Al Ghazali dan Krisdayanti

Pak Dhe Mo sore ini sedang duduk santai di halaman belakang rumah sambil sesekali bergantian antara menyeruput kopi tubruk kegemarannya dan menyemburkan asap rokok kretek murahan.

Rokok ini dibelinya dari kios langganan milik Nyaéh Hamsatun, seorang nenek asal Bangkalan, Madura yang walau ber-KTP terbitan Republik Indonesia, namun lebih sering berbahasa jawa timuran dengan logat Madura yang kental.

Tangannya menggenggam gawai made in China yang super canggih, setidaknya untuk ukuran 2 tahun lalu. Satu-satunya alasan Pak Dhe Mo gemar duduk di halaman belakang rumah karena di lokasi ini lah dia bisa nebeng wifi milik Pak Misni tetangganya, gratisan.

Wajahnya serius, sesekali ‘nyureng’ dan kadang dia terlihat ‘manthuk-manthuk’ seolah sedang menyetujui gagasan seseorang.

Rupanya Pak Dhe Mo sedang membaca buku elektronik. Salah satu bukunya yang tersimpan rapi dalam koleksi Google Play Books. Koleksi bukunya yang tidak mungkin lecek, lungset, atau robek. Bahkan bisa diaksesnya dari manapun juga, selama ada gawai dan koneksi internet.

Dia cukup rajin untuk mengelompokkan buku-bukunya dalam ‘virtual shelf’ menurut kesamaan kategori buku. Ada agama, fiksi, filsafat, geopolitik, Islam, jurnal ilmiah, motivasi, pariwisata, dan lainnya.

Dalam bathinnya dia mantap, bahwa seharusnya sistem pendidikan dasar di Indonesia lebih menitik beratkan pada ilmu-ilmu
(1) Matematika;
(2) Logika;
(3) Fisika;
(4) Metafisika;
(5) Politik; dan
(6) Filsafat Moral.
Selain tentunya dilandasi ilmu dasar dari agama masing-masing.

Jika pendidikan dasar dirancang demikian, Pak Dhe Mo beranggapan situasi bangsa seperti saat ini tidak akan terjadi. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk mempercayai berita hoax, gossip tidak akan laku, dan format tayangan di stasiun TV nasional pasti tidak akan seperti yang sekarang berjalan.

Bahkan sampai-sampai urusan ‘dapur’ Krisdayanti & Raul Lemos yang memaki-maki Aurel Hermansyah (anak Krisdayanti dengan Anang) tidak akan menjadi berita nasional yang tampil di Kompas, Pikiran Rakyat, Okezone dan kawan-kawannya.

Setidaknya itu yang Pak Dhe Mo setujui usai kelar menuntaskan versi terjemah dari buku ‘Al Munqidh min al-Dalal’ karya dari tokoh besar Islam Al Ghazali, sekitar 4 tahun sebelum akhir hayatnya.

Buku tipis yang secara umum menceritakan proses perjalanan kehidupan Al Ghazali mulai dari penguasaan dan pemahaman dasar tentang ilmu agama, lalu masuk pada fase penjelajahan alam filsafat, dan berakhir pada perjalanan spiritual tasawuf.

Seorang tokoh besar Islam yang fenomenal, yang bahkan implikasi dari karyanya Tahafut al-Falasifah mengakibatkan tokoh Islam besar lainnya Ibnu Rushd (Averroes) dan pengikut Ibnu Sina (Avicenna) dipersekusi oleh penguasa. Walau Pak Dhe Mo yakin, bahwa bukan hal ini lah harapan dari Sang Hujjatul Islam.

Cukup lama Pak Dhe Mo termenung, sontak kaget mendengar suara cempreng Teh Denok istrinya dari dalam rumah.

“Pak Dheeee….”
“Krisdayanti dan Raul Lemos masuk di channelnya Deddy Corbuzier!”
“Udah nonton belum?”
“Eh… eh… Pak Dhe tau nggak kalo Krisdayanti itu sebenarnya cerai dengan Anang gara-gara hamil duluan!”

Jiaaampuuuut!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s