Menjaga kewarasan di saat pandemi

#latepost #10Apr2020

Menjaga kewarasan di situasi seperti sekarang ini amat diperlukan.

Belakangan ini di timeline saya mulai muncul video-video ungkapan kemarahan, kekecewaan, kekesalan orang-orang yang karena faktor tertentu (umumnya ekonomi), menyuarakan perasaan mereka di sosial media.

Sesuatu yang logis memang, namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka, harus saya katakan bahwa ekspresi yang disampaikan seringkali agak berlebihan.

Apalagi jika disampaikan dengan bibir yang monyong, ludah yang menyembur-nyembur, mata yang melotot dan ekspresi sejenis lainnya.

Memang harus diakui, kondisi yang mereka rasakan mungkin akan sulit dimengerti bagi rekan-rekan lain yang setiap akhir/awal bulan masih menerima gaji rutin bulanan terlepas adanya potongan atau tidak.

Apalagi jika dibandingkan dengan “bapak-bapak” dan “ibu-ibu” yang saldo di rekeningnya di atas 9 dijit.

Mereka-mereka ini umumnya menggantungkan hidupnya dari profesi harian.

Artinya jika hari itu tidak terima uang, ya tidak bisa makan. Kondisi seperti ini amat bisa saya mengerti.

Sebagian dari mereka menyalahkan pihak tertentu, dan menuding semua kondisi yang mereka rasakan adalah karena ulah pihak tertentu.

Di dunia pariwisata, di bidang yang saya geluti, ternyata kondisi dan situasinya tidak jauh berbeda.

Saya mendengar ada sekelompok pengusaha Biro Perjalanan Wisata yang sedang menyuarakan opini agar mereka mendapatkan kompensasi dari pemerintah dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai.

Sekali lagi, hal ini sah-sah saja dan wajar-wajar saja.

Namun perlu diingat, bahwa sebelum badai covid-19 menerjang – sebenarnya situasi industri pariwisata memang sudah terdisrupsi lebih awal dengan gelombang industri 4.0 beberapa tahun yang lalu.

Jadi, mereka menuntut BLT ini murni karena covid-19 atau karena memang bisnis mereka yang tidak kompetitif? Akan butuh investigasi lebih lanjut tentunya.

Bagi saya pribadi, alih-alih menghabiskan energi untuk meluapkan emosi negatif ke sosial media, atau menggalang massa menuntut kompensasi kerugian atas pandemik ini – saya lebih condong untuk mencari alternatif jalan keluar yang positif.

Saya yakin jauh lebih banyak orang yang berada dalam situasi lebih sulit dari saya yang masih bisa mensyukuri semua hal yang terjadi.

Hutang yang tak kunjung lunas bahkan semakin menumpuk? Makan apa di rumah hari ini? Tidak bisa kemana-mana karena banyak batasan?

Semua ini tidak serta merta mengharuskan kita untuk melupakan berbagai nikmat-Nya yang tak terhingga. Waktu yang berkualitas dengan anak dan istri, kesehatan kita di tengah-tengah wabah global ini, dan kewarasan berpikir untuk melihat apa yang benar-benar terjadi dan kemampuan untuk menghasilkan hal-hal yang positif lainnya.

Akhirnya pun saya memilih untuk berkorespondensi dengan kolega-kolega saya di negeri seberang. Sekedar berbagi cerita tentang situasi yang sama-sama kita alami.

Membangun solidaritas global dalam skala yang kecil. Sebisa saya, semampu saya. Berempati dan menyemangati agar tidak putus asa dan patah arang. Agar tetap eksis di dunia yang kita geluti ini.

Dan siapa tahu, saat pandemi ini berakhir justru kondisi akan menjadi lebih baik, bahkan lebih baik daripada sebelum datangnya wabah covid-19 ini. Toh di saat yang bersamaan juga, kita sudah memasuki gelombang industri 5.0.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s