Kultus itu berwarna coklat

Secara kultural kita memang senang mengkultuskan sesuatu.

Tidak usah jauh-jauh untuk mencari contoh dari budaya kultus ini.

Dalam rumah tangga saja, berapa banyak orang tua yang merasa bahwa pendapatnya adalah kebenaran. Sampai-sampai mengebiri gagasan otentik dari anak.

Dalam dunia sekolah dan kampus, saya masih mudah menemukan fenomena guru dan dosen yang bila sudah menyandang gelar Professor atau Doktor diperlakukan bak ‘Dewa’ dan semua pendapatnya adalah semacam sabda yang tidak dapat diganggu gugat.

Dalam ruang lingkup sosial kemasyarakatan, tidak sulit kita temukan pemuka agama yang ‘playing God’, seolah kebenaran adalah miliknya. Dia lupa bahwa yang dia anggap kebenaran sebenarnya hanyalah penafsiran dia sendiri akan Kebenaran.

Kita tidak sadar, pada akhirnya pengkultusan itu membunuh nurani dan nalar.

Sekitar 2400 tahun silam, Socrates seorang filsuf besar Yunani pernah berucap bahwa “One thing only I know, and that is that I know nothing.” Atau yang kira-kira diterjemahkan bebas dengan “Satu hal yang saya tahu, bahwa saya tidak mengetahui apa-apa”.

Pernyataan dengan redaksi yang berbeda namun memiliki makna yang kurang lebih sama dapat kita temukan dalam hadist Qudsi berikut ini, “Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” diriwayatkan oleh Abu Dzar.

Dalam berbagai literatur, kita temukan bahwa manusia-manusia pilihan akan selalu menegasikan pengkultusan, namun mereka senantiasa tidak pelit untuk menunjukkan jalan menuju Kebenaran. Jalan Kebenaran melalui media nurani dan nalar.

Di jaman now, pengkultusan akan seseorang atau sesuatu sepertinya tidak akan segera hilang. Sosial media seolah menjadi altar ritual kultus ini.

Betapa artis, pejabat dan politisi begitu dipuja, didengar, dan diikuti terlepas pernyataannya benar atau salah, terlepas idenya sesuai dengan nurani atau gagasannya bisa diterima dengan nalar sehat.

Pemujaan ini bahkan didisain dengan sistematis melalui strategi digital marketing, trending topic, berita viral, search engine optimization, FB ads, Google ads, dan lain-lain agar ritual pengkultusan ini termaintain dengan baik.

Tanpa sadar para pengkultus telah menjadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya, dan para artis, pejabat, politisi telah menjadi firaun-firaun jaman modern.

Padahal… taiknya sama-sama tetap berwarna coklat kekuningan dan berbau busuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s