Jurnal Akademis tentang Ekowisata

Site Title

Nama : Marcellina Yovanca Ericosta Rahung

NPM : 195017

STP Satya Widya Surabaya

Tugas : Ekologi Pariwisata

Dosen : Agung Yoga Asmoro

No.PenulisTahunJudulKeywordsArgumenKonteksMetodologiTemuanPenelitian lanjutanCatatan
1.Edi Mulyadi, Okik Hendriyanto, Nur Fitriani2010KONSERVASI HUTAN MANGROVE SEBAGAI EKOWISATAMangrove, Konservasi, EkowisataDampak dari peningkatan pembangunan fasilitas dan sarana utilitas di Balikpapan secara tidak langsung berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan yang meningkat, mengakibatkan berkurangnya ruang terbuka hijau di Balikpapan.Permasalahan utama adalah pengaruh dan tekanan habitat mangrove bersumber dari keinginan manusia untuk mengkonversi areal hutan mangrove menjadi areal pengembangan perumahan, industri dan perdagangan, kegiatan-kegiatan komersial maupun pergudangan.observasi dan wawancara.Perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan terutama di kawasan Sungai Wain Balikpapan diakibatkan karena pertambahan penduduk yang semakin cepat dan luas kawasan yang terbangun.Terdapat 4 (empat) faktor yang berkonstribusi positif serta 3 aspek yaitu, aspek teknik…

Lihat pos aslinya 474 kata lagi

Tugas I Ekologi Pariwisata ( Meringkas 3 Jurnal Akademis Ekowisata )

Fahra Bahalwan

Nama : Fahra Bahalwan

NPM : 19 1175

STP Satya Widya Surabaya

Tugas : Ekologi Pariwisata

Dosen : Agung Yoga Asmoro

PenulisTahunJudulKeywordsArgumenKonteksMetodologiTemuanPenelitian LanjutanCatatan
Dian Satria2009Strategi Pengembangan Ekowisata Berbasis Ekonomi Lokal Dalam Rangka Program Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Kabupaten MalangSustainable development, ecotourism, Sempu Island and local economy.Pengembangan ekowisata di wilayah Pulau Sempu hendaknya dapat diselaraskan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, serta tidak berbenturan dengan upaya konservasi yang telah dilakukan pemerintah daerah di wilayah ini.Pengembangan ekowisata di Pulau Sempu semaksimal mungkin harus dapat melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah secara optimal dalam setiap proses-proses di dalamnya. Hal ini dilakukan guna memberikan ruang yang luas bagi masyarakat setempat untuk menikmati keuntungan secara ekonomi dari pengembangan ekowisata di wilayah ini.Peningkatan kerjasama perlu untuk ditingkatkan dengan institusi atau lembaga terkait, seperti agen perjalanan dan unit aktivitas mahasiswa pecinta alam, guna melahirkan ide-ide…

Lihat pos aslinya 1.200 kata lagi

ANALISIS POTENSI WISATA DESA DENGAN KERANGKA 6A: STUDI KASUS DESA NGAJUM, MALANG

Unduh di: https://amptajurnal.ac.id/index.php/MWS/article/view/362/244

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi wisata baik dari sisi produk maupun pasar wisata sebagai langkah awal dari pengembangan kepariwisataan di Desa Ngajum. Penelitian ini merupakan community-based research yang diimplementasikan dengan pendekatan Participatory Action Research. Analisis dilakukan melalui pendekatan komponen produk wisata 6A’s tanpa mengabaikan analisis pasar wisata. Temuan penelitian ini adalah bahwa Desa Ngajum memiliki potensi wisata yang belum tergali. Kekurangan pada sisi komponen attractions dan available packages akan dapat teratasi dengan dikembangkannya atraksi wisata buatan pada lahan A, terdapat potensi aktivitas ekowisata pada lahan B, agrowisata pada perkebunan kopi rakyat, wisata spiritual di Padepokan Soerjo Alam, serta potensi kolaborasi factory tour dengan Pabrik Susu Greenfield. Potensi ini harus dirancang bertahap agar mendapatkan hasil yang optimal bagi masyarakat dengan melibatkan peranan Bumdes dan Pokdarwis sebagai aktor utama. Pada akhirnya komponen amenities sudah cukup baik, sedangkan activities akan selaras dengan pengembangan attractions. Adapun komponen accessibilities dan ancillary services merupakan komponen produk wisata yang sudah dapat dikategorikan dalam kondisi baik.

Kata Kunci: Potensi Wisata; Komponen Produk Wisata; Analisis Pasar Wisata; Wisata Desa; Ngajum

ANALYSIS OF RURAL TOURISM POTENTIALS WITH THE 6A FRAMEWORK:A CASE STUDY IN NGAJUM VILLAGE, MALANG

This study aims to map tourism potential both in terms of tourism products and markets as an initial step in developing tourism in Ngajum Village. This research is community-based research implemented using the Participatory Action Research approach. The analysis was carried out through 6A’s tourism product component approach without disregarding the tourism market analysis. The findings of this study are that Ngajum Village had untapped tourism potentials. Weaknesses in the components of attractions and available packages will be resolved by developing artificial attraction on land A, the potential for ecotourism activities on land B, agro-tourism on people’s coffee plantations, spiritual tourism in Padepokan Soerjo Alam, as well as the potential for factory tour collaborations with Greenfield Dairy Factory. These potentials must be designed in stages to obtain optimal outcomes for the community by involving the roles of BUMDES and Pokdarwis as the main actors. In the end, the amenities component is considerably good, while the activities will align with the development of the attraction. The accessibilities and ancillary services are in good condition.

Keywords: Tourism Potentials; Tourism Product Components; Tourism Market Analysis; Rural Tourism; Ngajum

Download from: https://amptajurnal.ac.id/index.php/MWS/article/view/362/244

COVID 19 and sustainable tourism: Information resources and links

annaspenceley

Coronavirus image

It seems that everyone involved in the travel sector has been affected by the coronavirus COVID 19 pandemic.  There are an increasing number of interesting studies and articles and think-pieces that have been published on this topic.  Some of these share information on the impacts of our dramatically changed travel patterns on industry and destinations, some include suggestions of proactive approaches, and some provide market insights.

This is an evolving database of over 400 resources which quick-links to people looking for insights and ideas.  I hope this helps as we try to understand the implications of this massive global challenge, and move towards a better future.

The resources fall under the following headers:

  1. Ideas to help resilience and recovery
  2. Market research and intelligence
  3. Impacts on tourism and destinations
  4. Virtual tours and ideas to keep us inspired

I will add to this page over time, and please let me know if…

Lihat pos aslinya 6.029 kata lagi

Pariwisata dan IPOLEKSOSBUDHANKAM (recehan pagi)

Ini sekedar corat coret, untuk kepariwisataan Indonesia setelah masa covid-19 berakhir.

Selama ini pariwisata Indonesia seringkali hanya dianggap sebagai “barang dagangan” yang diobral dengan harga yang murah, padahal pariwisata secara realita adalah satu lahan dimana pertarungan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan berlangsung.

Tercatat bahwa pemegang paspor dari 170 jurisdiksi bebas melenggang masuk ke Indonesia dengan durasi singgah selama 30 hari. Terekam pula ada lebih dari 16,1 juta orang asing yang masuk ke Indonesia pada tahun 2019 lalu.

Makin maraknya perjalanan manusia antar negara dari tahun ke tahun tentu juga membawa gagasan dan cara pandang bernegaranya masing-masing.

Pancasila sebagai satu sistem nilai negara tanpa sadar berada dalam satu tekanan yang amat besar. Interaksi dan intensitas komunikasi antar manusia yang terjalin dari kepariwisataan memungkinkan terciptanya hal itu.

Tanpa adanya pemahaman yang kuat terhadap Pancasila, warga negara Indonesia akan mudah mengadopsi ideologi-ideologi dari luar yang sebenarnya tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Implikasinya, nasionalisme luntur dan kecintaan terhadap bangsa ini menjadi kendor.

Kebijakan politik luar negeri Indonesia menganut politik luar negeri bebas-aktif. Bebas berarti tidak terikat kepada suatu kelompok/blok tertentu. Sementara aktif, berarti aktif dalam mengembangkan kerjasama internasional dengan negara-negara lain.

Hal ini tentu adalah keluaran logis dari nilai-nilai bangsa yang tercantum pada UUD 1945 yang merupakan dasar hukum tertinggi negara Indonesia.

Adalah ironis, jika kebijakan politik luar negeri yang seharusnya ideal ini namun secara implementatif tidak bisa dikatakan memenuhi nilai berkeadilan. Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat fakta ini.

Pada rekam data dapat kita lihat bersama bahwa Indonesia membuka pintu sebebas-bebasnya kepada pemegang paspor dari 170 jurisdiksi. Mereka-mereka ini (wisatawan) tidak perlu repot-repot mengurus visa untuk datang ke negara kita. Pintu kita terbuka lebar untuk mereka.

Sayangnya hal yang sama tidak berlaku pada pemegang paspor hijau Republik Indonesia dengan cover gambar Garuda Pancasila.

Nyatanya, paspor RI tanpa didukung pengurusan visa in advance hanya bisa diterima langsung oleh 74 negara. Bahkan, The Sovereign Man sebagai salah satu lembaga pemeringkat paspor menempatkan paspor RI di peringkat #109 dari total 198 penerbit paspor.

Untuk level ASEAN, peringkat paspor kita bahkan masih jauh tertinggal di bawah Singapura, Brunei, Malaysia, Timor Leste dan Thailand.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pariwisata adalah the shining star of economy. Kalau sudah bicara manfaat ekonomi dari pariwisata, maka semua mata akan melotot dan melek.

Angka-angka di atas itu baru berupa nominal penerimaan yang sifatnya langsung. Kita juga perlu mengetahui bahwa multiplier effect pariwisata itu membawa direct, indirect dan induce effect terhadap ekonomi. Ini artinya, manfaat pariwisata bagi perekonomian Indonesia lebih daripada itu.

Namun demikian, benarkah kepariwisataan kita surplus? atau jangan-jangan malahan defisit?

Agar proporsional, kita perlu melihat juga potensi kerugian secara ekonomi dari pariwisata ditinjau secara makro.

Dari data DJU DepHub, kita bisa temukan bahwa ada 37,291,525 penumpang yang bepergian ke luar negeri pada tahun 2019. Kalau dihitung goblok-goblokan saja, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lainnya, angka ini dikurangi dari jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia pada periode yang sama 15 juta, maka akan ditemukan selisih angka 22 jutaan.

Let’s be honest, tidak perlu banyak profesor untuk berasumsi bahwa potensi defisit pariwisata itu mungkin terjadi di Indonesia.

Mengapa?

Karena angka wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia pun juga sudah melalui proses penggelembungan data. Kasarannya begini, pada tahun 2019 ada 1,178,381 wisatawan asal Timor Leste yang masuk ke Indonesia dan ada 2,980,753 wisatawan asal Malaysia.

Apakah turis yang hanya numpang kencing dan membeli teh botol di Indonesia memiliki valuasi ekonomi yang setara dengan wisatawan Indonesia yang berlibur ke luar negeri?

Ini lah minusnya cross-border tourism yang sibuk dikerjakan oleh Menteri Pariwisata periode yang lalu. Entah berapa puluh atau bahkan ratus milyar APBN yang dikeluarkan hanya untuk ‘mendongkrak’ angka-angka ini.

Demonstrative effects, perubahan nilai-nilai dan modifikasi budaya adalah beberapa dampak sosial budaya yang umumnya negatif, buah dan hasil dari pariwisata.

Tidak sulit jika kita berkunjung ke satu destinasi wisata maka kita menemukan bulok (bule lokal). Mereka ini umumnya mengadopsi gaya busana, gaya bahasa, sikap dan perilaku orang lokal yang meniru wisatawan asing.

Masih di tempat yang sama, kita akan temukan anak-anak muda yang nongkrong sambil minum alkohol, ciuman dan bermesraan di tempat umum seolah adalah hal yang lumrah, karena turis pun melakukannya.

Selain fenomena tadi, juga dapat kita temukan terjadinya persaingan antar pekerja pariwisata yang kurang sehat. Supir berebut menawarkan jasa mereka mengantar turis, tidak jarang berakhir dengan hal-hal yang sifatnya kriminal.

Berkurangnya sikap tenggang rasa, modifikasi dan perubahan seni budaya lokal, timbulnya perasaan eksploitasi pada masyarakat, pelecehan terhadap budaya lokal adalah beberapa dampak negatif sosial budaya dari keberadaan pariwisata.

Dari 16 jutaan turis asing yang masuk ke Indonesia setiap tahunnya, dengan minimnya filter di imigrasi, maka tidak sulit untuk mengatakan bahwa intelejen asing pun amat mudah keluar masuk di Indonesia. Padahal kita ketahui bersama bahwa intelijen adalah lini pertama dalam sistem keamanan nasional.

Tentu mereka memiliki maksud dan tujuannya masing-masing dengan kedok berbagai cara untuk mewakili kepentingan negara pengekspor.

Sebagian ada yang berkedok sebagai LSM, wartawan, pekerja asing, budayawan, tidak sedikit yang bahkan sudah puluhan tahun berdomisili di Indonesia.

Anggap saja dari semua aset intelijen asing yang ada di Indonesia, berapa orang yang sudah terdeteksi. Saya kok pesimis, jika BIN kita mengetahui 50%-nya. Coba kalikan saja jika jumlah intel asing itu adalah 10,000 orang. Ini belum jika kita memasukkan faktor WNI yang direkrut oleh asing lho ya!

Saya pribadi memiliki teman seorang warga negara Israel yang berdomisili di Ubud semenjak 1991, yang tanpa sengaja, ketahuan memiliki 8 paspor yang berbeda penerbit.

Namun, yang masih saya ingat dengan jelas adalah bahwa dia dikenal masyarakat lokal sebagai US citizen, pemerhati budaya dan praktisi pertanian organik.
Tapi saya yakin banyak orang tidak tahu, bahwa setiap setahun sekali dia masih harus ‘wajib lapor’ ke Israel, dengan transit melalui Singapura.

Intinya, bicara pariwisata itu jangan melulu hanya melihat faktor manfaat ekonominya saja. Kok ‘matre’ banget sih. Pariwisata kita pun tidak perlu dijual murah.

Pariwisata itu seyogianya diperlakukan seperti seorang Putri Kraton. Silakan kalian kagumi kecantikannya, betapa ayu dan anggunnya putri ini, betapa smart dan cerdas dia, namun jangan berpikir untuk macam-macam, para punggawanya akan siap menghunuskan keris untuk memburaikan isi perutmu.

Jangan kamu perlakukan seperti lonte di Saritem atau Sunan Kuning.

Bayar, pakai, tinggalkan… Itu sadis!