Tautan terkait dengan hasil Studi Evaluasi Formatif Pengelolaan Ekowisata ‘Burung Indonesia’ di Mbeliling, Flores

Covid pandemic is hitting global tourism, Indonesia is no exception. However, there is hope that tourism will improve in the future. Ecotourism is one product that is considered to be capable of being the solution.

Burung Indonesia is the main ecotourism operator in Flores, its activities are located in the Mbeliling area about 50 km from Labuanbajo. Is the ecotourism management carried out well and in accordance with global sustainable tourism standards?

This study aims to evaluate the management of ecotourism in Mbeliling, Flores by referring to the overall criteria and indicators required by GSTC v2.0

The method used in applied social research formative evaluation is descriptive qualitative. Data collection was carried out directly through comprehensive observation and in-depth interviews for five days in the field. Secondary data obtained through documentation, historical comparison, and supported by quantitative non-reactive data. In the next stage, the analysis of research is more emphasized on the analysis of literature conducted descriptively.

The results of the study revealed unsatisfactory results for managers. The results of this evaluation should be used as a reference for future improvements, so that they become superior ecotourism operators and in accordance with sustainable tourism practices.

Keyword: Ecotourism; Formative Evaluation Research; GSTC v2.0; Mbeliling; Sustainable Tourism

Download article from its source

Identifikasi Service Blueprint di Desa Wisata Kebontunggul (Lembah Mbencirang), Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto

An article by Agung Yoga Asmoro (1), M. Nilzam Aly (2), and Handika Fikri Pratama (3)

(1) Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin (2) Prodi Bina Wisata, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga (3) Politeknik Pariwisata Palembang

Unduh di http://ejournal.polbeng.ac.id/index.php/IBP/article/view/1549

Abstract

This study aims to comprehend the actual conditions of business processes and to identify service blueprints in the Kebon Tunggul Tourism Village “Lembah Mbencirang” by analyzing their business activities and service flows to visitors. This research is community-based research (CBR) conducted using the Participatory Action Research (PAR) approach. It resulted in the findings that there were various internal problems related to management during 2017-2020, especially related to the accountability and transparency of budget management in addition to more fundamental issues regarding tourist attraction management, such as the absence of an organizational structure, no clear division of staff duties, and the nonappearance of a standardized service flow. We concluded that basically, the business processes in the Lembah Mbencirang can be grouped into two, the first is the package tour services, and the second is the general visitors’ services. As a tourism product which is essentially a service product, service blueprint is very significant as an effort to understand the service experience from the perspective of the customer, which in this context was not previously owned by the manager. The service blueprint generated from this study can identify the existence of various service processes so that all staff can cognize the context and conditions of their duties in a more holistic customer service perspective.

Keywords

service blueprint; rural tourism; lembah mbencirang; kebontunggul; mojokerto

https://doi.org/10.35314/inovbiz.v8i2.1549

(Teaser) Buku Ajar: Manajemen Usaha Perjalanan Wisata

Ini Teaser. Buku dengan 262 halaman ini sedang dalam proses penerbitan, dan segera akan dapat diunduh di Google Play Books dari gawai anda.

“Naskah yang ditulisnya kali ini layak menjadi bacaan dan referensi bagi mahasiswa, maupun praktisi dan khalayak umum.
Di awal buku pembaca diajak untuk mempelajari sejarah dari industri perjalanan wisata, lalu secara metodis akan dipandu untuk memahami berbagai sisi dan ruang interaksi dari industri perjalanan wisata. Pembaca akan secara kontinu diajak melihat dari perspektif seorang pengelola perjalanan wisata profesional yang harus dengan cepat dan tepat mengatasi permasalahan-permasalahan lapangan yang terjadi.
Hal yang paling menarik bagi saya dalam buku ini adalah pada bab khusus tentang biro perjalanan wisata yang berkelanjutan, dimana sudah selayaknya bagi para pihak industri, khususnya para tour operator dan tour guide sebagai salah satu stakeholder pariwisata mulai mengaplikasikan etika konservasi, berperilaku sustainable, sekaligus “digital friendly”.
Akhir kata, buku ini tentu dapat menjadi salah satu rujukan untuk lebih banyak melahirkan pelaku usaha perjalanan wisata yang bertanggung jawab. Semoga.”

DAMPAK SOSIAL BUDAYA PARIWISATA: MASYARAKAT MAJEMUK, KONFLIK DAN INTEGRASI SOSIAL DI YOGYAKARTA

Download dokumen PDF asli di https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/jp/article/view/8559/pdf

Pariwisata telah menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu provinsi paling majemuk di Indonesia. Kemajemukan menyimpan bahaya laten, berupa potensi gesekan pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengungkap perkembangan pariwisata di Yogyakarta serta dampak sosial budaya yang mengikutinya dengan fokus kepada faktor yang mendorong terwujudnya integrasi sosial masyarakat Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian terapan social impact ini adalah eksploratori kualitatif, yang dilakukan dalam rentang waktu satu tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi komprehensif, in-depth interview, dokumentasi, komparasi historis, serta didukung data kuantitatif non-reaktif. Selanjutnya, analisa penelitian lebih banyak ditekankan pada analisis literatur yang dilakukan secara deskriptif. Kemajemukan di Yogyakarta ada semenjak dulu, perkembangan pariwisata semakin mempertegas kemajemukan masyarakat. Interaksi sosial yang terjadi berujung pada konflik sosial atau terciptanya integrasi sosial di masyarakat. Namun nilai kerukunan dan rasa hormat, serta budaya gotong royong ditambah dengan figur positif dari Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X telah mampu memperkecil konflik yang terjadi selama ini.


Tourism makes Yogyakarta one of the most diverse provinces in Indonesia. Pluralism holds latent threats in the form of potential animosities in society. This study aims to uncover the tourism development in Yogyakarta and its socio-cultural impact, focusing on factors that encourage the social integration of the people. The method in these applied social impact research is qualitative exploratory, carried out in one year. Data collection is carried out with comprehensive observation, in-depth interviews, documentation, historical comparison, and supported by non-reactive quantitative data. Furthermore, we emphasized the research in the analysis of literature. Pluralism in Yogyakarta has always existed. Tourism development further increased diversity. Social interactions that occur will lead to social conflict or the creation of social integration in society. However, the value of harmony, respect, and cooperation culture, coupled with a definite figure from the King of Yogyakarta, has been able to minimize conflicts in the community.

Pariwisata dan IPOLEKSOSBUDHANKAM (recehan pagi)

Ini sekedar corat coret, untuk kepariwisataan Indonesia setelah masa covid-19 berakhir.

Selama ini pariwisata Indonesia seringkali hanya dianggap sebagai “barang dagangan” yang diobral dengan harga yang murah, padahal pariwisata secara realita adalah satu lahan dimana pertarungan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan berlangsung.

Tercatat bahwa pemegang paspor dari 170 jurisdiksi bebas melenggang masuk ke Indonesia dengan durasi singgah selama 30 hari. Terekam pula ada lebih dari 16,1 juta orang asing yang masuk ke Indonesia pada tahun 2019 lalu.

Makin maraknya perjalanan manusia antar negara dari tahun ke tahun tentu juga membawa gagasan dan cara pandang bernegaranya masing-masing.

Pancasila sebagai satu sistem nilai negara tanpa sadar berada dalam satu tekanan yang amat besar. Interaksi dan intensitas komunikasi antar manusia yang terjalin dari kepariwisataan memungkinkan terciptanya hal itu.

Tanpa adanya pemahaman yang kuat terhadap Pancasila, warga negara Indonesia akan mudah mengadopsi ideologi-ideologi dari luar yang sebenarnya tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Implikasinya, nasionalisme luntur dan kecintaan terhadap bangsa ini menjadi kendor.

Kebijakan politik luar negeri Indonesia menganut politik luar negeri bebas-aktif. Bebas berarti tidak terikat kepada suatu kelompok/blok tertentu. Sementara aktif, berarti aktif dalam mengembangkan kerjasama internasional dengan negara-negara lain.

Hal ini tentu adalah keluaran logis dari nilai-nilai bangsa yang tercantum pada UUD 1945 yang merupakan dasar hukum tertinggi negara Indonesia.

Adalah ironis, jika kebijakan politik luar negeri yang seharusnya ideal ini namun secara implementatif tidak bisa dikatakan memenuhi nilai berkeadilan. Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat fakta ini.

Pada rekam data dapat kita lihat bersama bahwa Indonesia membuka pintu sebebas-bebasnya kepada pemegang paspor dari 170 jurisdiksi. Mereka-mereka ini (wisatawan) tidak perlu repot-repot mengurus visa untuk datang ke negara kita. Pintu kita terbuka lebar untuk mereka.

Sayangnya hal yang sama tidak berlaku pada pemegang paspor hijau Republik Indonesia dengan cover gambar Garuda Pancasila.

Nyatanya, paspor RI tanpa didukung pengurusan visa in advance hanya bisa diterima langsung oleh 74 negara. Bahkan, The Sovereign Man sebagai salah satu lembaga pemeringkat paspor menempatkan paspor RI di peringkat #109 dari total 198 penerbit paspor.

Untuk level ASEAN, peringkat paspor kita bahkan masih jauh tertinggal di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, Timor Leste dan Thailand.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata adalah the shining star of economy. Kalau sudah bicara manfaat ekonomi dari pariwisata, maka semua mata akan melotot dan melek.

Angka-angka di atas itu baru berupa nominal penerimaan yang sifatnya langsung. Kita juga perlu mengetahui bahwa multiplier effect pariwisata itu membawa direct, indirect dan induce effect terhadap ekonomi. Ini artinya, manfaat pariwisata bagi perekonomian Indonesia lebih daripada itu.

Namun demikian, benarkah kepariwisataan kita surplus? atau jangan-jangan malahan defisit?

Agar proporsional, kita perlu melihat juga potensi kerugian secara ekonomi dari pariwisata ditinjau secara makro.

Dari data DJU DepHub, kita bisa temukan bahwa ada 37,291,525 penumpang yang bepergian ke luar negeri pada tahun 2019. Kalau dihitung goblok-goblokan saja, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lainnya, angka ini dikurangi dari jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia pada periode yang sama 15 juta, maka akan ditemukan selisih angka 22 jutaan.

Let’s be honest, tidak perlu banyak profesor untuk berasumsi bahwa potensi defisit pariwisata itu mungkin terjadi di Indonesia.

Mengapa?

Karena angka wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia pun juga sudah melalui proses penggelembungan data. Kasarannya begini, pada tahun 2019 ada 1,178,381 wisatawan asal Timor Leste yang masuk ke Indonesia dan ada 2,980,753 wisatawan asal Malaysia.

Apakah turis yang hanya numpang kencing dan membeli teh botol di Indonesia memiliki valuasi ekonomi yang setara dengan wisatawan Indonesia yang berlibur ke luar negeri?

Ini lah minusnya cross-border tourism yang sibuk dikerjakan oleh Menteri Pariwisata periode yang lalu. Entah berapa puluh atau bahkan ratus milyar APBN yang dikeluarkan hanya untuk ‘mendongkrak’ angka-angka ini.

Demonstrative effects, perubahan nilai-nilai dan modifikasi budaya adalah beberapa dampak sosial budaya yang umumnya negatif, buah dan hasil dari pariwisata.

Tidak sulit jika kita berkunjung ke satu destinasi wisata maka kita menemukan bulok (bule lokal). Mereka ini umumnya mengadopsi gaya busana, gaya bahasa, sikap dan perilaku orang lokal yang meniru wisatawan asing.

Masih di tempat yang sama, kita akan temukan anak-anak muda yang nongkrong sambil minum alkohol, ciuman dan bermesraan di tempat umum seolah adalah hal yang lumrah, karena turis pun melakukannya.

Selain fenomena tadi, juga dapat kita temukan terjadinya persaingan antar pekerja pariwisata yang kurang sehat. Supir berebut menawarkan jasa mereka mengantar turis, tidak jarang berakhir dengan hal-hal yang sifatnya kriminal.

Berkurangnya sikap tenggang rasa, modifikasi dan perubahan seni budaya lokal, timbulnya perasaan eksploitasi pada masyarakat, pelecehan terhadap budaya lokal adalah beberapa dampak negatif sosial budaya dari keberadaan pariwisata.

Dari 16 jutaan turis asing yang masuk ke Indonesia setiap tahunnya, dengan minimnya filter di imigrasi, maka tidak sulit untuk mengatakan bahwa intelejen asing pun amat mudah keluar masuk di Indonesia. Padahal kita ketahui bersama bahwa intelijen adalah lini pertama dalam sistem keamanan nasional.

Tentu mereka memiliki maksud dan tujuannya masing-masing dengan kedok berbagai cara untuk mewakili kepentingan negara pengekspor.

Sebagian ada yang berkedok sebagai LSM, wartawan, pekerja asing, budayawan, tidak sedikit yang bahkan sudah puluhan tahun berdomisili di Indonesia.

Anggap saja dari semua aset intelijen asing yang ada di Indonesia, berapa orang yang sudah terdeteksi. Saya kok pesimis, jika BIN kita mengetahui 50%-nya. Coba kalikan saja jika jumlah intel asing itu adalah 10,000 orang. Ini belum jika kita memasukkan faktor WNI yang direkrut oleh asing lho ya!

Saya pribadi memiliki teman seorang warga negara Israel yang berdomisili di Ubud semenjak 1991, yang tanpa sengaja, ketahuan memiliki 8 paspor yang berbeda penerbit.

Namun, yang masih saya ingat dengan jelas adalah bahwa dia dikenal masyarakat lokal sebagai US citizen, pemerhati budaya dan praktisi pertanian organik.
Tapi saya yakin banyak orang tidak tahu, bahwa setiap setahun sekali dia masih harus ‘wajib lapor’ ke Israel, dengan transit melalui Singapura.

Intinya, bicara pariwisata itu jangan melulu hanya melihat faktor manfaat ekonominya saja. Kok ‘matre’ banget sih. Pariwisata kita pun tidak perlu dijual murah.

Pariwisata itu seyogianya diperlakukan seperti seorang Putri Kraton. Silakan kalian kagumi kecantikannya, betapa ayu dan anggunnya putri ini, betapa smart dan cerdas dia, namun jangan berpikir untuk macam-macam, para punggawanya akan siap menghunuskan keris untuk memburaikan isi perutmu.

Jangan kamu perlakukan seperti lonte di Saritem atau Sunan Kuning.

Bayar, pakai, tinggalkan… Itu sadis!