To be, or not to be

To be, or not to be” atau “Menjadi, atau tidak menjadi” adalah ungkapan pembuka dari sebuah monolog yang diucapkan oleh Pangeran Hamlet dalam “adegan biara” dari drama William Shakespeare Hamlet, Babak 3, Adegan 1. Dalam pidato tersebut, Hamlet merenungkan tentang kematian dan bunuh diri, mengeluhkan rasa sakit dan ketidakadilan hidup tetapi mengakui bahwa alternatifnya mungkin lebih buruk. Ungkapan ini adalah salah satu baris yang paling dikenal dan dikutip dalam bahasa Inggris modern, dan solilokuinya telah dirujuk dalam karya teater, sastra, dan musik yang tak terhitung banyaknya.

Hamlet banyak berbicara — tentang bunuh diri, tetapi yang benar-benar dia pedulikan sebenarnya adalah kefanaan, dan fakta bahwa dunia kita dibangun dari kematian dan kebusukan. Dari konfrontasi awal Hamlet dengan hantu orang mati hingga pertumpahan darah terakhir, pertanyaan besarnya adalah: jika kita semua mati pada akhirnya, apakah benar-benar penting siapa yang membunuh kita — dan kapan?

Membicarakan kematian, tepat pada tanggal 4 Juni 2019 saya divonis oleh tim medis RS Unair bahwa ada masalah pada pencernaan saya yang mengharuskan tindakan operasi perut secara laparatomi (prosedur yang membuat irisan vertikal besar pada dinding perut ke dalam rongga perut). Prosedur ini memungkinkan dokter melihat dan mengobservasi secara langsung organ dalam dan membuat diagnosis apa yang salah. Ditambah lagi dokter berujar, jika operasi tidak dilakukan – maka resiko amat fatal dan mengakibatkan kematian.

Ini sebuah hal besar, setidaknya bagi saya. Namun mengingat rasa sakit yang tidak terkira, ditambah lagi dengan resiko kematian yang semakin besar jika prosedur operasi tidak diambil, maka saya mengikhlaskan diri ini untuk menjalankan tindakan ini. Toh “innalillahi wa innailaihi rojiun” prinsipku saat itu, kita ini bukan milik kita. Jika pun saat itu adalah waktuku “kembali”, maka itu lah waktu terbaikku untuk kembali ke Sang Pemilik Waktu.

I’m not in the mood to write actually…
Alunan lagu You and Me-nya Lifehouse melatarbelakangi suasana di sini.

Cause it’s you and me and all of the people with nothing to do
Nothing to lose
And it’s you and me and all of the people
And I don’t know why, I can’t keep my eyes off of you
All of the things that I want to say just aren’t coming out right
I’m tripping on words
You’ve got my head spinning
I don’t know where to go from here

Mungkin tulisan ini akan kulanjutkan lain waktu.
Atau tidak sama sekali.

……

Ternyata, menjadi manusia yang baik itu tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Menjadi manusia yang bermanfaat itu tidak mudah. Menjadi manusia yang berkualitas itu tidak mudah. Semakin kupelajari, semakin kusadari bahwa peran diri kita di dalam sebuah kemanfaatan, peningkatan kualitas, amat lah kecil. Terlalu banyak faktor eksternal yang mempengaruhi bagaimana seseorang menjalankan hidupnya.

Apapun itu, aku mensyukuri apapun yang ku jalani dan ku alami. Tidak sedetikpun hidup ini patut disesali. Semuanya berjalan begitu indah dalam perspektif-Nya. Tinggal bagaimana kita mengadjust cara pandang kita dalam mengamati ini semua.

Much love and God bless!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s