Jangan pernah bergantung hanya dari pariwisata!

Pernyataan ini dikeluarkan oleh Gubernur Bali kemarin sehubungan dengan dampak parah yang amat dirasakan oleh industri pariwisata Bali karena pandemi covid-19. https://coconuts.co/bali/news/bali-needs-to-stop-depending-solely-on-tourism-governor-says/

Bagaimana tidak, satu destinasi yang ekonominya semula bergantung dari datangnya wisatawan sontak harus gigit jari dengan tidak adanya aktivitas wisata di sana, ekonomi menjadi lumpuh.

Tidak sulit kita temukan bahwa banyak hotel telah menutup operasionalnya semenjak bulan Februari. Sebagian lainnya yang masih cukup modal merumahkan sebagian, jika tidak seluruh karyawannya.

Kondisi yang sama atau bahkan lebih buruk terjadi pada ribuan biro perjalanan wisata, pemandu wisata, atraksi wisata, penyedia aktivitas wisata dan juga industri turunannya seperti suppliers dan vendor terkait.

Sesuatu yang logis, mengingat karakter pariwisata dengan multipliers effects-nya.

Fenomena ini sebenarnya baru kulit-kulit yang terjadi pada permukaan. Semacam jerawat yang mengganggu paras cantik seorang foto model yang biasanya bersolek cantik.

Contoh-contoh lain seperti penutupan usaha, pengurangan jumlah karyawan dapat kita baca pada banyak artikel belakangan ini. https://money.kompas.com/read/2020/05/09/190000126/ini-4-platform-penyedia-penginapan-yang-terimbas-krisis

Jika ditelusuri lebih dalam, maka kita akan menemui permasalahan non-performing loan yang meningkat, yang artinya permasalahan ini sudah juga mengancam industri perbankan.

Belum lagi jika kita mau menggali pada permasalahan-permasalahan aspek sosial, budaya, atau politik. Maka contoh-contoh permasalahan seperti meningkatnya KDRT, angka perceraian, kriminalitas, akan mudah kita temukan.

Bisa-bisa tulisan ini menjadi satu thesis magister tersendiri.

Dalam kesempatan yang lain, guru pariwisata saya tidak jemu-jemunya meneriakkan “tourism industry should be develop on top of strong agriculture, fisheries and manufacture industries”.

Artinya, untuk mengembangkan pariwisata yang kuat – kita harus memiliki industri pertanian, perikanan dan manufaktur/produksi yang kuat terlebih dahulu.

Hanya dengan ini maka kestabilan ekonomi bangsa akan lebih kokoh jika menghadapi hantaman badai krisis lain di masa yang akan datang.

Jangan juga dilupakan, pandemi ini otomatis akan mengubah paradigma orang di dalam berwisata.

Jangan bayangkan wajah pariwisata ke depannya akan tetap sama.

“Adapt or die”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s