. Sungguh bukan satu angka yang bisa dikatakan kecil.

21Setibanya di Agats, kita akan menyaksikan bagaimana perbedaan alam, fasilitas, lingkungan sosial dan budaya yang amat berbeda dengan apa yang biasa kita temui di kota-kota besar Indonesia. Sepi, sunyi, fasilitas yang terbatas seolah membawa kita berada pada ruang mimpi. Hanya saja ini adalah kenyataan di bumi Indonesia.

Terdapat keunikan tersendiri yang dimiliki oleh Agats. Kondisi tanah berlumpur dan rawa membuat kota ini harus berdiri dengan sarana jalan yang berupa papan, sekilas jalan ini menyerupai dermaga. Jalan-jalan di kota Agats menyerupai jembatan yang dibuat dari kayu besi. Seiring perkembangan jaman dan teknologi, jembatan-jembatan ini mulai diupgrade dalam beton yang lebih kuat. Hingga kini, pengembangan Agats dilakukan di atas jalanan yang unik ini. Semua bangunan menyesuaikan dengan bentuk rumah-rumah panggung. Bahkan, alat transportasi utama di dalam kota rawa-rawa ini adalah motor, khususnya motor yang menggunakan tenaga listrik.

Kondisi yang serba terbatas ini membuat pemerintah daerah dan penduduk menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Jalan jembatan kayu yang terbentang luas di seluruh Agats tidak mampu menahan beban motor mesin yang cukup berat, apalagi mobil. Kini, selain motor listrik, para penduduk Agats yang sebagian besar merupakan pendatang dari wilayah luar Asmat ini mengandalkan transportasi laut berupa perahu motor atau sekedar berjalan kaki bila masih berada di dalam wilayah pusat pemukiman. Keterbatasan lain adalah kurangnya pasokan air bersih. Masyarakat Agats hingga kini bertahan dengan air hujan yang ditampung di tabung-tabung air. Kondisi tanah rawa membuat tanah ini sulit menyediakan air bersih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s