Identifikasi Service Blueprint di Desa Wisata Kebontunggul (Lembah Mbencirang), Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto

An article by Agung Yoga Asmoro (1), M. Nilzam Aly (2), and Handika Fikri Pratama (3)

(1) Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin (2) Prodi Bina Wisata, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga (3) Politeknik Pariwisata Palembang

Unduh di http://ejournal.polbeng.ac.id/index.php/IBP/article/view/1549

Abstract

This study aims to comprehend the actual conditions of business processes and to identify service blueprints in the Kebon Tunggul Tourism Village “Lembah Mbencirang” by analyzing their business activities and service flows to visitors. This research is community-based research (CBR) conducted using the Participatory Action Research (PAR) approach. It resulted in the findings that there were various internal problems related to management during 2017-2020, especially related to the accountability and transparency of budget management in addition to more fundamental issues regarding tourist attraction management, such as the absence of an organizational structure, no clear division of staff duties, and the nonappearance of a standardized service flow. We concluded that basically, the business processes in the Lembah Mbencirang can be grouped into two, the first is the package tour services, and the second is the general visitors’ services. As a tourism product which is essentially a service product, service blueprint is very significant as an effort to understand the service experience from the perspective of the customer, which in this context was not previously owned by the manager. The service blueprint generated from this study can identify the existence of various service processes so that all staff can cognize the context and conditions of their duties in a more holistic customer service perspective.

Keywords

service blueprint; rural tourism; lembah mbencirang; kebontunggul; mojokerto

https://doi.org/10.35314/inovbiz.v8i2.1549

Selamat ulang tahun mama

Tepat 65 tahun silam, tanggal 21 Juni 1954 ibuku dilahirkan di dunia ini. Seorang perempuan yang kemudian tumbuh dan besar menjadi seorang wanita multi talenta yang melahirkan dan membesarkanku serta memberikan makna cinta untuk pertama kalinya padaku.

Tidak pernah sedetikpun aku meragukan ketulusan cinta darinya untukku. Tidak kala ku masih dalam timangan, tidak pula saat ini. Saat dimana aku hanya terbujur di tempat tidur rumah sakit yang keras ini dengan selang-selang yang menempel pada tubuhku.

Dari dia lah aku mengenal tentang kepribadian seorang wanita. Tangguh, mandiri, bertanggung jawab, supportive. Yang mana ternyata merupakan hal yang langka ditemukan pada wanita-wanita jaman now. Atau mungkin saja karena aku yang ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita-wanita yang berbeda karakter dengan ibuku.

Yang pasti, di hari ulang tahunnya ini tidak ada tiupan lilin, tidak pula ada pemotongan kue, selametan potong tumpeng, pengajian dan kemudian membagi nasi berkat, dan lain sebagainya. Hanya ada aku dan dia, berdua menghabiskan waktu bersama. Aku di ranjang pasien, dan dia meringkuk di lantai beralaskan selimut tipis dengan niatan menemani anak lelaki satu-satunya yang divonis wajib rawat inap untuk kedua kalinya dalam bulan Juni ini saja.

Ya, total ini sudah malam ke 12 kuhabiskan bermalam di rumah sakit. Lebih banyak waktu kuhabiskan tidur di rumah sakit ketimbang di rumah untuk bulan ini.

Tidak banyak yang bisa ku ucapkan untuk mu mama, selain aku benar-benar mencintaimu, dan bersyukur kepada Allah ditakdirkan menjadi anakmu yang mengalami semua proses kehidupan ini dari awal hingga saat ini bersamamu. Semoga Allah memberimu surga-Nya untuk keluasan hatimu yang seluas samudera. Untuk kesabaranmu yang tak bertepi.