Pak Dhe Mo dan OpenBO

Pak Dhe Mo pusing tujuh keliling. Di kampungnya sedang ada pagebluk berupa virus corona. Banyak yang bilang bahwa pagebluk ini jauh-jauh datang dari negeri Cina dan sampai juga ke kampung tempat Pak Dhe Mo berdomisili.

Dua hari yang lalu, Bu Jono, tetangga Pak Dhe Mo baru saja meninggal dunia. Yang menghebohkan, ternyata banyak orang-orang yang berpakaian ala astronot mengurus jenazah Bu Jono. Tidak lama sebelum Bu Jono, Abah Rukim dari gang sebelah juga meninggal dengan kehebohan yang tidak jauh berbeda.

Tapi sebenarnya bukan itu yang memusingkan Pak Dhe Mo. Karena dia yakin, bahwa jodoh, rezeki dan kematian sudah ditetapkan oleh Allah.

Yang bikin puyeng sebenarnya karena ulah si virus ini, Pak Dhe Mo harus merumahkan sekian banyak anak buahnya, dan usaha biro perjalanan wisata yang dia rintis sejak 17 tahun silam harus dia tutup. Toh percuma saja, dibuka pun tidak ada tamu yang diurus. Lha wong tidak ada seorang turis pun yang boleh datang.

Maklum, Pak Dhe Mo jelek-jelek begitu memang mainannya internasional. Marketnya bule-bule middle class yang senang keluar masuk hutan dan gunung, menikmati keindahan candi-candi, dan bersantai di pulau-pulau yang sepi namun terlalu malas untuk mengurus semua aspek perjalanannya secara mandiri. Satu niche market yang memang akan selalu ada untuk pasar apapun. Mereka-mereka ini umumnya memang ada di rentang usia 30-50 tahun.

“Wes… entek iki”, ujar Pak Dhe Mo kepada Teh Denok istrinya.

Dihitung-hitung, sudah sejak awal tahun 2020 Pak Dhe Mo tidak menerima kedatangan satu turis pun. Alias zero income hingga sekarang. Dan selama tidak adanya turis, maka isi tabungan Pak Dhe Mo pun semakin menipis. Ya untuk bayar gaji karyawan, maupun juga tagihan-tagihan kartu kredit dan biaya operasional kantor serta keperluan logistik dapur di rumah.

Selain hutang-hutangnya ke kolega dan keluarga, bahkan kini aset-aset kantor pun sudah mulai ditawarkannya ke situs jual beli online. Kemarin bahkan dia mencoba menjual satu set stick golf miliknya.

“Bu… iki jaman wes gak karu-karuan, sepertinya aku harus banting setir iki!”. Teh Denok sampai kaget dibuatnya.

“Pokoknya, mulai dari hari ini, kamu belanja dapur maksimal hanya boleh Rp30ribu per hari, mboh yak opo carane!”

“Ngedol montor gak payu, ngedol omah gak payu, dol sembarang saiki gak payu kabeh!”

“Sing payu saiki mek dodolan masker karo tempik!”, tukas Pak Dhe Mo dengan suara kerasnya.

Pak Dhe Mo tidak salah, di situasi seperti sekarang ini memang shifting paradigm sedang berlangsung. Permintaan dan penawaran sedang berpindah ke arah produk-produk kesehatan dan derivasinya. Masker merk 3m seri 8210 medis menjadi komoditas yang istimewa. Bahkan sampai over demand. Harga pasarnya begitu volatil.

Sambil terus mengumpat dengan bahasa khas Suroboyoan yang tidak terlalu dipahami oleh Teh Denok yang asli dari Garut, Pak Dhe Mo membuka gawainya. Pada laman akun twitter dia temukan penawaran menarik sebagai berikut.

Cassy ( OPEN BO Private & VCS REAL ) Surabaya !!Available !! Real Account TB 160 – BB 46KG – BRA 34A – Y.O 21 #OPENBO#OPENVCS Wajib KONDOM – NO ANAL!! Wartawan MinggirAVAIL BOOKING & SLOT VCS TRUSTED

Jancuuuuk!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s