COVID 19 and sustainable tourism: Information resources and links

annaspenceley

Coronavirus image

It seems that everyone involved in the travel sector has been affected by the coronavirus COVID 19 pandemic.  There are an increasing number of interesting studies and articles and think-pieces that have been published on this topic.  Some of these share information on the impacts of our dramatically changed travel patterns on industry and destinations, some include suggestions of proactive approaches, and some provide market insights.

This is an evolving database of over 400 resources which quick-links to people looking for insights and ideas.  I hope this helps as we try to understand the implications of this massive global challenge, and move towards a better future.

The resources fall under the following headers:

  1. Ideas to help resilience and recovery
  2. Market research and intelligence
  3. Impacts on tourism and destinations
  4. Virtual tours and ideas to keep us inspired

I will add to this page over time, and please let me know if…

Lihat pos aslinya 6.029 kata lagi

Pariwisata dan IPOLEKSOSBUDHANKAM (recehan pagi)

Ini sekedar corat coret, untuk kepariwisataan Indonesia setelah masa covid-19 berakhir.

Selama ini pariwisata Indonesia seringkali hanya dianggap sebagai “barang dagangan” yang diobral dengan harga yang murah, padahal pariwisata secara realita adalah satu lahan dimana pertarungan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan berlangsung.

Tercatat bahwa pemegang paspor dari 170 jurisdiksi bebas melenggang masuk ke Indonesia dengan durasi singgah selama 30 hari. Terekam pula ada lebih dari 16,1 juta orang asing yang masuk ke Indonesia pada tahun 2019 lalu.

Makin maraknya perjalanan manusia antar negara dari tahun ke tahun tentu juga membawa gagasan dan cara pandang bernegaranya masing-masing.

Pancasila sebagai satu sistem nilai negara tanpa sadar berada dalam satu tekanan yang amat besar. Interaksi dan intensitas komunikasi antar manusia yang terjalin dari kepariwisataan memungkinkan terciptanya hal itu.

Tanpa adanya pemahaman yang kuat terhadap Pancasila, warga negara Indonesia akan mudah mengadopsi ideologi-ideologi dari luar yang sebenarnya tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Implikasinya, nasionalisme luntur dan kecintaan terhadap bangsa ini menjadi kendor.

Kebijakan politik luar negeri Indonesia menganut politik luar negeri bebas-aktif. Bebas berarti tidak terikat kepada suatu kelompok/blok tertentu. Sementara aktif, berarti aktif dalam mengembangkan kerjasama internasional dengan negara-negara lain.

Hal ini tentu adalah keluaran logis dari nilai-nilai bangsa yang tercantum pada UUD 1945 yang merupakan dasar hukum tertinggi negara Indonesia.

Adalah ironis, jika kebijakan politik luar negeri yang seharusnya ideal ini namun secara implementatif tidak bisa dikatakan memenuhi nilai berkeadilan. Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat fakta ini.

Pada rekam data dapat kita lihat bersama bahwa Indonesia membuka pintu sebebas-bebasnya kepada pemegang paspor dari 170 jurisdiksi. Mereka-mereka ini (wisatawan) tidak perlu repot-repot mengurus visa untuk datang ke negara kita. Pintu kita terbuka lebar untuk mereka.

Sayangnya hal yang sama tidak berlaku pada pemegang paspor hijau Republik Indonesia dengan cover gambar Garuda Pancasila.

Nyatanya, paspor RI tanpa didukung pengurusan visa in advance hanya bisa diterima langsung oleh 74 negara. Bahkan, The Sovereign Man sebagai salah satu lembaga pemeringkat paspor menempatkan paspor RI di peringkat #109 dari total 198 penerbit paspor.

Untuk level ASEAN, peringkat paspor kita bahkan masih jauh tertinggal di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, Timor Leste dan Thailand.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata adalah the shining star of economy. Kalau sudah bicara manfaat ekonomi dari pariwisata, maka semua mata akan melotot dan melek.

Angka-angka di atas itu baru berupa nominal penerimaan yang sifatnya langsung. Kita juga perlu mengetahui bahwa multiplier effect pariwisata itu membawa direct, indirect dan induce effect terhadap ekonomi. Ini artinya, manfaat pariwisata bagi perekonomian Indonesia lebih daripada itu.

Namun demikian, benarkah kepariwisataan kita surplus? atau jangan-jangan malahan defisit?

Agar proporsional, kita perlu melihat juga potensi kerugian secara ekonomi dari pariwisata ditinjau secara makro.

Dari data DJU DepHub, kita bisa temukan bahwa ada 37,291,525 penumpang yang bepergian ke luar negeri pada tahun 2019. Kalau dihitung goblok-goblokan saja, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lainnya, angka ini dikurangi dari jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia pada periode yang sama 15 juta, maka akan ditemukan selisih angka 22 jutaan.

Let’s be honest, tidak perlu banyak profesor untuk berasumsi bahwa potensi defisit pariwisata itu mungkin terjadi di Indonesia.

Mengapa?

Karena angka wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia pun juga sudah melalui proses penggelembungan data. Kasarannya begini, pada tahun 2019 ada 1,178,381 wisatawan asal Timor Leste yang masuk ke Indonesia dan ada 2,980,753 wisatawan asal Malaysia.

Apakah turis yang hanya numpang kencing dan membeli teh botol di Indonesia memiliki valuasi ekonomi yang setara dengan wisatawan Indonesia yang berlibur ke luar negeri?

Ini lah minusnya cross-border tourism yang sibuk dikerjakan oleh Menteri Pariwisata periode yang lalu. Entah berapa puluh atau bahkan ratus milyar APBN yang dikeluarkan hanya untuk ‘mendongkrak’ angka-angka ini.

Demonstrative effects, perubahan nilai-nilai dan modifikasi budaya adalah beberapa dampak sosial budaya yang umumnya negatif, buah dan hasil dari pariwisata.

Tidak sulit jika kita berkunjung ke satu destinasi wisata maka kita menemukan bulok (bule lokal). Mereka ini umumnya mengadopsi gaya busana, gaya bahasa, sikap dan perilaku orang lokal yang meniru wisatawan asing.

Masih di tempat yang sama, kita akan temukan anak-anak muda yang nongkrong sambil minum alkohol, ciuman dan bermesraan di tempat umum seolah adalah hal yang lumrah, karena turis pun melakukannya.

Selain fenomena tadi, juga dapat kita temukan terjadinya persaingan antar pekerja pariwisata yang kurang sehat. Supir berebut menawarkan jasa mereka mengantar turis, tidak jarang berakhir dengan hal-hal yang sifatnya kriminal.

Berkurangnya sikap tenggang rasa, modifikasi dan perubahan seni budaya lokal, timbulnya perasaan eksploitasi pada masyarakat, pelecehan terhadap budaya lokal adalah beberapa dampak negatif sosial budaya dari keberadaan pariwisata.

Dari 16 jutaan turis asing yang masuk ke Indonesia setiap tahunnya, dengan minimnya filter di imigrasi, maka tidak sulit untuk mengatakan bahwa intelejen asing pun amat mudah keluar masuk di Indonesia. Padahal kita ketahui bersama bahwa intelijen adalah lini pertama dalam sistem keamanan nasional.

Tentu mereka memiliki maksud dan tujuannya masing-masing dengan kedok berbagai cara untuk mewakili kepentingan negara pengekspor.

Sebagian ada yang berkedok sebagai LSM, wartawan, pekerja asing, budayawan, tidak sedikit yang bahkan sudah puluhan tahun berdomisili di Indonesia.

Anggap saja dari semua aset intelijen asing yang ada di Indonesia, berapa orang yang sudah terdeteksi. Saya kok pesimis, jika BIN kita mengetahui 50%-nya. Coba kalikan saja jika jumlah intel asing itu adalah 10,000 orang. Ini belum jika kita memasukkan faktor WNI yang direkrut oleh asing lho ya!

Saya pribadi memiliki teman seorang warga negara Israel yang berdomisili di Ubud semenjak 1991, yang tanpa sengaja, ketahuan memiliki 8 paspor yang berbeda penerbit.

Namun, yang masih saya ingat dengan jelas adalah bahwa dia dikenal masyarakat lokal sebagai US citizen, pemerhati budaya dan praktisi pertanian organik.
Tapi saya yakin banyak orang tidak tahu, bahwa setiap setahun sekali dia masih harus ‘wajib lapor’ ke Israel, dengan transit melalui Singapura.

Intinya, bicara pariwisata itu jangan melulu hanya melihat faktor manfaat ekonominya saja. Kok ‘matre’ banget sih. Pariwisata kita pun tidak perlu dijual murah.

Pariwisata itu seyogianya diperlakukan seperti seorang Putri Kraton. Silakan kalian kagumi kecantikannya, betapa ayu dan anggunnya putri ini, betapa smart dan cerdas dia, namun jangan berpikir untuk macam-macam, para punggawanya akan siap menghunuskan keris untuk memburaikan isi perutmu.

Jangan kamu perlakukan seperti lonte di Saritem atau Sunan Kuning.

Bayar, pakai, tinggalkan… Itu sadis!

Al Ghazali dan Krisdayanti

Pak Dhe Mo sore ini sedang duduk santai di halaman belakang rumah sambil sesekali bergantian antara menyeruput kopi tubruk kegemarannya dan menyemburkan asap rokok kretek murahan.

Rokok ini dibelinya dari kios langganan milik Nyaéh Hamsatun, seorang nenek asal Bangkalan, Madura yang walau ber-KTP terbitan Republik Indonesia, namun lebih sering berbahasa jawa timuran dengan logat Madura yang kental.

Tangannya menggenggam gawai made in China yang super canggih, setidaknya untuk ukuran 2 tahun lalu. Satu-satunya alasan Pak Dhe Mo gemar duduk di halaman belakang rumah karena di lokasi ini lah dia bisa nebeng wifi milik Pak Misni tetangganya, gratisan.

Wajahnya serius, sesekali ‘nyureng’ dan kadang dia terlihat ‘manthuk-manthuk’ seolah sedang menyetujui gagasan seseorang.

Rupanya Pak Dhe Mo sedang membaca buku elektronik. Salah satu bukunya yang tersimpan rapi dalam koleksi Google Play Books. Koleksi bukunya yang tidak mungkin lecek, lungset, atau robek. Bahkan bisa diaksesnya dari manapun juga, selama ada gawai dan koneksi internet.

Dia cukup rajin untuk mengelompokkan buku-bukunya dalam ‘virtual shelf’ menurut kesamaan kategori buku. Ada agama, fiksi, filsafat, geopolitik, Islam, jurnal ilmiah, motivasi, pariwisata, dan lainnya.

Dalam bathinnya dia mantap, bahwa seharusnya sistem pendidikan dasar di Indonesia lebih menitik beratkan pada ilmu-ilmu
(1) Matematika;
(2) Logika;
(3) Fisika;
(4) Metafisika;
(5) Politik; dan
(6) Filsafat Moral.
Selain tentunya dilandasi ilmu dasar dari agama masing-masing.

Jika pendidikan dasar dirancang demikian, Pak Dhe Mo beranggapan situasi bangsa seperti saat ini tidak akan terjadi. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk mempercayai berita hoax, gossip tidak akan laku, dan format tayangan di stasiun TV nasional pasti tidak akan seperti yang sekarang berjalan.

Bahkan sampai-sampai urusan ‘dapur’ Krisdayanti & Raul Lemos yang memaki-maki Aurel Hermansyah (anak Krisdayanti dengan Anang) tidak akan menjadi berita nasional yang tampil di Kompas, Pikiran Rakyat, Okezone dan kawan-kawannya.

Setidaknya itu yang Pak Dhe Mo setujui usai kelar menuntaskan versi terjemah dari buku ‘Al Munqidh min al-Dalal’ karya dari tokoh besar Islam Al Ghazali, sekitar 4 tahun sebelum akhir hayatnya.

Buku tipis yang secara umum menceritakan proses perjalanan kehidupan Al Ghazali mulai dari penguasaan dan pemahaman dasar tentang ilmu agama, lalu masuk pada fase penjelajahan alam filsafat, dan berakhir pada perjalanan spiritual tasawuf.

Seorang tokoh besar Islam yang fenomenal, yang bahkan implikasi dari karyanya Tahafut al-Falasifah mengakibatkan tokoh Islam besar lainnya Ibnu Rushd (Averroes) dan pengikut Ibnu Sina (Avicenna) dipersekusi oleh penguasa. Walau Pak Dhe Mo yakin, bahwa bukan hal ini lah harapan dari Sang Hujjatul Islam.

Cukup lama Pak Dhe Mo termenung, sontak kaget mendengar suara cempreng Teh Denok istrinya dari dalam rumah.

“Pak Dheeee….”
“Krisdayanti dan Raul Lemos masuk di channelnya Deddy Corbuzier!”
“Udah nonton belum?”
“Eh… eh… Pak Dhe tau nggak kalo Krisdayanti itu sebenarnya cerai dengan Anang gara-gara hamil duluan!”

Jiaaampuuuut!!

THE ENCHIRIDION – Chapter 1 by Epictetus

Ada hal-hal yang ada dalam kekuatan kita, dan ada hal-hal yang berada di luar kekuatan kita. Dalam kekuatan kita ada opini, tujuan, keinginan, keengganan, dan, dalam satu kata, urusan apa pun adalah milik kita.

Di luar kekuatan kita adalah tubuh, properti, reputasi, kantor, dan, dalam satu kata, apa pun yang bukan urusan kita sendiri. Sekarang hal-hal di dalam kekuatan kita secara alami bebas, tidak terbatas, tidak terhalang; tetapi mereka yang di luar kekuatan kita lemah, tergantung, dibatasi, asing.

Ingat, kemudian, bahwa jika Anda mengaitkan kebebasan dengan hal-hal yang secara alami tergantung dan mengambil milik orang lain untuk Anda sendiri, Anda akan terhalang, Anda akan meratap, Anda akan terganggu, Anda akan menemukan kesalahan baik dengan para dewa maupun manusia.

Tetapi jika Anda mengambil hanya milik Anda sendiri milik Anda dan memandang apa yang menjadi milik orang lain sebagaimana adanya, maka tidak ada yang akan memaksa Anda, tidak ada yang akan membatasi Anda; Anda akan menemukan kesalahan tanpa siapa pun, Anda tidak akan menuduh siapa pun, Anda tidak akan melakukan apa pun yang bertentangan dengan keinginan Anda; tidak ada yang akan melukai Anda, Anda tidak akan memiliki musuh, Anda juga tidak akan menderita kerugian.

Karena itu, bertujuan untuk mencapai hal-hal besar seperti itu, ingatlah bahwa Anda tidak boleh membiarkan diri Anda kecenderungan apa pun, betapapun kecilnya, terhadap pencapaian yang lain; tetapi Anda harus sepenuhnya berhenti dari beberapa dari mereka, dan untuk saat ini menunda sisanya.

Tetapi jika Anda memiliki ini, dan memiliki kekuatan dan kekayaan juga, Anda mungkin kehilangan yang terakhir dalam mencari yang pertama; dan Anda pasti akan gagal karena hal itu saja diperoleh kebahagiaan dan kebebasan.

Karena itu, cari sekaligus untuk dapat mengatakan kepada setiap kemiripan yang tidak menyenangkan, “Kamu hanyalah kemiripan dan sama sekali bukan hal yang nyata.” Dan kemudian memeriksanya dengan aturan-aturan yang Anda miliki; dan pertama dan terutama dengan ini: apakah itu menyangkut hal-hal yang berada dalam kekuatan kita sendiri atau yang tidak; dan jika itu menyangkut apa pun di luar kekuatan kami, bersiaplah untuk mengatakan bahwa itu bukan urusan Anda.

Kultus itu berwarna coklat

Secara kultural kita memang senang mengkultuskan sesuatu.

Tidak usah jauh-jauh untuk mencari contoh dari budaya kultus ini.

Dalam rumah tangga saja, berapa banyak orang tua yang merasa bahwa pendapatnya adalah kebenaran. Sampai-sampai mengebiri gagasan otentik dari anak.

Dalam dunia sekolah dan kampus, saya masih mudah menemukan fenomena guru dan dosen yang bila sudah menyandang gelar Professor atau Doktor diperlakukan bak ‘Dewa’ dan semua pendapatnya adalah semacam sabda yang tidak dapat diganggu gugat.

Dalam ruang lingkup sosial kemasyarakatan, tidak sulit kita temukan pemuka agama yang ‘playing God’, seolah kebenaran adalah miliknya. Dia lupa bahwa yang dia anggap kebenaran sebenarnya hanyalah penafsiran dia sendiri akan Kebenaran.

Kita tidak sadar, pada akhirnya pengkultusan itu membunuh nurani dan nalar.

Sekitar 2400 tahun silam, Socrates seorang filsuf besar Yunani pernah berucap bahwa “One thing only I know, and that is that I know nothing.” Atau yang kira-kira diterjemahkan bebas dengan “Satu hal yang saya tahu, bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”.

Pernyataan dengan redaksi yang berbeda namun memiliki makna yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam hadist Qudsi berikut ini, “Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” diriwayatkan oleh Abu Dzar.

Dalam berbagai literatur, kita temukan bahwa manusia-manusia pilihan akan selalu menegasikan pengkultusan, namun mereka senantiasa tidak pelit untuk menunjukkan jalan menuju Kebenaran. Jalan Kebenaran melalui media nurani dan nalar.

Di jaman now, pengkultusan akan seseorang atau sesuatu sepertinya tidak akan segera hilang. Sosial media seolah menjadi altar ritual kultus ini.

Betapa artis, pejabat dan politisi begitu dipuja, didengar, dan diikuti terlepas pernyataannya benar atau salah, terlepas idenya sesuai dengan nurani atau gagasannya bisa diterima dengan nalar sehat.

Pemujaan ini bahkan didisain dengan sistematis melalui strategi digital marketing, trending topic, berita viral, search engine optimization, FB ads, Google ads, dan lain-lain agar ritual pengkultusan ini termaintain dengan baik.

Tanpa sadar para pengkultus telah menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dan para artis, pejabat, politisi telah menjadi firaun-firaun jaman modern.

Padahal… taiknya sama-sama tetap berwarna coklat kekuningan dan berbau busuk!