Loneliness

Semesta memiliki ruang yang hampir tak terhingga untuk kita jelajahi.
Penjelajahan untuk mempelajari fenomena, membaca gejala dan mengambil manfaat.
Dari sekian luasnya ruang dan rentang waktu, semesta memberikan kebebasan bagi kita untuk melakukan apapun.
Namun semua kebebasan itu seringkali kita sia-siakan, terbuang percuma, menghasilkan tidak lain hanya seonggok kotoran di WC yang bau dan tak bersisa saat tombol flush kita tekan.

Ada sebagian orang merasa berarti saat dirinya dianggap penting oleh orang lain, padahal sejatinya urusan penting dan tidak penting itu hanyalah faktor keberpihakan.
Ada juga orang yang merasa penting jika dia bisa menghasilkan sesuatu untuk dirinya.
Ada orang yang merasa penting saat dia bisa taat dan melakukan pengabdian mutlak.
Begitu banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang di dalam bertindak. Sebagian reaktif, dan sebagian lainnya dengan penuh kesadaran.

Toh pada dasarnya kita hanya mengendarai satu kendaraan tubuh, pikiran dengan spesifikasi yang given, terhitung sejak kita dilahirkan dengan masa kadaluarsa yang tidak pernah kita ketahui kapan.
Sebagai seorang pilot, supir, nahkoda kita hanya bisa menggerakkan satu tubuh. Walau hakikatnya satu tubuh itu pun bukan mutlak dibawah kendali kita. Terdapat puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan fungsi yang diluar kemampuan kita dan tetap berlangsung hingga saatnya nanti tiba. Detak jantung, gerak syaraf, kerja paru-paru dan lain sebagainya bukanlah dibawah kendali kita, walau memang sering kita abaikan.

Sendiri dan sepi, mengendarai kendaraan pinjaman ini. Terkadang kita berjalan beriringan, terkadang kita berjalan sendirian. Tetapi tetap saja kita sendiri. Membunyikan klakson untuk bertegur sapa, bersilaturahmi. Toh tetap kita ada dibalik cangkang tulang berbungkuskan daging dan kulit. Dalam satu waktu kita merindukan persatuan, itu lah peran dan fungsi pasangan hidup. Untuk mencicipi sedikit kenikmatan penyatuan ditengah-tengah kesendirian perjalanan kita. Bersetubuh sebagai oase sementara di tengah-tengah padang pasir yang tandus.

Hingga saatnya tiba, kita akan terus sendiri. Dan kenikmatan persatuan baru akan sejatinya kita alami saat tugas kita mengendarai tubuh ini usai. Menyatu dengan semesta, melebur dalam kenikmatan tiada tara. Kelak. So, be a good driver!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s