Wajah pariwisata yang berubah

Wajah pariwisata usai covid jelas akan berubah.

Walau secara realita Indonesia belum sepenuhnya pulih dari pandemi, namun tanda-tanda melonggarnya PSBB mulai tampak pada sebagian Kabupaten/Kota dan Propinsi. Ini tentunya tanpa memperhitungkan faktor “kengeyelan” masyarakat yang turut mendukung kurva covid tak kunjung turun, kemungkinan hadirnya gelombang kedua pandemi, atau potensi munculnya perang besar antara US dan Cina di sisi utara Indonesia.

Namun, kata orang-orang “the life must go on”, dan begitu juga pariwisata.

Hal yang paling membedakan antara sebelum dan setelah pandemi tentu akan terlihat pada perubahan tourist behaviour.

Usai covid, staycation akan semakin meningkat. Fenomena staycation yang “in” sejak 2018 ini berpotensi akan mengalami peningkatan permintaan. Mengapa tidak, selain karena faktor biaya, pertimbangan keamanan dan kesehatan membuat staycation menjadi primadona baru pariwisata.

Pada sisi lain, memiliki arti bahwa pihak yang diuntungkan adalah penyedia jasa akomodasi, hotel, dan villa. Namun demikian, reposisi target pasar perlu dilakukan oleh pengelola jasa akomodasi.

Jika semula membidik pasar wisatawan korporasi/government dari ibukota sebagai sumber pasar utama tradisional. Mulai lah untuk menjajaki kerjasama, memberikan penawaran yang menggugah minat dan preferensi juragan-juragan lokal.

Para penyedia jasa transportasi, car rental, biro perjalanan wisata sabar ya. Staycation bukan untuk kalian. Namun kalian tetap bisa join-in partnership dengan hotel untuk memberikan layanan free pick-up service bagi para staycationer.

Usai covid, wisatawan harus berpikir ulang jika harus melakukan perjalanan dengan airline. Bukan apa-apa, mahal cuy! Logis saja, seat capacity Boeing 737-800 yang semula 162 dengan konfigurasi 2 (dua) kelas, hanya boleh diisi maksimal 113 penumpang (atau 70% dari kapasitas maksimal).

Artinya, Airline Functional Cost yang meliputi Direct Operating Costs (DOC), Aircraft servicing costs, Traffic service costs, Passenger service costs, Reservation/Sales costs dan Advertising/Administrative costs, yang semula dibagi 162 harus dibagi 113.

Belum lagi dengan diberlakukannya persyaratan khusus seperti: Surat Persyaratan Pendukung Perjalanan dari Lembaga/Instansi Terkait, Surat Pernyataan Perjalanan dalam Rangka Pengendalian COVID-19, Surat Kesehatan dengan hasil tes Rapid non-reaktif atau PCR/Swab negatif, Formulir Kewaspadaan Kesehatan Provinsi Bali, dan Surat Izin Keluar /Masuk Provinsi DKI Jakarta.

Dokumen itu semua membuat perjalanan menjadi ribet. Dengan kata lain, abaikan saja untuk melihat pariwisata leisure akan lekas membaik dalam waktu dekat.

Pariwisata yang berlangsung diawal-awal usai pandemi akan didominasi oleh wisatawan yang merupakan kategori must-travel tourist, yang jika ditinjau dari perspektif ekonomi memang memiliki karakter inelastic demand, seperti wisatawan pada segmen bisnis dan pemerintah yang sedang melakukan tugas resmi dari institusinya.

Karena mahal dan ribetnya perjalanan udara, secara logis wisata roadtrips akan naik daun. Selain relatif lebih murah dan tidak ribet, roadtrips memungkinkan wisatawan mendapatkan experiences yang lebih kaya dari destinasi wisata yang dikunjungi, maupun experiences dikala perjalanan menuju destinasi.

Di sini teman-teman pengelola car rental dan penyedia jasa transportasi serta biro perjalanan wisata bisa memainkan peran dengan lebih maksimal. Entah memodifikasi mobil dengan konsep karavan, membuat paket dan program roadtrips yang variatif/menarik, atau menyediakan fasilitas in-car entertainment khusus semacam kursi pijat, netflix in-the car dan sebagainya sebagai value added dari produk yang ditawarkan.

Sayangnya, roadtrips ini mungkin tidak bisa dinikmati secara merata oleh pelaku pariwisata Indonesia mengingat karakter negara kita dengan ribuan pulaunya. Terbayang dengan jelas wajah teman-teman saya di Waisai, Wakatobi, Togean. Terlintas pula wajah mereka yang ada di Labuan Bajo, 3 Gili di Lombok, bahkan Bali yang mungkin benar-benar harus merubah pola perekonomian mereka.

Dalam hal aktivitas wisata dan destinasi wisata, entah kenapa saya tidak bisa tidak, selain melihat ekowisata sebagai salah satu bintang terang pariwisata dikala pandemi ini berakhir. Hal ini dikarenakan karakter dari aktivitas dan destinasi ekowisata yang umumnya memang inline dengan perilaku masyarakat, yang sudah pasti berubah karena pandemi covid-19.

Lihat saja, ekowisata yang ideal di dalamnya selalu mempertimbangkan unsur-unsur pariwisata yang berkelanjutan dan daya dukung, baik itu ditinjau dari sisi wisatawan, industri, masyarakat maupun lingkungannya (VICE model).

Singkatnya, wajah pariwisata usai pandemi akan hadir dengan beberapa ciri umum, yaitu: shorter & closer trip duration dan travel in smaller group size. Tentunya kondisi ini akan terus berevolusi secara alami di masa yang akan datang seiring dengan turut berubahnya perilaku kita, manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s