Pentingnya perancangan Travel Pattern yang Berkelanjutan di Kalimantan Selatan

Pariwisata telah menjelma menjadi salah satu sektor dengan perkembangan yang paling tinggi di dunia. Saat ini pariwisata global memberikan kontribusi sebesar 10,4% dari PDB atau setara dengan USD 8,27 triliun, menciptakan 313 juta pekerjaan atau 9,9% dari total ketersediaan lapangan pekerjaan (WTTC, 2017). Seiring dengan fenomena ini, pariwisata Indonesia juga berkembang pesat, dan diharapkan menjadi penghasil devisa utama pada tahun 2019. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata telah menetapkan pariwisata sebagai sektor prioritas semenjak 2015. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari tahun ke tahun, yang pada 2019 nanti ditargetkan akan mencapai angka 20 juta. Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam mencapai target tersebut, mulai dari peningkatan upaya pemasaran, pengembangan berbagai destinasi wisata dan pengelolaan industri serta kelembagaan yang lebih baik (LAK Kemenpar, 2015). Di sisi lain, tren positif pariwisata global dan nasional ini juga selaras dengan tuntutan global akan adopsi prinsip pariwisata yang berkelanjutan sebagaimana disuarakan oleh Badan Pariwisata Dunia UNWTO dengan Sustainable Development Goals 2030. Dimana pariwisata berkelanjutan ini menekankan pada azas manfaat dan keadilan yang proporsional bagi wisatawan, industri, masyarakat dan lingkungan baik untuk masa kini maupun masa depan.

Sayangnya fenomena ini tidak serta merta berjalan pada kondisi kepariwisataan di Kalimantan Selatan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perekonomian Kalsel saat ini masih amat bergantung pada sektor pertambangan dan komoditas ekspor bahan mentah. Ini cepat atau lambat harus berubah, bergeser pada sektor yang lebih sustain dimana pariwisata berkelanjutan adalah salah satunya. Jika menilik aktualitas pariwisata di Kalsel, kita akan miris menemukan bahwa dari total kunjungan wisman ke Indonesia pada tahun 2016 yang sebesar 11,5 juta, Kalsel hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 0,2%-nya saja, dan dari pergerakan 260 juta wisnus, Kalsel bahkan belum mampu mencapai angka 0,5%. Hal serupa juga terlihat dari average length of stay wisatawan yang berkunjung ke Kalsel, dimana saat ini durasi kunjung rata-rata 3 hari, yang artinya masih berada di bawah angka rata-rata kunjungan wisman ke Indonesia selama 10.69 hari pada rentang waktu yang sama. Durasi yang sebentar ini berdampak langsung terhadap pengeluaran wisman, yang hanya mengeluarkan USD160 per kunjungan.

Kenyataan ini seolah menampar kepariwisataan Kalsel. Bagaimana tidak, dengan ketersediaan akses udara, laut dan darat yang cukup memadai seharusnya meningkatkan jumlah kunjungan di Kalsel bukanlah pekerjaan yang sulit. Apalagi dengan ditopang oleh kekuatan sumber daya pariwisata berupa kekayaan alam, flora dan fauna serta budaya yang sangat besar dan beragam kesemuanya berpotensi menjadi obyek dan daya tarik wisata skala nasional maupun internasional bila saja dikelola dengan tepat dan selaras dengan visi dari Pariwisata Kalsel, “Terwujudnya Kalsel sebagai Destinasi Pariwisata bertaraf internasional berbasis alam, budaya dan ekonomi kreatif yang berdaya saing, berkelanjutan dan bertanggung jawab” (RIPPDA Kalsel, 2013). Hanya saja, potensi sumber daya pariwisata yang besar ini belum diimbangi dengan upaya pemasaran yang maksimal, pengembangan destinasi wisata serta pengelolaan industri dan kelembagaan yang lebih baik.

Tidak ada permasalahan tanpa adanya solusi, begitu pun dengan kepariwisataan Kalsel. Pemerintah Kalsel telah mempersiapkan instrumen yang sebenarnya cukup memadai dengan menerbitkan RIPPARDA yang telah di-Perda-kan pada tahun 2013, pada tahun 2017 juga menerbitkan Strategi Pengembangan Pasar Pariwisata. Namun upaya ini akan mubadzir jika tidak adanya kolaborasi dengan semua stakeholders pariwisata di dalam mengeksekusi hasil studi dan kebijakan-kebijakan tersebut. Isu terbesar dari pariwisata Kalsel adalah terkait dengan prioritas kepentingan. Siapkah Kalsel memprioritaskan pariwisata di dalam arah kebijakan pengembangan daerahnya? Siapkah melibatkan berbagai pemangku kepentingan pariwisata Kalsel tanpa tebang pilih kedekatan personal? Siapkah sektor lain turut berkontribusi terhadap upaya peningkatan pariwisata di Kalsel? Jika jawaban kesemuanya itu adalah ya, maka harapan akan masa depan pariwisata Kalsel terlihat terang benderang.

Saya dalam kesempatan ini mengusulkan satu gagasan practical terkait dengan peningkatan kunjungan wisman dan wisnus Kalsel. Mulai saat ini juga, sudah waktunya stakeholders pariwisata menghentikan komunikasi bahwa Kalsel adalah short tour destination yang cukup dikunjungi hanya dalam waktu 2-3 hari saja. Kalsel harus dipasarkan sebagai sebuah long tour destination. Ini adalah bagian dari upaya strategi positioning dari Kalsel itu sendiri. Segmen pasar wisman Kalsel bukanlah orang yang tertarik untuk hanya melihat pasar terapung di tengah kota Banjarmasin. Thailand, Vietnam, dan Laos memiliki ini semua dan mereka sudah mengemasnya dengan lebih baik. Kalsel juga bukan hanya tentang soft adventure tour di Loksado saja, karena destinasi lain pun telah duluan memasarkan destinasi sejenis. Sebaliknya Kalsel memiliki semua kriteria sebagai destinasi wisata dan banyak atraksi serta aktivitas lainnya yang bisa dan harus diintegrasikan dalam bentuk travel itinerary yang otentik, unik dan menarik.

Sudah saatnya perubahan pariwisata Kalsel tinggal landas ke arah yang lebih baik. Optimalkan semua Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi dalam travel itinerary panjang ini. Ciptakan variasi itinerary ke arah timur hingga ke Teluk Tamiang, Tanjung Kunyit dan Pulau Sambergelap, ke utara hingga ke Loksado dan Amuntai, ke selatan hingga ke Pantai Batakan. Integrasikan semua destinasi ini dalam itinerary yang memperhatikan durasi perjalanan, rancang beberapa titik-titik persinggahannya dengan pembangunan destinasi wisata digital (selfie spots) yang tidak terlalu menguras anggaran, tetapkan daya tarik penyanggah (buffer attractions) dan penunjangnya (supporting attractions), libatkan peran masyarakat setempat sebagai penyedia homestay, berikan pelatihan home stay dan pelatihan pemandu wisata lokal, data semua warung dan tempat makan di sepanjang rute wisata yang akan dilalui, bangun dan kembangkan kelompok-kelompok sadar wisata di setiap destinasi wisata. Ini semua pada akhirnya akan bermuara pada travel itinerary yang akan dipasarkan oleh para biro perjalanan wisata. Sudah siapkah BPW-BPW di Kalsel untuk memasarkan produk ini? Bagaimana kesiapan SDMnya? Infrastruktur komunikasinya? Tentu upaya ini bukanlah semudah membalik telapak tangan. Namun maju selangkah, lebih baik daripada sekedar menjadi penonton pasif di saat pariwisata nasional dan global sedang amat dinamis berubah dan tumbuh. Mungkin saja FGD yang melibatkan stakeholders pariwisata untuk khusus membahas hal ini sudah saatnya diselenggarakan. Jika saja ini segera terlaksana, maka kepariwisataan yang berkelanjutan di Kalimantan Selatan dapat segera terwujud dalam waktu tidak lama lagi dan kebermanfaatan pariwisata dapat segera dirasakan oleh masyarakat Kalsel. Semoga. (ay)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s