Identifikasi Service Blueprint di Desa Wisata Kebontunggul (Lembah Mbencirang), Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto

An article by Agung Yoga Asmoro (1), M. Nilzam Aly (2), and Handika Fikri Pratama (3)

(1) Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin (2) Prodi Bina Wisata, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga (3) Politeknik Pariwisata Palembang

Unduh di http://ejournal.polbeng.ac.id/index.php/IBP/article/view/1549

Abstract

This study aims to comprehend the actual conditions of business processes and to identify service blueprints in the Kebon Tunggul Tourism Village “Lembah Mbencirang” by analyzing their business activities and service flows to visitors. This research is community-based research (CBR) conducted using the Participatory Action Research (PAR) approach. It resulted in the findings that there were various internal problems related to management during 2017-2020, especially related to the accountability and transparency of budget management in addition to more fundamental issues regarding tourist attraction management, such as the absence of an organizational structure, no clear division of staff duties, and the nonappearance of a standardized service flow. We concluded that basically, the business processes in the Lembah Mbencirang can be grouped into two, the first is the package tour services, and the second is the general visitors’ services. As a tourism product which is essentially a service product, service blueprint is very significant as an effort to understand the service experience from the perspective of the customer, which in this context was not previously owned by the manager. The service blueprint generated from this study can identify the existence of various service processes so that all staff can cognize the context and conditions of their duties in a more holistic customer service perspective.

Keywords

service blueprint; rural tourism; lembah mbencirang; kebontunggul; mojokerto

https://doi.org/10.35314/inovbiz.v8i2.1549

Selamat ulang tahun mama

Tepat 65 tahun silam, tanggal 21 Juni 1954 ibuku dilahirkan di dunia ini. Seorang perempuan yang kemudian tumbuh dan besar menjadi seorang wanita multi talenta yang melahirkan dan membesarkanku serta memberikan makna cinta untuk pertama kalinya padaku.

Tidak pernah sedetikpun aku meragukan ketulusan cinta darinya untukku. Tidak kala ku masih dalam timangan, tidak pula saat ini. Saat dimana aku hanya terbujur di tempat tidur rumah sakit yang keras ini dengan selang-selang yang menempel pada tubuhku.

Dari dia lah aku mengenal tentang kepribadian seorang wanita. Tangguh, mandiri, bertanggung jawab, supportive. Yang mana ternyata merupakan hal yang langka ditemukan pada wanita-wanita jaman now. Atau mungkin saja karena aku yang ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita-wanita yang berbeda karakter dengan ibuku.

Yang pasti, di hari ulang tahunnya ini tidak ada tiupan lilin, tidak pula ada pemotongan kue, selametan potong tumpeng, pengajian dan kemudian membagi nasi berkat, dan lain sebagainya. Hanya ada aku dan dia, berdua menghabiskan waktu bersama. Aku di ranjang pasien, dan dia meringkuk di lantai beralaskan selimut tipis dengan niatan menemani anak lelaki satu-satunya yang divonis wajib rawat inap untuk kedua kalinya dalam bulan Juni ini saja.

Ya, total ini sudah malam ke 12 kuhabiskan bermalam di rumah sakit. Lebih banyak waktu kuhabiskan tidur di rumah sakit ketimbang di rumah untuk bulan ini.

Tidak banyak yang bisa ku ucapkan untuk mu mama, selain aku benar-benar mencintaimu, dan bersyukur kepada Allah ditakdirkan menjadi anakmu yang mengalami semua proses kehidupan ini dari awal hingga saat ini bersamamu. Semoga Allah memberimu surga-Nya untuk keluasan hatimu yang seluas samudera. Untuk kesabaranmu yang tak bertepi.

Sesat pikir?

Komunikasi itu sebuah topik yang kompleks. Tidak percaya? Di bangku kuliah saja dibuatkan satu fakultas yang khusus mempelajari ilmu ini, mulai dari S1 sampai S3 bahkan hingga post doctoral.

Ironisnya banyak yang menganggap komunikasi adalah hal yang sederhana dan hanya melihat dari sisi pragmatisnya saja. Kalau tidak “konek” ya udah. Lebih parah lagi, langsung menyalahkan pihak lain sebagai pihak yang tidak mampu berkomunikasi. Tidak berusaha mempelajari apa hal yang membuat tidak “konek”nya dan mengupayakan agar koneksi atau transmisi yang tidak baik itu berjalan ke arah yang lebih baik.

Padahal sudah jelas Bernard Barelson & Garry A. Steiner dalam bukunya Human Behaviour (1964:527) mendefinisikan bahwa ”Communication: the transmission of information, ideas, emotions, skills, etc. by the uses of symbol…” (komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi).

Karena luasnya cakupan pembahasan komunikasi, kali ini aku hanya akan mengulas tentang salah satu penyebab mengapa suatu komunikasi bisa berlangsung buruk. Dan salah satu penyebabnya menurutku adalah kesesatan berpikir atau yang istilah kerennya disebut dengan logical fallacy. Menurutku komunikasi yang ideal haruslah memenuhi prasyarat tertentu, dan hal ini berangkat dari apa yang ada di dalam pikiran kita. (emangnya ada aktivitas kita yang tidak berangkat dari pikiran?)

Logical fallacy atau kesalahan logika adalah suatu pemikiran yang tidak sesuai dengan logika dan termasuk dalam kategori sesat berpikir. Orang yang menyampaikan pernyataan yang mengandung logical fallacy dapat disebut sebagai orang yang pemikirannya tersesat atau ia sedang menyesatkan orang lain untuk tujuan tertentu.

Berdasarkan referensi yang aku baca, banyak pendapat tentang macam-macam kesesatan berpikir. Kali ini aku hanya akan menuliskan beberapa saja yang menurutku cukup relevan dengan kondisi yang sering kita temukan di sekitar kita.

Ad hominem (yang berarti “tertuju pada pribadi atau karakter seseorang”), sebenarnya merupakan singkatan dari argumentum ad hominem, ini adalah upaya untuk menyerang kebenaran suatu klaim dengan menunjuk sifat negatif orang yang mendukung klaim tersebut.

Jadi alih-alih, menyampaikan argumentasi atas gagasan sebuah pendapat, orang menyerang pribadi atau personal lawan bicaranya. Tentu dengan tindakan ad hominem ini si penyerang berharap orang tersebut kehilangan kredibilitas. Ini ibarat mengajak orang untuk tidak membaca sebuah novel yang berkualitas, karena si penulisnya adalah pecandu narkoba misalnya.

Anecdotal; yaitu fallacy yang menggunakan pengalaman pribadi atau suatu kasus khusus bukannya menggunakan argumen atau bukti yang teruji secara ilmiah. Fallacy ini biasanya digunakan untuk membantah data statistik. Contoh: Kalau kamu tidak mau pacarmu hamil, suruh pacarmu minum jus nanas! Teman-temanku yang minum jus nanas semuanya gak hamil! Dalam realitanya, tidak demikian.

Tu Quoque; yaitu fallacy yang argumennya menjawab kritikan dengan kritikan ketika seharusnya menjawab argumen lawan. Contoh: Tina memperingatkan Agus agar tidak lagi merokok karena sudah mengalami gejala kanker paru-paru. Agus menolak hal itu karena Tina juga seorang perokok. Agus dalam kasus ini sedang melakukan fallacy jenis ini.

False dichotomy, yaitu fallacy yang argumentasinya bersifat memberikan dua alternatif pilihan saja padahal sebenarnya ada pilihan lain. Contoh: Kalo kamu tidak mendukung Jokowi, kamu pasti pendukungnya Prabowo.
Padahal tidak mendukung Jokowi bisa jadi bukan karena mendukung Prabowo, tapi karena alasan yang lain.

Contoh lainnya: Kamu terlalu berteori, kamu pasti nggak bisa praktek. Padahal banyak berteori bukan berarti tidak bisa praktek. Banyak orang yang pandai berteori dan pandai dalam praktek, dan ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang membutuhkan keakuratan teori dan penguasaan praktek yang tinggi. Artinya teori dan praktek bukanlah hal yang berlawanan. Logical fallacy lah yang menjadikannya seakan-akan berlawanan.

Bulverism, yaitu fallacy yang argumennya berpola mempertanyakan niat lawan bicara.
Contoh: Kamu posting gambar itu di IG karena kamu ingin si dia (mantan) membacanya kan?

Ini merupakan pertanyaan dari seorang yang melakukan logical fallacy. Dalam menyikapi perbedaan pendapat, apakah kita bisa tahu secara pasti motif lawan bicara kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Sering kali mungkin kita sendiri yang berprasangka buruk. Siapa tahu itu hanyalah hasil egoisme kita yang tidak mau pendapat sendiri disalahkan.

Intinya, kita seyogianya menaruh prasangka baik pada lawan bicara kita. Biarkan bukti-bukti dan bukan prasangka kita yang menilai kebenaran pendapatnya. Soal niat apa yang tersembunyi dalam hati, biarkan itu jadi urusan pribadi masing-masing.

Fallacies of Relevance
Fallacies of relevance adalah tipe logical fallacy yang paling sering ditemui. Fallacy tipe ini memiliki pernyataan atau argumentasi yang tidak sesuai dengan konklusinya. Tipe fallacy ini seringkali digunakan orang yang senang “memaksakan” pernyataannya agar terlihat logis.

Ada tujuh fallacy tipe relevance ini, yaitu:

  1. The appeal to the populace
  2. The appeal to the emotion
  3. The red herring
  4. The straw man
  5. The attack on the person
  6. The appeal to force
  7. Missing the point (irrelevant conclusion).

1. The appeal to the populace (Argumentum ad Populum); adalah fallacy yang muncul karena konklusinya mengacu pada anggapan yang bersifat popular. Contoh: Semua perokok selalu diidentikan dengan pria yang jantan. Apabila ada seorang pria tidak merokok, menurut anggapan popular (umum), pria tersebut tidaklah jantan. Ini merupakan logical fallacy.

2. The appeal to the emotion (appeal to pity); adalah fallacy yang timbul dari argumentasi pemikiran yang bersifat mengasihani, bermurah hati, ketidaktegaan atau terkait dengan hati nurani. Cirinya adalah menggunakan manipulasi perasaan (emosi) seseorang dalam berargumen daripada membuat argumen yang logis. Contoh:
A : “Si Rani hamil di luar nikah dia MBA!”
B : “Tidak mungkin, Rani orang baik. Lihat saja dia sering mengaji dan bersedekah ke anak yatim.”
Dalam hal ini B melakukan logical fallacy dengan mengikutsertakan emosi dalam memberikan tanggapan atau argumentasinya.

3. The red herring; adalah fallacy yang mengalihkan perbincangan dari permasalahan utama. Tujuannya adalah untuk membingungkan orang atau untuk mengalihkan fokus orang lain.
Perhatikan contoh percakapan berikut ini:

Jenny: “Anak perempuan lebih pintar dari pada laki-laki.“
Bento : “Oooh yaaa… Bagaimana kamu tahu?“
Jenny: “Karena memang demikian adanya.“
Bento: “Tapi bagaimana kamu tahu?“
Jenny: “Ada banyak anak perempuan yang melakukan banyak hal. Tetanggaku, si Ratna juara 1 di kelasnya; Joan of Arc menyelamatkan Perancis dari Inggris; dan Madamme Curie adalah penemu.”
Bento: “Bagaimana kamu tahu bahwa mereka lebih pintar dari laki-laki?”
Jenny: “Karena ada banyak perempuan yang ber-IQ tinggi. Karena itu mereka pintar.”
Bento: “Kamu masih belum menjawab pertanyaan saya. Mengapa perempuan lebih pintar dari laki-laki?“
Jenny: “Yaaaa.. aku pintar dan kamu dungu. Itu buktinya!“

Jelas bahwa Jenny tidak menjawab pertanyaan sama sekali. Dia mengatakan hal-hal yang kedengarannya menjawab pertanyaan tetapi sebenarnya tidak sama sekali. Dia mencoba membuktikan bahwa perempuan lebih pintar daripada laki-laki. Namun akhirnya dia hanya menunjukkan bahwa beberapa perempuan memang pintar dan tidak menujukkan sama sekali berapa pintar laki-laki.

Ini tidak berarti Jenny mengatakan hal-hal yang tidak benar. Tetapi dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan “mengapa perempuan lebih pintar dari pada laki-laki?“ Kalau andaikata dia menjawab pertanyaan yang diajukan, dia dapat saja mengatakan:

Jenny: “Perempuan lebih pintar dari pada laki-laki karena terbukti bahwa IQ rata-rata perempuan lebih tinggi dari pada IQ rata-rata laki-laki.“

Saat berargumen sulit sekali untuk tidak merubah arah pembicaraan yaitu menjawab pertanyaan saat kita mengemukakan argumen. Sangat mudah mengintrodusir sesuatu yang tidak relevan dengan pembicaraan dalam argumen kita.

4. The straw man; adalah fallacy yang argumentasinya selalu menempatkan posisi “lawan” sebagai posisi yang ekstrim, mengancam, atau tidak masuk akal daripada kenyataan atau fakta yang sebenarnya terjadi. Cirinya adalah membuat interpretasi yang salah dari argumen orang lain agar lebih mudah diserang.

Contoh:
Silvi: “Gung, sudah dulu main hapenya. Akhir-akhir ini kamu terlalu sering main hape.”
Agung: “Jadi kamu ingin saya berhenti main komputer selamanya? Ingin saya terus-terusan belajar sampai stress gitu? Kamu jahat!”

Ucapan Agung merupakan logical fallacy dengan membuat interpretasi yang berbeda dengan makna pernyataan yang disampaikan oleh Silvi.

5. Argument against the person (Argumentum ad Hominem); adalah fallacy yang argumentasiya menyerang pihak (orang) tertentu yang sedang memegang peranan. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan citra pihak tertentu dengan argumentasi yang tidak didasari fakta yang jelas.

Contoh: Sarah berkata bahwa Jokowi harus jadi presiden Indonesia. Bob menjawab, “Apakah kita harus percaya dengan perkataan wanita yang sering gonta-ganti pacar, memiliki gaya rambut aneh, dan sering bangun kesiangan?”

Pertanyaan Bob di atas merupakan logical fallacy dengan berargumen yang mengaitkan pendapat Sarah dengan kepribadiannya.

6. The Appeal to Force (Argumentum ad Baculum); adalah fallacy yang argumentasinya dibekali oleh kepentingan tertentu. Kepentingan tersebut bisa berasal dari pihak-pihak yang memiliki kekuatan untuk “memaksa”.

Contoh pada pernyataan berikut.
Masyarakat memilih tokoh X karena tokoh X adalah sosok yang sempurna untuk dipilih dan beliau lah satu-satunya yang mampu membawa perubahan pada kota ini.

Argumen bahwa tokoh X merupakan sosok yang sempurna untuk dipilih dan merupakan satu-satunya yang mampu membawa perubahan pada kota ini, merupakan suatu pendapat yang dipaksakan untuk diterima atau untuk menggiring opini publik, bukan merupakan suatu alasan yang menjadi sebab yang sebenarnya. Karena itu argumen tersebut merupakan logical fallacy.

7. Missing the Point (Ignoratio Elenchi); adalah fallacy yang argumentasinya tidak terkonstruksi kuat, sehingga ketika ada bantahan dari argumentasi lain maka argumentasi awal menjadi lemah dan malah mendukung konklusi yang berbeda daripada mendukung argumentasi itu sendiri. Atau dengan kata lain premis-premis awal terbantahkan sehingga menghasilkan konklusi yang mengikuti alur argumentasi si pembantah.

Contoh: Sering terjadi ketika sidang skripsi atau tesis mahasiswa. Di mana banyak argumentasi-argumentasi dari mahasiswa yang berhasil dibelokkan oleh penguji dan akhirnya semua konklusi menjadi tidak ada esensinya.

Jika fenomena seperti ini terjadi, baik sang dosen mendebatnya secara benar ataupun secara fallacy juga, maka argumentasi dari mahasiswa tersebut mengandung kelemahan yang tidak dapat ia pertahankan sehingga akhirnya mahasiswa tersebut melakukan dalam logical fallacy dengan menerima kelemahan argumennya.

Mungkin Nanti

Musik tidak pernah lepas dari keseharianku.

No, aku bukan penyanyi. Mungkin jika menyanyi di depan layar laptop, atau di ruang karaoke, atau di kamar mandi dikategorikan sebagai seorang penyanyi, maka mau tidak mau aku pun ikhlas disebut seorang penyanyi.

Bagi aku dalam sebuah lagu terdiri dalam dua komponen inti yaitu melodi dan lirik. Aku tipe manusia yang condong pada pendengar melodi ketimbang mengagumi lirik. Aku menikmati vokal yang dialunkan sang vokalis, ketukan perkusi yang ada di latar belakang, bagaimana bunyi gitar yang dipetik, dan semua instrumen yang dimainkan aku perhatikan satu persatu, sambil mengagumi bagaimana beragam perbedaan itu bisa menjadi sebuah harmoni yang nikmat di telinga (jika lagu itu enak – tentu saja).

Eniwei, aku sudah satu bulan ini teramat sering mendengarkan satu lagu karya Ariel Noah. Ya, artis papan atas Indonesia yang itu, bukan yang lain.

Ini lagu lama yang dibuatkan lirik baru dalam versi Jepangnya dan diarrange ulang dengan manis, ringan dan nyaman di telinga dalam versi akustik, hingga hasil akhirnya bisa membuat rasa gelitikan kecil di hati.

Ini liriknya.

Moshimo mata itsuka

Hanashite okitainda
Kitto kore ga saigo sa
Subete tebanashite shimaou
Sore ga ima dato omounda

Kimi wa kawatte shimattandarou
Ai wa kiete shimattandarou

Moshimo mata itsuka bokura ga deau nara
Onegai dakara mou nanimo kikanai de
Kinou made koko ni atta kimi e no ai wa
Okizari ni shite kita kara

Kokoro ga shizunde
Kimi ga yume kara sametara
Omoidashite hoshiinda
Kimi to boku monogatari wo

Kimi wa kawatte shimattandarou
Ai wa kiete shimattandarou

Moshimo mata itsuka bokura ga deau nara
Onegai dakara mou nanimo kikanai de
Kinou made koko ni atta kimi e no ai wa
Okizari ni shite kita kara

Moshimo mata itsuka bokura ga deau nara
Onegai dakara mou nani mo kikanai de
Kinou made koko ni atta kimi e no ai wa
Okizari ni shite kita kara

Mou nani mo kikanaide
Mune ni shimaikonde
Subete no koukai to
Kimi ga kureta kono ai wo

Moshimo mata itsuka

Kalo lirik versi awalnya (Indo) sih begini:

Mungkin Nanti

Saatnya ku berkata mungkin yang terakhir kalinya
Sudahlah lepaskan semua kuyakin inilah waktunya
Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi
Mungkin saja rasa itu telah pergi

Dan mungkin bila nanti kita kan bertemu lagi
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
Rasa yang kutinggal mati
Seperti hari kemarin saat semua disini

Dan bila hatimu termenung bangun dari mimpi-mimpimu
Membuka hatimu yang dulu cerita saat bersamaku
Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi
Mungkin saja rasa itu telah pergi

Tak usah kau tanyakan lagi
Simpan untukmu sendiri
Semua sesal yang kau cari
Semua rasa yang kau beri

Mungkin Nanti

Jujur aku sih lebih suka sama versi Jepangnya, terasa lebih matang dan mature.

Nah, setelah membaca liriknya aku baru ngeh kalo ini lagu tentang cinta (patah hati) ya? 😂😂😂

The Power of Why by Simon Sinek

Why some organizations and some leaders are able to inspire where others aren’t.
Every single person, every single organization on the planet knows what they do, 100 percent. Some know how they do it, whether you call it your differentiated value proposition or your proprietary process or your USP.

But very few people or organizations know why they do what they do. And by “why” I don’t mean “to make a profit.” That’s a result. It’s always a result.
By “why,” I mean: What’s your purpose?
What’s your cause? What’s your belief?
Why does your organization exist?

Why do you get out of bed in the morning? And why should anyone care?
As a result, the way we think, we act, the way we communicate is from the outside in, it’s obvious. We go from the clearest thing to the fuzziest thing.

But the inspired leaders and the inspired organizations – regardless of their size, regardless of their industry – all think, act and communicate from the inside out.

People don’t buy what you do; they buy why you do it.

The goal is not to do business with everybody who needs what you have. The goal is to do business with people who believe what you believe.

Here’s the best part: It’s all grounded in the tenets of biology. Not psychology, biology.

If you look at a cross-section of the human brain, from the top down, the human brain is actually broken into three major components that correlate perfectly with the golden circle.

Our newest brain, our Homo sapien brain, our neocortex, corresponds with the “what” level. The neocortex is responsible for all of our rational and analytical thought and language.

The middle two sections make up our limbic brains, and our limbic brains are responsible for all of our feelings, like trust and loyalty. It’s also responsible for all human behavior, all decision-making, and it has no capacity for language.

In other words, when we communicate from the outside in, yes, people can understand vast amounts of complicated information like features and benefits and facts and figures. It just doesn’t drive behavior.

When we can communicate from the inside out, we’re talking directly to the part of the brain that controls behavior, and then we allow people to rationalize it with the tangible things we say and do. This is where gut decisions come from.

Sometimes you can give somebody all the facts and figures, and they say, “I know what all the facts and details say, but it just doesn’t feel right.”
Why would we use that verb, it doesn’t “feel” right?
Because the part of the brain that controls decision-making doesn’t control language.

The best we can muster up is, “I don’t know. It just doesn’t feel right.”
Or sometimes you say you’re leading with your heart or soul.

Those aren’t other body parts controlling your behavior. It’s all happening here in your limbic brain, the part of the brain that controls decision-making and not language.

But if you don’t know why you do what you do, and people respond to why you do what you do, then how will you ever get people to vote for you, or buy something from you, or, more importantly, be loyal and want to be a part of what it is that you do.

The goal is not just to sell to people who need what you have; the goal is to sell to people who believe what you believe. The goal is not just to hire people who need a job; it’s to hire people who believe what you believe.

If you hire people just because they can do a job, they’ll work for your money, but if they believe what you believe, they’ll work for you with blood and sweat and tears.

People don’t buy what you do; they buy why you do it.

If you talk about what you believe, you will attract those who believe what you believe. But why is it important to attract those who believe what you believe?

Something called the law of diffusion of innovation, if you don’t know the law, you know the terminology.

The first 2.5% of our population are our innovators. The next 13.5% of our population are our early adopters. The next 34% are your early majority, your late majority and your laggards. The only reason these people buy touch-tone phones is because you can’t buy rotary phones anymore.

We all sit at various places at various times on this scale, but what the law of diffusion of innovation tells us is that if you want mass-market success or mass-market acceptance of an idea, you cannot have it until you achieve this tipping point between 15 and 18 percent market penetration, and then the system tips.

I love asking businesses, “What’s your conversion on new business?”
They love to tell you, “It’s about 10 percent,” proudly. Well, you can trip over 10% of the customers.

We all have about 10% who just “get it.” That’s how we describe them, right?
That’s like that gut feeling, “Oh, they just get it.”

The problem is: How do you find the ones that get it before doing business versus the ones who don’t get it?

So it’s this here, this little gap that you have to close, as Jeffrey Moore calls it, “Crossing the Chasm” – because, you see, the early majority will not try something until someone else has tried it first.

And these guys, the innovators and the early adopters, they’re comfortable making those gut decisions. They’re more comfortable making those intuitive decisions that are driven by what they believe about the world and not just what product is available.

These are the people who stood in line for six hours to buy an iPhone when they first came out, when you could have bought one off the shelf the next week.

These are the people who spent 40,000 dollars on flat-screen TVs when they first came out, even though the technology was substandard. And they didn’t do it because the technology was so great; they did it for themselves.

It’s because they wanted to be first. People don’t buy what you do; they buy why you do it and what you do simply proves what you believe. In fact, people will do the things that prove what they believe.

The reason that person bought the iPhone in the first six hours, stood in line for six hours, was because of what they believed about the world, and how they wanted everybody to see them: they were first.

People don’t buy what you do; they buy why you do it, and what you do simply serves as the proof of what you believe.

Now let me give you a successful example of the law of diffusion of innovation.
In the summer of 1963, 250,000 people showed up on the mall in Washington to hear Dr. King speak. They sent out no invitations, and there was no website to check the date. How do you do that? Well, Dr. King wasn’t the only man in America who was a great orator. He wasn’t the only man in America who suffered in a pre-civil rights America. In fact, some of his ideas were bad. But he had a gift. He didn’t go around telling people what needed to change in America.

He went around and told people what he believed. “I believe, I believe, I believe,” he told people. And people who believed what he believed took his cause, and they made it their own, and they told people. And some of those people created structures to get the word out to even more people.

And lo and behold, 250,000 people showed up on the right day at the right time to hear him speak. How many of them showed up for him? Zero.
They showed up for themselves. It’s what they believed about America that got them to travel in a bus for eight hours to stand in the sun in Washington in the middle of August.

It’s what they believed, and it wasn’t about black versus white: 25% of the audience was white. Dr. King believed that there are two types of laws in this world: those that are made by a higher authority and those that are made by men. And not until all the laws that are made by men are consistent with the laws made by the higher authority will we live in a just world.

It just so happened that the Civil Rights Movement was the perfect thing to help him bring his cause to life. We followed, not for him, but for ourselves. By the way, he gave the “I have a dream” speech, not the “I have a plan” speech.

Listen to politicians now, with their comprehensive 12-point plans. They’re not inspiring anybody. Because there are leaders and there are those who lead.

Leaders hold a position of power or authority, but those who lead inspire us. Whether they’re individuals or organizations, we follow those who lead, not because we have to, but because we want to.

We follow those who lead, not for them, but for ourselves. And it’s those who start with “why” that have the ability to inspire those around them or find others who inspire them.